Tidak terasa ramadhan sebentar lagi berakhir. Akankah ramadhan yang akan segera pergi ini menyisakan sebuah kebahagiaan ataukah kesedihan? Kebahagiaan untuk orang-orang yang sudah menyambutnya dengan baik, mengisinya dengan maksimal, dan bersiap melepasnya dengan tangis kerinduan namun menyisakan kebahagiaan. Kesedihan untuk orang-orang yang tidak ada persiapan sama sekali, tidak mengisinya dengan maksimal, dan membiarkannya berlalu begitu saja. Hanya sekedar share sesuatu, sebuah renungan tentang indikator kebahagiaan.

Kahlil Gibran pernah menulis dalam bukunya “lebih baik aku menjadi sebuah ilalang daripada menjadi sebuah harpa emas di dalam sebuah sebuah rumah megah dengan pemiliknya yang tak berjari dan anak-anaknya yang tuli.”
Apalah artinya ilalang jika dibandingkan dengan harpa emas yang mempunyai nilai begitu besar secara materiil, yang mempunyai tempat begitu istimewa, mempunyai kehormatan karena tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang, dan mempunyai keindahan yang tak terbayangkan. Namun ternyata hidup bukan hanya sesuatu yang bersangkutan dengan segala sesuatu yang bisa diukur. Menjadi ilalang ternyata lebih menghasilkan manfaat daripada menjadi harpa emas namun tidak ada yang dapat memperoleh menfaatnya. Itulah sebuah kebahagian. Ada yang semu namun ada yang hakiki. Namun kebanyakan orang lebih merasakan bahagia yang semu tanpa menyadari bahagia yang sebenarnya.
Ada 7 indikator bahagia menurut Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu

1. QALBUN SYAKIR = HATI YANG SELALU BERSYUKUR
Salah satu hal yang paling mudah untuk dilakukan tetapi sangat sering dilupakan adalah bersyukur. Jantung kita yang selalu setia berdegup mengedarkan darah ke seluruh tubuh, hati kita yang terjaga dalam kondisi keimanan, sel-sel darah merah kita yang normal dan bisa mengikat O2 untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Apakah pernah kita bersyukur untuk hal-hal kecil itu? selalu dan selalu kebanyakan manusia hanya bersyukur apabila mendapat apa yang dia inginkan namun lalai ketika Allah memberi apa yang dia butuhkan. Salah satu nasehat Rasulullah SAW apabila umatnya sedang ditimpa kesusahan adalah “Jika kita sedang dalam keadaan sulit, perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita.” Dengan begitu kita akan bersyukur dengan keadaan kita.
Allah berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim : 7)
Allah begitu Maha Pemurah ya? Kita hanya berucap syukur yang tidak berat sama sekali, balasannya adalah nikmat kita yang akan ditambah olehNya. Karena itu marilah kita bersyukur bersama-sama “alhamdulillahirabbil’alamin” ^_^

2. AL AZWAJU SHALIHAH = PASANGAN HIDUP YANG SHALIHAH
Hal ini pasti yang diidamkan oleh semua orang. Upz… nggak semua dink. Buktinya masih banyak orang yang lebih mementingkan materi atau paras wajah dalam mencari pasangan hidup :p
Jika kita seorang perempuan, tentu memiliki pasangan yang shaleh adalah sebuah impian. Karena dia bisa mengajak kita untuk selalu memperbaiki diri dari hari ke hari. Jika kita seorang laki-laki pasti akan sangat beruntung memiliki pasangan yang shalehah, karena dia akan membantu kita melahirkan para mujahid yang tangguh untuk melanjutkan perjuangan rasul dan sahabat serta para syuhada. Ali bin Abi Tholib menjawab ketika ditanya tentang pasangan hidup “Bila kupandangi dia, hilang segera duka dan lara.”
Roma Irama menyebutkan dalam salah satu syair lagunya “Hanya istri yang shalehah yang punya cinta sejati yang akan tetap setia dari hidup sampai mati bahkan sampai dihidupkan lagi.” Anas bin Malik meriwayatkan kalimat lembut Rasuullah tentang wanita ahli Syurga “tidakkah kalian mau kuberitahu tentang wanita ahli syurga?” kami menjawab “mau ya rasulullah.” Beliau bersabda “ setiap istri yang wadud (penuh cinta) dan walud (subur). Apabila dia membuat marah suami atau menyakiti hatinya atau suami marah kepadanya, ia berkata, “inilah tanganku berada ditanganmu”. Aku sungguh tidah bisa menikmati tidur atau beristirahat sehingga engkau ridha kembali.
Dan satu mahfudhot yang selalu saya ingat “Addunya mataa’un wa khoiru mataa’un almar’atus sholihah.”
Semoga kita bisa belajar dan terus belajar untuk menjadi sholeh dan sholehah sehingga dapat menyenangkan hati suami dan memperoleh pasangan yang sepadan juga dengan kita allahumma amiiiin ^_^ sebenarnya masih banyak pembahasan mengenai hal ini, tapi kalau dibahas terlalu banyak takutnya malah membayangkan yang tidak-tidak mengingat ini adalah bulan puasa hahaa :p (curcol)

