Selalu ada cerita yang konyol antara aku dan stasiun Senen di Jakarta. Yang menjadi penyebab utamanya sebenarnya adalah temanku, sebut saja namanya Mawar (bukan nama sebenarnya)Entah bagaimana caranya si Mawar selalu menyambungkan benang merah antara kekonyolan, aku, dan Stasiun Senen.

TAKE ADEGAN ALA FILM-FILM BOLLYWOOD
Tangan panjang jarum jam di dinding menunjuk tepat ke angka 12, berjarak 120 derajat darinya, tangan pendek mister timer nangkring di angka 8.
“keretanya jam berapa mba? ini sudah jam 8 lho biasanya jalanan macet.” ibu Mawar tak henti-henti mengingatkan
“Iya ibu, ini masih nungguin mamas. Kalau mamas nggak janji nganterin juga kita udah berangkat dari tadi.” jawab si Mawar menghibur kegelisahan sang ibu yang takut putrinya ketinggalan kereta

20 menit kemudian si pemberi janji datang. Dengan penuh permintaan maaf dia langsung bergegas membantu sang adik membereskan barangnya. Yang namanya hidup di Jakarta dengan deretan rumah-rumah minimalis tanpa halaman yang bisa dibuat garasi dan jalan memadai yang bisa dilalui mobil (jangankan garasi mobil, buat nanam pohon cabe aja nggak ada tempatnya) Akhirnya harus memanfaatkan jasa parkir mobil di tempat parkir umum. Hal itu seperti main kuis tebak-tebak berhadiah. kadang posisi mobil gampang untuk dikeluarkan. Sialnya malam ini Terios hitam milik ayah Mawar berada dalam posisi yang sangat sulit. Maju nabrak, mundur juga nabrak. Tapi harus aku akui kakak temanku ini memang Te-O-Pe Be-ge-te.Dengan posisi yang sulit seperti itu saja dia berhasil membebaskan si Terios dari himpitan mobil-mobil mewah lainnya tanpa menggores yang lain.

Jam 20.45 akhirnya lett go dari Buaran ke Stasiun Senen
“Lo naik di senen? gue pikir di Jatinegara.” mamas mawar berujar
“Kan gue udah ngasih tau sebelumnya.” Mawar menahan sedikit kejengkelan
“Sori-sori gue pikir di Jatinegara jadinya gue santai-santai tadi. Eh lo kan anak rohis, sholehah kan lo? mending sekarang lo berdoa agar bisa menghentikan waktu 15 menit aja. Gue yakin bisa sampai stasiun tepat waktu.”
“Lo pikir gue dukun? punya mantra-mantra kayak gitu?”
“Gue kan bilangnya doa, bukan mantra.” si mamas masih membela diri.

Kejadian selanjutnya adalah kakak temanku berusaha mengalahkan semua penghuni jalan agar dia bisa cepat sampai di stasiun. Sempat membuat kericuhan karena banyak penghuni jalan yang berpikiran sama dengannya alias tidak mau mengalah. Yang ada bunyi klakson terdengar dimana-mana

“Hati-hati mas.” kata ibu yang duduk tegang di samping kakak temanku. Tegang bukan karena tingkah anaknya yang menyopir alakadarnya. Tapi tegang karena takut putrinya dan teman putrinya yang cantik ini ketinggalan kereta. :-p
“Dia gila gue juga gila. Gini nih hasilnya sama-sama gila.” Kata Kakak mawar.

Mendekati lokasi stasiun, lonceng pemberangkatan sudah berkumandang nyaring. Semakin membuat gugup aku dan Mawar. Untung pada waktu itu sang kakak punya inisiatif untuk tidak menurunkan kami di depan stasiun melainkan di depan pintu gerbang kereta api yang hanya dibuka ketika ada kereta yang hendak parkir atau berangkat.

“Lo masuk nggak usah lewat peron. Langsung aja naik lewat lokomotif masinis. Kalau udah nggak kekejar ya nasib.” Kata sang kakak mengajarkan pengalamannya ketika mahasiswa. Biasa jadi tukang kejar kereta kali ya.

Dengan patuh aku dan mawar menerobos gerbang kereta api. Tidak mempedulikan si penjaga untuk kemudian menerabas jalan berkerikil di samping kanan kiri rel dan sambil berjingkat-jingkat melambaikan tangan berteriak.
“Pak masinis tungguin.”
berharap masinis sudi menunda keberangkatan kereta 10 detik saja karena kami yakin cuma butuh waktu 10 detik untuk bisa sampai di pintu sang masinis.
“Woi apa-apaan kalian.” Kata sang masinis dari lokomotifnya.
“Pak bukain. Kita mau naik.” ujarku sambil mengetuk pintu lokomotif dengan sekuat tenaga.”
“Jangan lewat sini. lewat pintu sebelah.”

Mawar naik terlebih dahulu ke atas gerbong dan baru saja aku menginjakkan kedua kakiku dan pintu gerbongpun belum tertutup dengan sempurna, sang masinis sudah mempunyikan peluit kereta panjang yang memekakkan telinga. Selamat…setidaknya sudah masuk ke dalam gerbong.

