Maukah aku ceritakan sesuatu kepadamu nak? Mungkin memang tidak begitu berarti untukmu, tapi itu akan memberikan sebuah kesenangan tersendiri di dalam hati orang tua ini. Hanya dengan kau mendengarkan ceritaku, akan lebih senang lagi kalau kau antusias dan bersedia memberikanku beberapa pertanyaan. Aku pasti akan menjawabnya nak. Usia yang semakin udzur membuatku kehilangan banyak teman bicara.

Sepeda antik ini, kau tahu? dahulu dia adalah sahabatku yang paling setia. Dia selalu membuatku terlihat gagah dengan seragam yang aku pakai. Dia selalu membuatku bangga dengan pekerjaan yang aku kerjakan.

Aku sangat menikmati kegiatan yang pada zaman sekarang orang-orang menyebutnya sebagai profesi. Setiap hari ku kayuh sepeda antik ini. Menelusuri jalan, mencari tempat tujuan satu persatu. Panas memang dan terkadang kehujanan. Jauh memang, dan terkadang bahkan sampai setengah hari aku tempuh hanya untuk mengantarkan 1 surat. Hanya 1. Lelah memang, dan terkadang aku harus menuntun sahabatku ini karena tak kuat mengarungi tanjakan.

Tapi semua itu hilang seketika. Saat aku berhasil menemukan sebuah alamat yang tercantum disana. Kau tau nak bagaimana perasaanku? tidak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Bahkan akupun susah jikalau harus mencari analogi yang tepat untuk menggambarkan apa yang aku rasakan. Begini saja, aku dengar handphone yang sedang tren saat ini adalah black berry? dan betapa bahagianya seorang anak SD yang mendapatkan hadiah HP itu dari orangtuanya ketika kenaikan kelas? walaupun menurutku itu tindakan yang kurang baik. Belum saatnya. Cucuku seharusnya masih bisa bermain dan bersosialisasi secara langsung dengan teman2nya. Bukannya lewat alat komunikasi yang kata orang canggih itu, namun untukku malah tergolong primitif. Perasaan orang tua ini lebih dari rasa bahagia yang terpancar dari anak SD itu ketika mereka mendapatkan BB.

Wajah yang menymbutku begitu bahagia ketika aku menyampaikan surat untuknya. Setidaknya aku selalu merasa bahwa aku ditunggu oleh banyak orang. Dengan kedatanganku mengantarkan surat, seorang perempuan muda terlihat semakin cantik, karena ternyata surat itu adalah dari kekasihnya yang sedang bekerja di pulau seberang. Dengan kedatanganku, seorang nenek tua tersenyum gembira memperlihatkan gusinya yang tanpa deretan gigi2, karena surat itu adalah tunjangan pensiunannya. Dengan kedatanganku seorang anak kuliahan melonjak senang bukan kepalang karena apa yang diterimanya adalah sebuah wessel. Dengan kedatanganku, sebuah keluarga bercerita ramai ketika sebuah ucapan lebaran dari sanak yang jauh sampai kepada mereka. Dan saat itu orang tua ini hanya berkata “Alhamdulillah… aku bahagia melihat mereka bahagia.”

Tapi revolusi zaman sedikit demi sedikit mulai mengikis rasa bahagia dalam hatiku.  Dengan ditemukannya telepon dan hp, semakin jarang orang yang memanfaatkan jasa profesiku untuk mengantarkan pesan-pesan mereka. Sepasang kekasih lebih asyik mengirimkan pesan singkat yang kata cucuku disebut SMS. Kalau kangen mereka akan langsung menelepon. Singkat, tidak memakan waktu lama. Yaaaah begitu alasan mereka. Dengan adanya kotak kaca yang di dalamnya orang bisa mengambil uang sesuka mereka kapan saja, lagi-lagi kata cucuku, namanya ATM. Aku tak mengertilah kepanjangannya itu, semakin jarang orang tua mengirim wessel kepada anak-anaknya. Dengan adanya internet yang kata cucuku wus wus wush… sebuah pesan bisa terkirim dalam waktu sepersekian detik, semakin jarang orang yang mengirimkan kartu ucapan selamat lebaran untuk sanak saudaranya.

Kau tau nak apa yang paling aku benci dari itu semua? bukan karena aku harus kehilangan mata pencaharianku. TIDAK. Tapi aku benci karena aku tidak bisa merasakan kebahagiaan milik orang2 lagi. Aku benci karena aku tidak bisa melihat wajah-wajah sumringah mereka lagi. Dulu pernah, sepeda antikku ini ditukar dengan sebuah motor agar pekerajaanku semakin cepat berakhir. Tapi aku merasa sangat benci ketika suara merdu krincingan sepedaku harus ditukar dengan bunyi klakson motor yang memekakkan telinga.

Itulah nak sedikit ceritaku. Mungkin terkadang kau merasa semua serba mudah, dengan adanya hp, telepon, internet, bahkan kotak kaca dimana2. Tapi tahukah kau nak, di sisi lain ada seorang yang merindukan moment, saat dia bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. 😀

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semarang, 10 Agustus 2012

Iklan