Kartun Tom And Jerry itu selalu berhasil menyita perhatian Maria. Sekalipun usianya tak lagi bisa dibilang anak-anak, namun malasah film kartun, dia bahkan lebih senang daripada anak-anak sekalipun.

“Selamat pagi saudara, Headline news kembali hadir di hadapan anda.”

Tiba-tiba kartun faforitnya tersebut hasus berbagi ruang dengan berita pendek yang biasanya muncul setiap satu jam sekali. Pagi itu, penyiar beritanya seorang perempuan cantik, tampil dengan busana blues kinclong yang merupakan pinjaman dari sponsor, lengkap dengan aksesoris dan make up.

“Israel kembali menyerang Gaza dengan desingan peluru. Puluhan tank-tank masuk ke dalam wilayah Gaza tepat dengan pergantian tahun baru hijriyah tadi malam.”

Pembaca berita tersebut membacakan naskah dengan wajah yang sangat dramatis. Seolah dia berusaha ikut berempati dengan apa yang dibacanya. Menurut Dosen Ilmu Komunikasi, memang seorang pembawa berita harus mempunya sejuta lebih ekspresi agar dapat disesuaian dengan berita yang dibacakannya. Hal ini akan lebih mengena di benak para pirsawan daripada wajah lempeng serius.

“Aish berita apaan sih ini? Orang islam itu aneh. Apa coba gunanya  mereka demo seperti itu? terkesan anarkis. Bahkan beberapa acara itu malah justru bisa merusak fasilitas umum. Apalagi ibu-ibu membawa serta anak-anaknya yang masih kecil. Bukannya dalam kode etik demonstrasi tidak diperkenankan melibatkan anak kecil.” Komentar Maria sok tahu.

Berita tersebut memang hanya beberapa menit. Namun cukup membuat sebuah pertanyaan besar di dalam kepada Maria, gadis berumur 17 tahun yang tinggal di sebuah daerah di pantai utara pulau Jawa.

“Beep beep.. cletok”

Nada smartphone nya menandakan ada sebuah email masuk ke dalam inbox nya. Segera dibukanya dan ada sebuah alamar email asing nyasar ke alamatnya. Subject emailnya. Thank you. Segera Maria berfikir apa yang sudah dilakukannya sehingga ada seseorang yang tiba-tiba mengucapkan terimakasih kepadanya. Email itu tidak mungkin spam karena pengaturan di emailnya sudah diatur sedemikian rupa agar email-email nakal tersaring degan otomatis.

Maria memutuskan untuk membacanya. Namun otaknya langsung kriting begitu matanya menatap isi email tersebut. Sebuah surat elektronik dengan huruf yang tidak lazim dia temui. Setahu dia itu namanya huruf arab. Namun entah mengapa hatinya bertanya-tanya apakah isi dari email tersebut. Atau jangan-jangan email itu dari para teroris yang akan mengancam dia? ahhh kelewatan. Mana ada teroris menerornya. Sangkut pautnya pun tak ada. Gadis itu beranjak dari kursi malasnya dan menyalakan komputer di ruang kerja sang papa. Satu-satunya cara untuk mengetahui apa maksud dari emailnya itu adalah dengan bertanya kepada syekh Google terjemahan.

Seluruh badan surat berbahasa Arab itu, dicopy nya kemudian di pastekan ke dalam kolom yang sudah disediakan mesin ajaib idaman semua orang itu. Tak lama, hanya beberapa detik, langsung muncul terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.