3. AL AULADUN ABRAR = ANAK YANG SHOLEH
Jika ada sebuah pertanyaan sudahkah kita menjadi anak yang sholeh? Sebelum menjawab, bacalah dulu kisah berikut:
Saat Rasulullah SAW sedang thawaf, beliau bertemu dengan seorang pemuda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepadanya “Kenapa pundakmu itu?” pemuda itu menjawab “ya rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur, saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika shalat, atau ketika beristirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya.” Lalu pemuda itu kembali bertanya “ya rasulullah apakah aku masuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?” nabi SAW menjawab “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang sholeh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orang tuamu tidak akan terbalaskan olehmu.”
Waw… luar biasa ya?? Jadi wajar kalau ada istilah kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang galah. Perbandingannya begitu panjaaaaaang. Menjadi anak yang sholeh adalah satu satu cara kita untuk membalas jasa orang tua kita, yang sudah menjadikan kita seorang muslim karena sesungguhnya semua anak lahir dalam keadaan yang sama. Hanya orang tua merekalah yang menjadikan mereka muslim, yahui, atau nasrani.
Anak yang sholeh adalah salah satu investasi terbesar orang tuanya bahkan sampai ketika mereka telah wafat karena salah satu pahala yang terus mengalir bahkan sampai anak adam wafat adalah anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Subhanallah…. tentu kita juga ingin memiliki naak sholeh seperti itu. Tapi…. bagaimana kita bisa mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh kalau kita sendiri tidak belajar bagaimana caranya menjadi anak sholeh? Mumpung sedang liburan, mumpung sedang berada dekat dengan orang tua nih, ayo kita berusaha semaksimal mungkin untuk berbakti kepada mereka selagi waktu masih mendukung kita, yuk berusaha untuk belajar menjadi anak yang sholeh ^__^

4.ALBIATU SHOLIHAH = LINGKUNGAN YANG KONDUSIF UNTUK IMAN
Ini sebuah pengalaman yang saya rasakan sendiri. Sangat jauh berbeda lingkungan ketika saya MA di pondok pesantren dengan lingkungan di perkuliahan. Of course jelas sangat berbeda. Ketika di MA dulu, selalu ada yang mengingatkan untuk sholat berjamaah tepat waktu di masjid, selalu ada yang memotivasi untuk menghafal dan murojaah alquran, selalu ada yang membuat iri untuk berfastabikhul khoirat. Lingkungan yang ada melatih saya untuk selalu mengingat Allah. Banyak nasehat-nasehat yang sering disampaikan setiap harinya, banyak pengalaman spiritual yang menyertai setiap waktunya.
Namun ketika kuliah? Walaupun saya sudah berusaha mencari lingkungan yang hampir mirip dengan lingkungan pesantren namun tetap saja tantangan yang ada jauh lebih besar. kenapa begitu? Karena kita langsung dihadapkan dengan berbagaimacam komunitas yang sangat beragam. Berkali-kali diperingatkan di pondok pesantren untuk mempersiapkan iman ketika kita akan keluar dari ponpes, dan waktu itu saya tidak menanggapinya secara serius, karena saya pikir semua tergantung pribadi masing-masing. Namun ternyara pribadi saja tidka cukup. Memang lingkunganlah yang memerankan peran paling penting dalam membentuk kualitas pribadi seseorang.
Saya merasakan sebuah kebenaran dari pepatah “bertemanlah dengan penjual minyak wangi, maka kamu akan tertular wangi harumnya.” Untuk mendapatkan lingkungan yang kondusif juga tidaklah mudah. Butuh kecermatan dalam memilihnya. Mungkin dalam beberapa kasus, lingkungan yang kita rasa kondusif itu ternyata malah membuat kita kecewa, membuat kita sakit hati, dan lain sebagainya. Jangan mundur kawan, jangan melihatnya secara tersurat namun cobalah lihat dibalik itu. Allah selalu punya rahasia atas apa yang orang lain perlakukan terhadap kita. Pandai-pandailah mencari makna dan selalu berkhusnudzonlah kepada Allah dengan setiap peristiwa yang kita dapat. Allah tidak akan menyakiti hambaNya kok ^_____^

