Rieva merengkuh sahabat di depannya ke dalam pelukannya. Saat ini hanya itulah yang bisa dia lakukan untuk si cantik yang sudah hampir setengah jam meneteskan air mata di depannya. Rieva tahu tidak sepatah katapun darinya yang akan didengar oleh si cantik jika dia nekat menghiburnya dengan untaian nasihat panjang. Ya tidak akan di dengar setidaknya untuk saat ini, karena yang si cantik butuhkan sekarang hanyalah tempat untuk mencurahkan perasaan yang sedang bercokol hebat dalam hatinya, mengabil hampir 3/4 kisi hati yang tengah terluka. Hanya sebuah sentuhan lembut di kepala si cantik yang bisa Rieva berikan, berharap bisa sedikit mengobati lukanya yang menganga.
Hanya sekitar 2 jam yang lalu, si cantik pamit kepadanya dengan wajah yang sangat ceria. Dia kata mau makan malam bersama laki-laki pujaan hatinya. Laki-laki yang hampir setengah tahun ini dekat dengannya, dan laki-laki yang seingat Rieva sudah menjanjikan segala macam keindahan khas orang kasmaran kepada si cantik. Namun bagai cuaca di musim hujan yang gampang sekali berubah, demikian juga dengan si cantik, ketika dia pulang, sudah musnah seluruh senyum yang tadi dikulumnya, hilang seluruh keceriaan yang tadi dipancarkannya, berganti dengan aliran kecil air mata di kedua belah pipinya. Biarpun begitu, dia tetap sahabat Rieva yang cantik bahkan ketika dia menangis sekalipun.

“Kenapa sayang?”

Ucap Rieva ketika derai tangis si cantik mulai berakhir. Disodorkannya tissue untuk kesekian kalinya dengan harapan semoga ini adalah tetesan terakhir air mata si cantik.

“Aku baru aja putus Riev.”

Si cantik mulai membuka ceritanya. Panggilan khas yang selalu menyapa Rieva ketika berdialog dengan si cantik. Rieva menghela nafas. Sementara si cantik di depannya berusaha tersenyum. Sungguh manis sekali senyumnya. Tapi matanya yang membengkak tidak akan bisa menyembunyikan kabut kesedihan. 

•••

Rieva membuka catatan diary nya. Apa yang dialami si cantik bukanlah sebuah peristiwa baru. Banyak berita yang sudah didengarnya dari media tentang pergaulan remaja zaman sekarang. Kelewatan. Keblabasan. Tanpa arahan. Tanpa batasan. Tanpa pengawasan.

Kepada Ayah tersanyang
Kalau tiba waktunya nanti, seorang pemuda datang kepadamu,sambutlah dia dengan suka cita ayah. Sekalipun belum punya apa, sekalipun dia belum menjadi siapa-siapa.Namun apabila dia mempunya akhlak yang mulia dan ketaatan yang mendekati sempurna terhadap agama Allah, Sambutlah dia dengan suka cita ayah. Aku yakin dia yang datang itu sudah susah payah mengumpulkan keberaniannya, sudah membulatkan tekadnya, demi untuk bertemu denganmu. Pemuda itu memang belum punya apa, namun kesungguhannya lebih dari menjanjikan sesuatu yang bernilai permata. Namun keberaniannya lebih dari menunjukkan sesuatu yang kuat daripada baja. Karena aku yakin hanya pemuda pemberani yang mau melakukannya.
Pemuda seperti itu adalah seorang yang benar rasa sayangnya, karena dia tidak ingin menentang keagungan DzatNya. Bukankah banyak pemuda yang mau memilih enaknya? hanya mengajak pacaran, menjanjikan segala macam buaian-buaian yang melenakan. Membuat seorang gadis terbang melayang. Mengajak seorang gadis sampai pada puncak himalaya namun kemudian menjatuhkannya ke dalam jurang penuh penderitaan.
Pemuda yang datang kepadamu adalah pemuda yang teguh mentalnya. Yang pasti akan berusaha untuk melaksanakan kewajibannya. Masalah rezeki bukannya Allah telah menjanjikannya secara jelas dalam kitabNya? Tidak perlu kau khawatir memikirkannya ayah, anakmu akan bisa hidup. Anakmu punya akal, dan anakmu punya tangan kaki untuk bisa bertahan.
Pemuda yang datang kepadamu adalah pemuda yang tangguh keimanannya. Karena dia menjauhkan anakmu dari panasnya hawa neraka.
Ayah... aku tahu engkau lebih lama hidup di dunia dan engkau sudah rasakan manis pahitnya kehidupan yang belum pernah aku cicipi. Dan akupun tahu engkau punya pertimbangan yang masak dengan keputusanmu. Dan aku yakin Allah tidak berlepas tangan dari keputusanmu. Aku tidak akan egois namun aku hanya ingin mengutarakan apa yang aku rasakan ini. AKu tidak ingin terjebak dalam dunia yang fana. Aku tidak mau menjadi seperti mereka. Aku hanya ingin meraih ridhoNya. 
Ayah... jika tiba saatnya datang seorang pemuda kepadamu untuk meminangku, sambutlah dia dengan suka cita.
Ananda

Tulisan itu hanya Rieva sematkan rapi dalam buku diarynya. Perih hatinya teringat apa yang si cantik ceritakan. Suatu saat jika lisannya tak mampu berbicara, maka tulisan itulah yang akan mewakilinya untuk berbincang dengan ayahnya.

Image