Sudah lama aku tidak “memporak-porandakan” almari buku kecil di dalam kamarku. Entah apa saja yang tersimpan di dalamnya akupun hampir lupa. Setahu aku sejak lulus SMP, almari itu tidak pernah aku jamah, kecuali bagian yang terlihat. Di sebuah kesempatan, aku mencoba untuk “mengintipnya.” Ternyata banyak sekali naskah-naskah kuno yang ada di sana. Buku-buku diary sewaktu masih menjadi ababil, buku-buku tulis yang berisi cerpen-cerpen dan puisi ketika SD, bahkan sampai kepada buku-buku Fisika-Matematika khas anak SMP yang penuh dengan coretan saat bosan mendengarkan pelajaran, atau terlalu frustasi menghitung logaritma dan nilai massa yang tak kunjung jua ketemu.

Satu yang paling menarikperhatianku adalah buku Diary ketika aku masih di pondok pesantren dulu. Ketika aku masih nyantri. Buku itu punya banyak cerita yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal ketika membacanya. Ternyata saat SMA pun aku masih sangat ababil. 😀

Ada satu tulisan yang membuat hatiku deg-degan. Aku sendiri lupa pernah menulis itu. Judulnya Aku dan Q.S Luqman. Aku jadi ingat mungkin saat itulah aku jatuh cinta kepada surat Luqman. Mulai saat itu aku ingin sekali apabila aku menikah nanti, salah satu maharnya adalah hafalan surat Luqman. Baiklah-baiklah mungkin kalian akan menertawakan keinginanku yang satu ini. Tak apa tertawalah sampai puas hehehe.

Kenapa Luqman? kenapa tidak Ar rahman seperti kebanyakan orang? Menurutku surat Luqman sangat istimewa. Limadza? karena di dalamnya terdapat nasehat2 Luqman kepada anak-anaknya. Bukankah tujuan dari menikah selain untuk beribadah kepada Allah adalah untuk memperoleh keturunan yang akan meneruskan tongkat estafet dakwah ini? Jadi menurutku apabila calon suamiku nanti bisa memahami dan hafal apa yang terkandung di dalam surat Luqman maka dia bisa belajar bijaksana seperti Luqman kepada anak-anaknya. (Aseeeek) bayangkan donk ya saat itu aku masih SMA sudah bisa berfikiran seperti itu? Mungkin memang aku dewasa sebelum umur kali ya? haaaaa ni muka udah kayak tomat busuk karena malu.

Tentang Mahar bukan Berupa Materi

Oh iya dulu ada seorang bernama Abu Thalhah yang datang ingin mempersunting Ummu Sulaim. Namun Ummu Sulaim tidak langsung menerimanya karena dia adalah seorang kafir. Lalu Ummu Sulaim meminta sebuah mahar yaitu keislamannya Abu Thalhah. Selain itu Ummu Sulaim tidak meminta mahar berupa materi. Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa mahar non materipun diperbolehkan dalam islam. Untuk yang ingin tahu kisah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, bisa dibaca di sini http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/06/22/ln6qx9-kisah-sahabat-nabi-abu-thalhah-alanshari-syahid-di-atas-kapal

Begitulah, sampai sekarang aku masih jatuh cinta dengan surat Luqman. Namun ketika kuliah aku dihadapkan kepada sebuah kenyataan bahwa dunia luar itu sangat jauh sekali berbeda dengan dunia pesantren yang kondusif, aman, terkendali dalam hal iman maupun akhlak. Banyak sekali aku temui orang-orang yang jangankan menghafal alquran, membacanyapun malas sekali. Namun aku tahu dan yakin suatu saat akan datang seorang pangeran yang didampingi oleh surat Luqman itu. Ini kisahku, apa kisahmu?

Iklan