Yakinkah anda bahwa Allah itu dekat? Yakinkah anda bahwa Allah itu Ar-rozak (Maha Pemberi Rezeki?) dan yakinkah anda bahwa Allah itu Al-Ghaniy (Maha Kaya?) kalau belum yakin, mungkin cerita ini akan membuatmu semakin bertambah yakin (.^_^.)

Dia hanya seorang perempuan biasa, yang pernah merasakan kesedihan, pernah menangis, pernah merasakan sakit. Namun dia mencoba untuk selalu membuat dirinya bahagia. Bagaimana caranya? Dengan positif thinking kepada rabbnya dan selalu bersyukur dengan keadaannya.

Awal Bulan
Kondisi keuangan masih aman. ATM baru saja terisi. Dompet terlihat tebal walaupun kebanyakan adalah kartu-kartu koleksi diskonan waralaba yang tidak seberapa, tapi bagi seorang mahasiswa itu sangat berarti. Senja hari dimana matahari mulai berguling ke belahan bumi lainnya, berbagi cahaya dan kehangatannya. Kumandang adzan maghrib terdengar dari speaker2 masjid dan mushola, memanggil, jiwa2 yang sibuk dengan urusan2 dunia. Dia, baru saja selesai membeli menu makan malamnya. Tukang parkir membantunya mengeluarkan sepeda motornya. Seperti biasa sekecil apapun bantuan itu, otaknya selalu berusaha mengingat untuk mengucapkan “terimakasih” bersama itu dia keluarkan selembar uang seribu rupiah.

“ Hei, ayo minta kembalian. Itu hak lo. Seneng banget itu tukang parkir dapet seceng, harusnyakan dia Cuma dapet gope. Lagian kerjaannya Cuma ngundurin motor.” Sebuah suara bergema.
“Sudahlah ikhlaskan saja, anggap saja lo bershodaqoh terhadapnya. Gope doank pelit amat sih. Dia kan udah berusaha melakukan sebuah pekerjaan untuk memperoleh uang itu.” Suara lain menimpali.
Perempuan itu akhirnya tersenyum dan tanpa pikir panjang langsung melajukan motornya.

***
Keesokan harinya saat sedang berada di majelis ta’lim mingguan. Sebuah kotak bergeser keliling. Setiap orang yang hadir disana akan bertemu dengan kotak itu. Tibalah kotak itu di depan 2 orang sebelumnya. Dia membuka dompetnya, hanya ada 1 uang receh dan beberapa uang kertas dengan nominal minimal bisa untuk membeli satu bungkus nasi di warteg. Awalnya jari-jari tangannya menyentuh uang dengan nominal terkecil. Uang receh.

“Lo kan ngaji dalam seminggu nggak Cuma sekali, dan setiap ngaji pasti ada kotak itu. Udah kasih aja uang receh itu, toh juga beberapa hari lagi kamu akan ketemu lagi sama kotak itu, bukankah sedikit demi sekikit lama2 akan menjadi bukit? Kebutuhan lo juga banyakkan?” suara itu kembali menggema.
“Ya elah perhitungan banget sih, inget firman Allah yang pernah ustadz lo ajarkan waktu di SMA dulu “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Perempuan itu segera mengambil uang kertas yang nominalnya lebih besar daripada uang receh itu. Bismillah, ujarnya dan diapun tersenyum optimis.
***
Kesempatan lain, perempuan itu bertemu dengan seorang ibu2 pengemis. Badannya masih cukup kuat dan dia menggendong seorang bayi.

“Nggak usah dikasih, lo tahu nggak dia hanya menggunakan pakaian dinasnya yang compang-camping, padahal kondisi sebenarnya dia punya rumah yang sangat mewah.” Suara itu datang lagi.
“Ampun deh, mau ngasih aja pake mikir2. Nggak usah mikir kepada siapa lo memberi apabila datang seorang yang meminta kepadamu. Masalah seperti apa orang itu di belakang serahkan kepada Allah. Yang penting lo ikhlas memberinya.” Suara satunya menimpali lagi
“Ini masih awal bulan, jumawa banget sih lo, ngasih2 ke orang segitu gampangnya. Kalau udah akhir bulan baru tau rasa lo.” Suara pertama masih memprofokasi.
“Payah banget sih lo. Lupa ya sama Allah? Anggap saja lo akan mati besok, mana sempat bertemu dengan akhir bulan. Kalaupun uang lo sisa banyak, tapi lo mati besok? Apa gunanya coba?”
Sekali lagi, perempuan itu mengembangkan senyumnya.

***
Akhir Bulan
Perempuan itu terpekur. Ada banyak kejadian yang terjadi. Uangnya habis untuk modal usaha sementara dagangannya belum laku terjual. Sudah coba dia tawarkan sekuat tenaga kepada orang2 agar dagangannya terbeli. Namun Allah masih menahan rezekinya. Sebenarnya kejadiaannya tidak akan seperti itu ketika motornya tidak mogok. Gara2 tikus-tikus nakal yang menggerogoti kabel2 di dalam motornya, akhirnya dia harus mengeluarkan uangnya untuk memperbaiki motor itu. Alhasil perhitungannya meleset dan uangnyapun tersapu hampir habis. Gajian di kantornya masih 1 minggu lagi sementara uang yang ada di ATMnya sudah batas minimum yang tidak bisa diambilnya.

“Tuh kan gue bilang juga apa. Lo sih terlalu jumawa. Awal bulan aja lo gampang banget ngasih2. Sekarang akhir bulan baru lo rasaian sengsaranya. Sukur… nggak mau dengerin gue sih lo.” Suara pertama berkata dengan congkaknya.
“Lo manusiakan? Allah memberimu otak untuk berfikir bagaimana caranya keluar dari kondisi lo sekarang. Kalau lo sampai nggak memanfaatkan itu otak, berarti lo sama aja kayak ayam2 atau sapi2 di sawah sana.”