Kalau ada sutradara yang memakai adegan itu, pasti akan menggunakan efek slow motion dengan iring-iringan lagu sendu. Adegan yang terjadi berikutnya adalah kami menjadi bahan tontonan ketika harus melewati catwalk satu persatu menuju gerbong nomor 6 sesuai dengan yang tertera di karcis. Dijamin saat itu pedagang asongan manapun kalah telak dengan kami. Mungkin dalam pikiran orang-orang “ini bocah berdua darimana, kereta sudah jalan tiba-tiba keluar dari lokomotif masinis. Sembunyi di sana kali ya.”πŸ˜›

Take Adegan Mupeng Tapi Nggak Punya Uang
Kedua kalinya aku pergi ke Jakarta dan harus kembali ke Semarang dengan menggunakan kereta api “ekonomi” dimana itu artinya aku harus bertemu dengan Stasiun Senen (lagi) haaaaa mungkin memang aku berjodoh dengan itu stasiun. Nggak apalah sekalian aku tengok apa kabar mas-mas preman disana, apa sudah bertaubat atau masih bandel?πŸ˜›

Kali ini ceritanya lain… bukan soal keterlambatan tapi kecepetan. Kembali membawa serta ibu mawar untuk masuk di cerita ini. Maap ya bu^^’ hehe. Takut putrinya dan sahabat putrinya yang cantik ketinggalan kereta, akhirnya ibu Mawar sudah sibuk mengingatkan untuk segera berkemas begitu maghrib datang. Bayangkan donk, kereta jam setengah 10 malam, dari habis maghrib udah disuruh berangkat? Sebenarnya itu hanya alibi sang ibu agar putrinya segera pergi dari rumah (kata kasarnya diusir)πŸ˜› (maafin aku ya mawarπŸ™‚ )

Sepertinya memang sudah tidak diharapkan untuk berlama-lama di rumah mawar, akhirnya jam 7 pm tepat saat suara kikok-kikok burung-burungan keluar dari sarangnya di atas jam itu, aku dan mawar langsung ngacir ke stasiun. Takutnya sih macet. Tapi nyatanya jalanan lengang banget. Kebanyakan orang Jakarta akan berucap “alhamdulillah lalu lintas lancar.” tapi kalau aku akan berucap “Kenapa nggak macet aja sih. please Allah berilah kemacetan malam ini saja. Agar kami sampai stasiun “tepat waktu” (tidak terlalu cepat)” mungkin doaku ini bertentangan dengan doa sejuta umat Jakarta kali ya jadinya sama sekali tidak terkabul. Ajaib! lalu lintas saat itu mulus sangat. Alhasil kami sampai ke stasiun senen satu setengah jam sebelum kereta berangkat.

Clingak clinguk melihat ruang tunggu kereta, penuh sesak… penuh asap… penuh deh. Malas. Akhirnya kami menemukan tempat nongkrong yang cozy. Berharap dengan membeli secangkir es teh kami bisa menumpang mendinginkan badan di ruangan berAC… satu jam saja.

“Eh serius mau beli di D&D?” kata Mawar
“Iya… ayo ah.” jawabku. Dalam pikiranku yang namanya es teh di tempat semewah apapun pasti harganya nggak lebih dari Rp. 5.000,00 terlalu PD saudara-saudara…
“Jangan masuk dulu, kita duduk di depannya sambil nyari tahu harganya.”
akhirnya kami duduk di depan kaca D&D tepat di hadapan kami terpampang harga-harganya. Betapa terkejutnya aku. Satu asumsiku tentang Jakarta terbantahkan. Aku berasumsi bahwa di Jakarta ini apapun SERBA ADA. tapi begitu aku lihat menu di D&D tidak ada yang namanya Es teh. AKu coba mengingat-ingat nama lain Es teh. Barangkali saja mereka menamakannya dengan sesuatu yang “asing” istilahnya demi terlihat lebih mentereng. Yang ada hanya Lemon Tea and do you know berapa harganya?? Rp. 13.000,00 hueeeek apa-apaan. Ingat Erva ingat… ini Jakarta.

Akhirnya dengan hanya menelan ludah “gluguk” aku dan Mawar hanya mampu menatap harga itu. Bukan karena kita nggak punya duit lho ya… duit mah ada… tapi lebih karena kami menyayangkan kalau harus menggunakan duit untuk hal yang kayak begituan aja. Masa Lemon Tea 13 rebu. No no no…

Disaat itulah tiba-tiba ada mas-mas menggendong carier super besar sambil membawa gelas seperti gelas pop ice. Mata kami tertuju ke Indomart di samping D&D.

“Udah kita beli itu aja deh.” Kata Mawar. “Aku lihat dulu harganya.”
Kata mawar harganya 7000 lumayan miring kalau dibandingin sama 13000. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli 2 rasa berbeda. Tapi rasanya…………………………………………………………………………….^^’
Jakarta Oh Jakarta… tidak bisakah kau ramah dengan pendatang barang sejenak? bahkan hanya untuk urusan minumpun?pelepas haus