hujan

hujan

Hujan, mungkin buatmu hanya sekedar jutaan jarum air yang turun dari langit, akan menyakitkan begitu mengenai kulit wajahmu, membuat badanmu menggigil lalu menjadikannya alasan untuk malas bergeming dari balik selimut. Buat kamu sebagian yang lain, hujan adalah sebuah momen spesial yang penuh kehangatan keluarga karena saat dia datang, seluruh keluarga berkumpul untuk saling bercerita, menunggunya, hingga dia kembali mereda.

First Story
“Woi… ngapain bengong?” batang 98 menyenggolku kasar bersama tiupan angin yang cukup kencang. Aku mendelik menatapnya, seenaknya saja dia memanfaatkan angin untuk menyenggolku cukup keras, untung akarku kuat menancap, kalau tidak robohlah aku.
“Siapa yang bengong? Aku hanya sedang merenung.” Jawabku membenarkan posisi.
“Bengong dan merenung itu beda. Kalau merenung, kau punya hasil yang nyata dari renunganmu itu, tapi kalau bengong, kau hanya menghabiskan waktumu saja. Lihatlah batang-batang yang lain, mereka dengan gembira memainkan musik alam. Saling berpegangan, saling bergesekan, merdukan? Tak kalah merdunya dengan lantunan seruling penggembala kambing itu.” Batang 98 masih menggangguku.

Aku tak peduli. Acuh. Asyik melanjutkan renunganku.
Kami adalah tanaman padi siap panen di sebuah daerah bernama Gunung Kidul. Karena orang menyebut kami semua sama (baca: tanaman padi). Karenanya kami memakai urutan untuk saling memanggil. Aku adalah batang 99. Sebuah nama yang sangat aku suka karena angka itu adalah spesial, sang Pencipta Alampun punya 99 nama yang setiap hari didendangkan oleh para Malaikat.

“Pak Parjo… nuwun sewu, ngapunten sanget kulo bade ngampil arto dateng penjenengan menawi wonten.” Seorang petani menyapa si penanamku.
“Badhe dingge menopo nggih pak?” jawab penanamku.
“Putro kulo ingkang bontot mriyang, amargi musim kemarau ingkang berkepanjangan akhire kulo dereng saged panen. Dereng angsal arto.” Kata sang penyapa.
“Ngapunten sanget pak Arjo, bilih kulo mboten gadah arto. Nasibe mirip kalih panjenengan. Pari-pari setengah mateng niki ingkang kulo tunggu lan kulo arepaken saged maringi tambahan rezeki.” Jawab si penanamku dengan penuh penyesalan.

Bukan sekali ini saja, kemarin seorang anak hampir meninggal dunia karena kekurangan makanan. Beberapa waktu yang lalu, 5 hektar sawah habis terbakar karena sengatan matahari yang sangat dasyat. Di ujung sana, puluhan kilometer orang rela mengantri hanya demi satu dirigen air. Ya Rabb kenapa hujan tak jua datang? aku lirik butiran di badanku, baru setengah matang. Belum bisa digunakan untuk mengobati rasa lapar, belum cukup umur untuk bisa menambah rezeki si penanamku. Aku menengadah. Langit tak kunjung menggelap. Mendung tak kunjung menyapa.

“Ya rabb, kuatkan akarku untuk bisa bertahan di tengah tanah yang semakin keras ini. Ya rabb, bimbing batangku untuk bisa menghemat air. Hingga butir-butir yang menggantung ini tak lagi hanya sekedar biji. Namun dia bisa memberikan arti. Ya Rabb sampaikan kepada saat itu. Amiiin ” ku telungkupkan daun yang menjuntai di samping kanan dan kiriku.

”Karena air hujan sangat dirindukan…”

﴾ Al Baqarah:22 ﴿
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui

***
Second Story

Suara mesin menderu. Bersahut-sahutan. Menggema di dinding perbukitan. Wajah-wajah tanpa dosa asyik mengerjakan tugasnya. Hanya demi sesuap nasi untuk keluarganya yang menunggu di rumah, walau hati mereka menentang. Seorang pria berkumis lebat memantau dari gubuk tinggi yang disebutnya menara pengawasan. Tersenyum licik dengan sesekali anggukan. “Kerja bagus.” Katanya.
Satu persatu pohon di Cagar Alam Gunung Leuser mulai tumbang. Dipangkas oleh keserakahan manusia. Pohon yang lain bersiap, meringis, namun tak bisa menangis. Hanya bisa menghitung langkah-langkah sang pemangkas yang akan mempertemukan mereka dengan sebuah waktu yang bernama kematian.

“Rabbi, kenapa Engkau biarkan kami mengakhiri hidup dengan cara seperti ini? kami masih ingin menjadi bagian dari paru-paru dunia. Betapa sangat bahagianya melihat makhlukMu yang lain bisa bernafas karena oksigen yang kami produksi. Rabbi, betapa kami sangat membenci mereka, makhlukMu yang bernama manusia serakah, tak tahu diri, tak tahu balas budi. Namun jangan biarkan kami untuk mencaci. Kami yakin Engkau punya rencana di atas langitMu.” Sebatang pohon Jati meratap. Curhat kepada penciptanya.

Matahari mulai menuju ke peraduannya. Menyemburatkan cahaya jingga di ufuk barat. Membuat para pemangkas berjajar menanti eksekusi sang komandan.
“Kenapa kamu tidak mencapai target hari ini?” kata komandan kepada salah satu pemangkas.
“Maaf komandan. Saya kurang enak badan.” Jawab sang pemangkas. Sebenarnya bukan itu alasannya. Perang di batinnyalah yang membuatnya tidak tega membabat habis seluruh pepohonan. Namun dia masih punya keluarga untuk dihidupinya.

“Kalau begitu kamu hanya mendapat upah separuh. Aku kasih tahu ya, kenapa harus pusing memikirkan akibat dari pekerjaanmu itu? Masih banyak orang di luar sana yang peduli. Paling juga beberapa hari lagi ada orang-orang yang mengaku “aktifis lingkungan” datang dan kembali menanam pohon disini. Jadi nggak usah khawatir hutan ini bakal gundul. Bukankah Tuhan menciptakan hutan untuk kita manfaatkan?” kata sang komandan.

Pohon jati yang mendengarnya hanya menyeringai. Menggoyangkan dahan-dahannya hingga daun-daun kuningnya berguguran. Manusia serakah itu masih mencoba berbicara atas nama konsep Tuhan? Dasar tidak punya malu.

Tidak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Menerjang apa yang ada tanpa ampun. Membawa aliran dasyat dari puncak bukit. Tak ada penahan, karena pohon-pohon sudah tumbang. Si pohon jati kuat bertahan. Dalam sekejap, 200 nyawa melayang terbang bersama derasnya air hujan yang tak kunjung reda. Ini hanya sedikit teguran Tuhan. Hanya sedikit.

“Karena hujan tak pantas disalahkan”
﴾ Al An’am:6 ﴿
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain

rintik hujan

rintik hujan