BERFIKIR…

“Lo punya celengan tuh. Pecahin aja.” Kata suara pertama masih memprofokasi.

Celengan itu diberinya nama COIN FOR INDONESIA dimana dengan celengan itu dia berkomitmen untuk tidak mengambilnya dan hasilnya akan dia gunakan untuk keliling Indonesia. Melihat keindahan alam yang Allah ciptakan. Ini adalah celengan keempatnya. Hatinya ragu. Apa iya dia harus mengakhiri riwayat celengan keempatnya. Bimbang. Apa iya dia harus melanggar komitmennya? TIDAK!

“Gadaikan saja laptopmu. Toh bulan depan kamu bakal dapat uang lagi. Kan bisa langsung ditebus.” Suara itu terdengar lagi. Kali ini tidak ada suara lainnya yang biasanya menyemangati.

Bener juga ya, begitu bulan depan dia akan langsung menebus laptop itu lagi. Yang penting dia bisa bertahan sampai akhir bulan. Tapi laptop itukan hadiah dari ayah dan ibunya sebagai bentuk apresiasi karena IP-nya bagus masa mau digadaikan?kalau nanti rusak gimana? Kalau hilang gimana. Perempuan itu menggeleng keras2. TIDAK!

“Gue saranin hal yang paling gampang. Bodoh lo kalau nggak ngikutin. Lo telpon aja bokap lo, minta tambahan uang, bereskan? Atau lo tagih aja hutang2 temen lo. Lumayan itu.”
Perempuan itu kembali berfikir. Apa benar dia harus meminta tambahan uang saku kepada ayahnya.
“Nggak tau malu banget sih lo. Lo udah kerja, lo punya usaha, nggak malu lo minta2 sama bokap lo? Payah lo. Terus kalau lo mau nagih utang2 temen lo, nggak kasihan apa lo ketika mereka kebingungan mencari uang buat tagihan lo yang mendadak gitu? Yakin saja kalau mereka sudah punya rezeki juga mereka akan menggantinya” Suara yang ditunggu akhirnya muncul lagi. Bersyukur perempuan itu tidak kehilangan suara yang membuatnya tenang. “Sekali lagi gue ingetin. Lo punya otak. Gunain donk jangan Cuma jadi bahan pelengkap kepala lo.”

Perempuan itu geram. Mendengus kesal. Bingung. What must i do? Katanya sementara perutnya makin berkerucuk.
Disaat seperti itu dia melihat sebuah benda di dalam kamarnya. Sebuah ide muncul. Segera dia pasang pengumuman di kosnya “TERIMA JASA PRINT.” Dalam sekejap kamarnya ngantri teman-teman satu kosnya untuk ngeprint. Harganya memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan harga fotocopyan dan print2an di luar sana. Tapi hasilnya cukup untuk menambal jatah makannya selama 4 hari. Alhamdulillah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan akal untuk berfikir.
Perempuan itu kembali berfikir. Masih ada 3 hari sebelum gajinya turun. Sementara kertas HVS nya sudah habis. Usaha print2annya sudah tidak bisa dia andalkan lagi. Disaat seperti itu suara yang membuatnya tenang muncul kembali.
“Ingat kajian yang pernah disampaikan ust Yusuf Mansyur? Tawakal. Serahkan semua kepada Allah. Kamu sudah berusaha bertahan hidup. Kamu sudah menguras pikiranmu untuk berfikir. Allah yang menghidupkanmu dan Allah juga yang akan memelihara kamu dan memenuhi kebutuhanmu. Yakinlah pertolongan Allah itu dekat. Serahkan hidupnya SEPENUHNYA kepada Allah”
Akhirnya perempuan itu mencoba nasihat tersebut. AJAIB! Siangnya dia dipanggil oleh sekretaris di kantornya.

“Ini ada disposisi undangan. Karena besok direktur ada agenda lain, jadi beliau mengamanahkan kepada kamu. Dari jam 8 sampai jam 2. Tolong kamu hadir sampai selesai.”

Dan apa yang terjadi keesokan harinya? Dia datang ke acara tersebut tanpa bayar sepersenpun. Namun dia mendapat cemilan, makan siang, ilmu, kenalan baru, link, sertifikat, dan di akhir acara dia mendapatkan uang transport. Subhanallah… robbi auzidni an asykuro ni’matakallati an ‘amta ‘alaiyya wa ‘alaa walidaiyya wa an a’malaa sholihan tardhohu wa adhilni birohmatika fi ‘ibadikassholihin.

﴾ Yusuf:87 ﴿
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

﴾ Al Hijr:56 ﴿
Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”.

﴾ Ath Thalaaq:3 ﴿
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Cerita ini adalah fiktif jika ada kesamaan tokoh dan kejadian yang menyinggung mohon untuk dimaafkan ya… Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua

Pelajaran yang bisa diambil:

1.berbuat baiklah selagi kamu lapang karena Allah tidak akan pernah menyempitkanmu ketika kamu tidak melalaikan kelapanganmu

2.syaitan akan selalu ada dimanapun untuk membelokkan niat hamba2Nya walaupun di dalam masjid dan di dalam sebuah kegiatan yang baik sekalipun dia tidak ragu untuk menelusup ke dalam qalbu

3. setiap orang dikaruniai penjaga setia dalam hati kecilnya, dia akan berteriak ketika sebuah hal jelek terencana namun dia juga bisa mati jika kita tidak berkali-kali tidak mempedulikannya, dia adalah suara hati kecil

4. Tawakal setelah berusaha

Mohon kritik dan sarannya ya