Tanah surga..

Bukan lautan hanya kolam susu katanya

Tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu

Kail dan jala cukup menghidupimu katanya

Tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara

Tiada badai tiada topan kau temui katanya

Kenapa ayahku tertiup angin ke Malaysia?

Ikan dan udang menghampiri dirimu katanya

Tapi kata kakek awas ada udang di balik batu

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman katanya

Tapi kata dokter intel, belum semua rakyatnya sejahtera banyak pejabar yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri

Beberapa bait tersebut adalah salah satu puisi yang dibuat oleh Salman, seorang anak Indonesia yang tinggal di perbatasan negara Indonesia Malaysia. Film ini sangat menginspirasi bagi saya dimana mungkin saya dan banyak orang tidak pernah memikirkan hal yang diceritakan oleh film ini. Bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia di daerah perbatasan dimana ada kemungkinan budaya Indonesia berbaur dengan budaya negara lain. Bahkan dalam cerita ini, anak-anak di daerah perbatasan banyak yang tidak mengetahui mata uang negara sendiri dan mereka menggunakan mata uang negara asing.Β 

Berawal dari kehidupan seorang kakek dan kedua cucunya, salah satunya bernama Salman. Nenek dan ibu Salman sudah meninggal dunia sementara ayahnya berjualan di Malaysia. Suatu hari ayah Salman mengajak keluarganya untuk pindah ke Malaysia namun kakek Salman menolak. Dia begitu mencintai negaranya Indonesia dan tidak rela ketika harus berganti kewarganegaraan. Tinggallah Salman bersama kakeknya. Kakek Salman menderita penyakit jantung dan untuk mengobatinya Salman harus mencari uang.

Dia menjual beberapa barang di pasar Malaysia, dan suatu hari dia melihat ada seseorang menjadikan bendera Indonesia sebagai alas untuk berdagang. Salman tidak rela bendera negerinya digunakan semena-mena namun ketika dia menegur, tidak digubris oleh yang punya dagangan. Hari demi hari Salman mencari uang sehingga dia bisa memberi 2 sarung yang akan dia pakai untuknya dan untuk kakeknya. Ketika jalan pulang, dia melihat orang yang memakai bendera Indonesia sebagai penutup dagangan. Akhirnya Salman menukar kain sarung barunya dengan bendera merah putih dan berlarian sepanjang jalan mengibarkannya.

Selain itu diceritakan juga bahwa banyak anak-anak warga Indonesia yang tidak mengerti lagu kebangsaannya sendiri. Di film ini yang dihafal oleh mereka justru lagu kolam susu yang sering mereka dengar melewati radio. Singkat cerita Salman berhasil mengumpulkan uang untuk berobat kakeknya. Namun ketika sang kakek dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan sepit (perahu bermotor khas Kalimantan) ajal menjemput sang kakek. Namun sebelum meninggal sang kakek berpesan :

“Salman, Indonesia tanah surga. Apapun yang terjadi pada dirimu jangan sampai kehilangan cintamu kepada negeri ini. Genggam erat cita2mu. Katakan kepada dunia dengan bangga. Kami bangsa Indonesia.”

Film ini banyak mengandung makna, baik untuk masyarakat Indonesia itu sendiri maupun untuk pejabat pemerintah. Agar mereka amanah dalam mengolah tanah surga ini. Wajar kalau film yang disutradarai oleh Dedy Mizwar ini masuk ke dalam 5 kategori FFI. Dan menjadi salah satu film terbaik. Beginilah salah satu cara mewujudkan apa yang dimaksud dengan nasionalisme, bukan hanya dalam lisan dan perkataan yang digembar gemborkan saja.

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak kau hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai

Engkau ku hargai

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang masyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah ku rasa tenang

Tanah ku tak ku lupakan

Engkau kubanggakan

_DSC0108