ukhwah


Nada di ponsel berdering, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Nayla segera membukanya, isi sms itu
“Assalamu’alaikum ukhti, lg sbuk g skrg? Bs minta tolong jemput d ujung jln? Aq baru turun dr bus n udh g ada angkot.”
Tanpa ragu Nayla langsung menjawab
“Wa’alaikumussalaam. Insya Allah. Wait for me y 😀

Atau cerita ini

“Maaf, aku boleh pinjam uang kamu dulu nggak? Insya Allah minggu depan aku balikin.” Kata seseorang kepada temannya.
Sang teman melihat 2 lembar uang lima puluh ribuan di dalam dompetnya. Hanya tersisa itu. Sementara hari yang dilaluinya masih berjumlah 7. Jika dia memberikan satu lembar kepada temannya, apa mungkin dia bisa bertahan dengan uang lima puluh ribu satu minggu? Iya kalau sang teman langsung mengembalikannya begitu minggu depan tiba, kalau tidak bagaimana? Aish perhitungan amat. Akhirnya diserahkannya satu lembar uang itu kepada temannya.
“Maaf ya, tapi kamu masih ada uangkan?” kata temannya merasa tidak enak hati.
“Insya Allah, selalu ada rezeki dari Allah yang tidak disangka-sangka.” Dia tersenyum, membuat hati temannya kembali nyaman

Siapa mereka? Saudara? Bukan. Ibu dan anak? Bukan juga. Kakak adik? Bukan juga. Lantas siapa mereka yang bisa dengan mudahnya mendahulukan orang lain yang bukan siapa-siapanya? Bahkan mereka tidak panjang lebar memikirkan diri sendiri ketika ada orang lain yang datang membutuhkan pertolongan mereka. Mengapa mereka begitu? Apa yang sudah Allah berikan kepada mereka sehingga mereka bisa berbuat demikian?
Subhanallah… alangkah indahnya jika kita bisa diberi kesempatan untuk merasakan hal seperti itu. Itulah ukhwah.

Menurut Dr. M. Quraish Shihab, MA
Ukhuwah (ukhuwwah) yang biasa diartikan sebagai
“persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya
berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa
persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang
merasa bersaudara.

Hal ini bisa saja diartikan kalau ukhwah itu seharusnya memberikan perhatian kepada saudaranya dalam hal apapun. Eits tapi jangan terlalu berlebihan juga karena tidak semua orang suka diperhatikan. Perhatian yang berlebihan gimana? Misalnya nih tiap jam makan sms “hai say udah makan belum?” capek deh… kalau kayak gitu caranya kenapa nggak menjelma jadi alarm berbentuk burung pelatuk aja sekalian. Cukup dengan peka ketika orang di sekitar kita tidak berlaku seperti biasa. Kalau biasanya ceria tiba-tiba murung. Ada apa ya??atau kalau yang biasanya murung jadi ceria. Kalau yang itu alhamdulillah donk. Oh iya 1 lagi hampir lupa. Konteksnya adalah kepada sesama jenis (ikhwan-ikhwan, akhwat-akhwat). Soalnya kalau trans gender nanti bisa bahaya :p

“Ada tujuh orang yang dilindungi Allah di bawah lindungan-Nya pada hari tidak ada lindungan kecuali lindungan-Nya:
1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang besar dalam ibadah kepada Allah ta’ala
3. Orang yang hatinya menyatu dengan masjid
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karenaNya dan berpisah karena-Nya
5. Orang yang menyendiri dzikir kepada Allah kemudian mengucurkan air matanya
6. Orang yang diajak oleh wanita yang berketurunan baik dan cantik kemudian dia berkata “aku takut kepada Allah ta’ala
7. Orang yang bersedekah dengan sedekah kemudian ia merahasiakannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa-apa yang diinfakkan tangan kanannya (diriwayatkan oleh Al-Bukhari)”

Hak-hak persaudaraan
1. Membantu dengan dana
2. Masing-masing dari dua orang yang bersaudara harus membantu saudaranya dalam memenuhi kebutuhannya
3. Menjaga lisan dengan tidak membeberkan aib saudaranya
4. Memberi sesuatu yang dicintai saudaranya dari lisannya dengan memanggilnya dengan nama yang paling dia sukai
5. Memaafkan kesalahannya
6. Menguatkan dan mempertahankan perjanjiannya
7. Tidak meminta tolong kepada saudaranya dengan sesuatu yang tidak mampu dia kerjakan, dan tidak dia senangi
8. Mendoakan saudaranya, keluarganya, dan apa saja yang terkait dengannya

Terkait dengan ukhwah biasanya ada istilah yang menyertai bernama itsar. Itsar adalah mendahuluakan kepentingan saudaranya diatas kepentingan dirinya sendiri. Tapi konsep itsar ini tidak untuk kaitannya dengan ibadah lho ya. Karena kalau dalam ibadah yang ada adalah konsep fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) bukan konsep itsar. Jadi kalau nikah itu ibadah, jangan pake mendahulukan sahabatnya tapi mendahulukan diri sendiri. (lho? Menasehati diri sendiri). Kalau sudah mampu.

Ada sebuah cerita tentang itsar. Memang bukan cerita dari para sahabat karena sudah pasti kalau mereka tidak usah ditanyakan lagi mengenai itsar. So pasti keren banget. Yang ini cerita yang terjadi tahun 2010 kemarin. Belum lama. Masih ingat berita tentang para penambang Chili yang terperangkap di salah satu pertambangan? Dimana satu persatu akhirnya bisa diselamatkan. Bukan masalah bisa diselamatkannya namun yang menjadi masalah adalah betapa berjiwa besarnya seseorang yang memutuskan untuk menjadi orang terakhir yang diselamatkan. Memberi kesempatan kepada saudara-saudaranya terlebih dahulu untuk diselamatkan bukan pilihan yang mudah, karena apa saja bisa terjadi selama proses evakuasi itu. Sangat mungkin ada longsor susulan yang bisa menutup jalur kapsul penyelamat ketika proses itu belum selesei. Atau kemungkinan buruk lainnya yang akan terjadi. Namun akhirnya dia berhasil menepis semua kemungkinan buruk itu dan percaya bahwa dia akan selamat walaupun menjadi orang terakhir yang diangkat. Dia adalah Luiz Urzua (54 tahun)

“Butuh kebesaran jiwa yang tinggi untuk menjadi orang terakhir yang diselamatkan.”

Atau kisah para sahabat dalam perang Yarmuk dimana ketika ada salah satu yang membutuhkan minum kemudian dia mendengar sahabat lainnya merintih kehausan maka dia meminta sang pemberi minum untuk mendahulukan sahabat kedua. Begitu sahabat kedua hendak minum dan mendengar sahabat lainnya merintih kehausan, dia mendahulukan sahabat yang ketiga begitu seterusnya hingga akhirnya semua meninggal tanpa merasakan seteguk airpun.

Subhanallah ya alangkah indah kalau ukhwah itu terus kita pupuk sehingga menjadi bertambah subur di dalam kehidupan kita.

Dedikasi untuk sahabat pertamaku sebuah “lingkaran” Ratih, Firda, Ami, Hasnah, Dwi, Yoland, Siwi

Iklan