5. ALMALUL HALAL = HARTA YANG HALAL
Islam mengatur tentang harta bukan dari banyaknya harta melainkan kehalalan harta itu. Harta yang halal tentu didapat dengan cara yang halal pula. Dan yang perlu diingat adalah di dalam harta yang kita punya, ada 2,5 persen yang bukan merupakan hak kita yang apabila lita memkannya, itu merupakan sesuatu yang haram
Allah ta’ala berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (QS. Annisa:10)
6. TAFAKUH FI DIN = SEMANGAT UNTUK MEMAHAMI AGAMA
Orang yang tidak memahami ilmu dunia, ia bagaikan orang yang lumpuh. Tetapi yang tidak memahami ilmu agama, dia bagaikan orang yang buta.
Tentu kita tidak mengharapkan untuk menjadi orang yang lumpuh ataupun buta. Karena itu harus kita sejajarkan antara kedua ilmu tersebut. ilmu dunia tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya ilmu tentang agama. Seperti contohnya saja penemu bola lampu Thomas Alfa Edison. Dia begitu menguasa ilmu dunia tentang lampu dan listrik, namun dia tidak menguasai ilmu agama. Maka manfaat dari ilmunya itu hanya dapat dia rasakan di dunia, tidak dia rasakan di akhirat.
Tafakuh artinya semangat yang membara yang tidak akan pernah padam. Hanya maut yang dapat memadamkannya. Kembali teringat kata-kata kepala sekolah MA tentang tafakuh fi din. Selalu ketika apel, kami anak didiknya diminta untuk bertafakuh fi din. Tidak terbatas dimana tempat kami berada karena ayat-ayat Allah begitu luas. Bukan hanya ayat qauliyah tetapi juga ayat kauniyah Allah.
7. UMUR YANG BAROKAH
Barokah identik dengan optimalisasi manfaat. Ilmu yang barokah adalah ilmu yang manfaatnya dirasakan dirinya dan orang di sekitarnya. Harta yang barokah adalah harta yang manfaatnya dirasakan oleh dirinya dan orang-orang di sekitarnya, demikian juga dengan umur yang barakah adalah umur yang digunakan secara efektif dan efisien, dna bermanfaat bagi pemiliknya dan ornag di sekitarnya. Seseorang yang mengisi usia hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, yakinlah bahwa hari tuanya akan diisi dengan banyak nostalgia masa mudanya, dia pun akan kecewa dengan ketuaannya. Gejala ini yang biasa disebut dengan post-power-syndrome.
Namun seseorang yang sudah mempersipkan masa tuanya sedari muda, dia akan semakin hikmat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan tidak ada rasa takut darinya untuk meninggalkan dunia ini. Justru hal itulah yang ditunggunya untuk menuju ke kehidupan yang lebih kekal dan bahagia yang sebenarnya.
Referensi: Rif’an, Ahmad Rifa’i.2010. Izrail Bilang ini Ramadhan Terakhirku.Jakarta: republika.
Riyadus sholihin jilid 1 dan 2

Iklan