Awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia fotografi. Bahkan ketika masuk ke dalam jurusan ilmu komunikasi, melihat teman-teman berbondong-bondong ngrumpiin kamera yang namanya DSLR pun aku tidak bergeming. Waktu itu heboh sekali itu kamera DSLR digosipin. Tentang keistimewaannya, tentang kekurangannya, pokoknya semua tentangnya. (alhamdulillah daripada ngegosipin artis atau tetangga, mending ngegosipin kamera. Dapat ilmu, nggak dosa pula๐Ÿ˜‰ )

Hingga pada suatu hari aku kehilangan seseorang yang sangat aku sayang. Kakekku. Pada saat beliau dimakamkan aku tidak bisa pulang ke rumah karena harus mengikuti sebuah acara wajib di kampus. Saat itulah aku benar-benar merasa kehilangan. Semua kenangan eyang kakung hanya aku rekam di ingatan. Dan ingatan itu suatu hari akan kabur tergantikan hal lain. ย Tidak ada bukti otentik tentang sosok beliau. Dari sanalah aku mulai tertarik dengan fotografi. Saat itu keinginanku hanya satu. Aku ingin mengabadikan setiap momen yang ada sebagai sebuah kenangan, dalam sebuah foto. Bukankah kita bisa belajar sejarah karena adanya sebuah bukti otentik seperti foto, catatan, fosil, dan sebagainya. Jangan pernah menganggap tidak penting hal-hal remeh saat ini karena bisa jadi di masa depan dia akan menjadi sesuatu yang sangat penting.

Kamera itu adalah hasil tabunganku. Menabung uang (tidak seberapa jumlahnya, kurangnya ditambahin ayah๐Ÿ˜› thank you dad), menabung doa, menabung harapan, dan menabung bujukan (tiga tabungan yang terakhir lebih sering aku lakukan dan lebih banyak membantu terwujudnya impianku mendapatkan kamera hehe

Awalnya aku hanya menyia-nyiakan kamera itu (maksudnya, foto yang aku hasilkan sangat standar dan nggak pake teknik sama sekali) Sampai aku dibilang oleh salah satu temanku dengan nada sarkastik

Percuma kamu punya senjata canggih kalau apa yang kamu hasilnya sangat standar.

Jleb… dalem banget omongan dia. Kalau Asma Nadia bilang, kita harus punya dendam positif di dalam diri kita. Apabila kita diremehkan oleh seseorang, maka yang harus kita lakukan adalah membuktikan kepada orang itu kalau apa yang dia bilang tentang kita (sesuatu yang jelek) itu tidak benar.

Pelan-pelan aku mulai berlajar bagaimana mengatur diafragma, shutter speed, dan ISO.

Aku mendapat arahan dari seseorang ketika mengambil gambar ini. Belum terlalu bagus karena latar belakanganya belum blur. Tapi tak mengapa. Sebuah kemajuan yang bagus menurutku.

 

Selain itu aku belajar juga tentang proporsisi atau tata letak objek. Setelah bidikanku lumayan ada seninya, untuk selanjutnya aku belajar tentang letak objek yang dibidik

Saat foto di atas aku luncurkan ke pasaran (haha kayak apa aja) banyak yang mengomentari tentang ujung bunga yang terpotong itu. Sayang, padahal kalau ujung bunga itu lengkap bisa lebih bagus. Belajar lagi… terkadang apa yang kita lihat di jendela bidik akan berbeda apabila foto itu sudah ada di komputer.

yang ini sudah lumayan. Tidak terpotong lagi tapi posisinya kurang ke center. Yaaaah begitulah aku berlajar proposition

Selain itu aku belajar tentang tone.

Belajar apa lagi ya?? Hemmmm… belajar sudut pandang

belajar tentang speed