Mesir,
 Assalamu'alaikum. Maria terimakasih atas email yang sudah kau berikan kepadaku. Mahasuci Allah yang sudah mempertemukan kita dalam kondisi wilayah geografis yang sangat terbentang jauh. Berita tentang kau dan teman-temanmu yang ikut berjuang di Indonesia, untuk mendukung kami warga Palestina, insya Allah sudah sampai ke semua penduduk Gaza. Dan kami berterimakasih sekali olehnya. Aksi yang kalian lakukan mungkin untuk sebagian besar kalian di negara yang aman dan damai tidaklah berarti sama sekali. Aksi-aksi kalian di depan kedutaan Israel sekalipun tidak akan ada artinya untuk mereka. Karena merekaitu tuli. Tidak akan menghentikan serangan senjata hanya demi mendengarkan protes dari kalian saudariku.Tapi untuk kami? untuk kami yang setiap hari diresahkan oleh desingan bombardir peluru dan rudal-rudal laknatullah? hal itu menjadi dukungan moral dan psikologis tersendiri.
 Mungkin kami di Gaza merasa sendiri. Berjuang langsung menghadapi serangan-serangan bangsa Yahudi. Namun dalam hari kami percaya. Namun dalam hati kami yakin. Di sana, di belakahn bumi manapun, kami punya jutaan saudara yang selalu menyebutkan kami dalam setiap sujud dan doa-doa mereka. Yang selalu mencoba membantu kami dengan apapun yang mereka punya. Obat-obatan, makanan, semangat. Kami berterimakasih untuk itu.
 Israel, permasalahan ini sudah bukan menyangkut tentang agama tertentu saja. Namun melebar dari itu sudah menyangkut kepada isu kemanusiaan. Bahkan perjanjian damai dan gencatan senjata yang sudah kami lakukan dilanggar dengan serta merta oleh ISrael. Israel tidak akan pernah berhenti karena Allah sudah menyebutnya dalam alquran bahwa bangsa yahudi tidak akan pernah berhenti memusuhi kami umat muslim. Mereka hanya seorang bangsa yang pengecut, ketika mereka menawarkan gencatan senjata, sesungguhnya kekuatan mereka sudah berada dalam batas minimal dan mereka memanfaatkan momen itu untuk mengumpulkannya kembali. Apa namanya kalau bukan pengecut? ketika sudah dalam kondisi yang prima, mereka melanggar perjanjian dan gencatan senjata yang sudah disepakati.
 Saudariku, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Kami yakin itu dan kami tidak akan pernah berhenti meyakininya. Sangat mudah bagi Allah menjadikan kami menang. Mudah. Mudah sekali kami yakin. Namun semua itu akan ada waktunya. TInggal menunggu datangnya sirine peringatan. Langsung dari rabb semesta alam. Seperti kedangan burung-burung ababil yang membawa batu-batu panas dari neraka. Dan seketika musnahlah tank-tank mereka. Batu-batu itu bukan berasal dari burung ababil tapi dari mujahid-mujahid kecil palestina. Yang tidak takut berhadapan dengan tank-tank Israel. Gagah berani walau hanya bermodal batu.
 Saudariku, esok pagi aku akan berangkat ke Gaza. Sudah cukup bagiku di Mesir menuntut ilmu dalam bidang kedokteran. sekarang saatnya aku kembali ke negaraku. Menemui ibuku, ayahku, saudara laki-lakiku, saudara perempuanku yang aku pun tak tahu entah mereka masih hidup atau tidak. Yang aku tahu, kami akan bertemu di surgaNya. Semoga.
 Salam untuk saudara2ku di Indonesia. Maryam.
 Catatan. Nama kita sebenarnya berasal dari orang yang sama. Bunda Maryam = Maria = ibu nabi Isya as. Semoga kelembutannya menurun dalam setiap sifat kita saudariku.
 Wassalamu'alaikum

Maria duduk terpaku di depan layar komputernya. Ini apa? apa ini? Dirinya yang sama sekali tidak pernah mendukung aksi untuk Palestin justru mendapat cerita yang sedemikian tragisnya. Sekaligus menjawab sebuah pertanyaan hebat dalam benaknya. Mengapa orang muslim melakukan aksi? adakah tindakan mereka sia-sia? ternyata tidak. Maria, gadis yang sejak kecil jauh dari jangkauan keimanan terhadap Tuhannya karena didikan orang tua yang tidak mempercayai Tuhan, menemukan sesuatu yang hangat meresap ke dalam batinnya.

Sekarang dia tahu bagaimana merasakan kasih sayang tak terhingga. Melewati batas nyata, geografi, bahkan batas ideologi sekalipun. Dan dia bisa merasakannya. Perasaannya tidak beku. Tidak mati.