Satu bulan terakhir, media memberitakan secara terus menerus tentang DUGAAN kasus suap yang menimpa salah satu elite politik di negeri ini. Oke saya tidak akan membahas tentang kasus korupsi tersebut karena sudah banyak pihak yang telah membahasnya :-) saya mungkin hanya akan menyoroti satu hal yang sangat disayangkan yaitu mengenai sikap muslim lainnya dalam menanggapi kasus ini. Masih segar dalam ingatan saya, setelah kasus ini bergulir, ada beberapa pihak yang muncul di media dan ikut berbicara menanggapi kasus tersebut. Tanggapan tersebut tidak hanya bernilai positif, namun juga banyak muatan-muatan negatif yang dilontarkan. Padahal jika dilihat dari latar belakangnya yang sama-sama beragama Islam, seharusnya kasus yang sudah muncul ke permukaan jangan sampai dibuat semakin panas dan pada akhirnya seperti bom waktu yang meledak. Oke, saya berbicara disini atas dasar pendapat saya saja. Menurut saya sebagai seorang individu, jika saya melakukan kesalahan, saya akan dengan senang hati ditegur dan menerima kritikan tersebut. Hanya saja dengan cara yang menyenangkan tentunya. Setiap orang pasti senang ketika diingatkan secara pribadi, tidak di depan umum karena hal itu mungkin saja memiliki niat yang baik, namun justru dapat menyakiti pihak lain. Apalagi jika hal tersebut justru akan menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam itu sendiri.

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan tersebut berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya tersebut sehingga golongan tersebut kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS Al Hujurat : 9-10)

Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir dari ayat tersebut adalah:

Allah masih menganggap kedua golongan yang berselisih paham tersebut sebagai orang mikmin sekalipun mereka sedang berada dalam kondisi saling memerangi.  Yang ditetapkan dalam kitab shahih al Bukhari diambil dari sebuah hadist hasan

Dari Abu Bakrah ra. ia bercerita ” sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berkhutbah pada suatu hari di atas mimbar, sedang bersama beliau terdapat Hasan bin Ali ra. lalu sekali-sekali beliau melihat kepadanya dan kepada orang-orang pada kali lainnya seraya bersabda “Sesungguhnya putraku ini seorang sayyid. mudah-mudahan Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin (yang tengah bertikai)”

Dan Allah telah mendamaikan antara penduduk Syam dan penduduk Irak setelah mengalami masa peperangan yang panjang dan berbagai peristiwa yang mengerikan.

Dalam hadist shahih , dari Anas ra. bahwa rasulullah SAW bersabda : “Tolonglah saudaramu yang berbuat dzalim maupun yang terdzalimi” lalu kutanyakan “Ya rasulullah menolong orang yang terdzolimi itu aku dapat mengerti, lalu bagaimana aku menolong orang yang dzalim?” beliau menjawab “yaitu engkau mencegahnya dari perbuatan dzalim, dan itulah pertolonganmu untuknya.”

Bagaimana caranya mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru? adalah dengan berlaku adil.

1. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra. ia bercerita: “sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: ” Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di dunia , kelah berada di atas mimbar yang terbuat dari mutiara di hadapan Ar Rahman atas perbuatan adil yang telah dia lakukan di dunia.

2. diriwayatkan oleh nasa’i dan Muslim dari hadist Sufyan bin ‘unaiyah “Orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah pada hari kiamat berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya di sebelah kanan ‘Arsy, yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum, keluarga, dam semua yang berada di bawah kekuasaan mereka.”

Sesungguhnya setiap mikmiin adalah bersaudara. Mengapa demikian? mereka bersaudara karena disatukan oleh agama mereka yaitu Islam. Dalam hadist Shahih disebutkan

“Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

Banyak hadist lainnya yang menerangkan tentang persaudaraan. Ayat ini ditutup dengan perintah untuk bertakwa kepada Allah setelah menyelesaikan pertikaian saudaranya.

*diambil dari Tafsir Ibnu Katsir yang diterbitkan oleh Pusataka Imam Asy Syafi’i

Begitulah Allah mengajarkan kepada hambaNya agar senantiasa menjaga persaudaraan dengan melerai pihak=pihak yang bertikai secara adil agar tidak ada yang terdzalimi. Mungkin sebagai manusia terkadang masih sering mengedepankan egois dan keuntungan pribadi daripada harus mengalah dan mencoba melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain. wallahu a’lam bishowab :)

About these ads