Kami hanyalah beberapa orang dengan karakteristik yang berbeda-beda, yang dipertemukan Allah dalam sebuah kesempatan. Awalnya aku tidak menyadari arti dari pertemuan itu, karena bagiku, pertemuan itu tidaklah beda dengan pertemuan-pertemuan lainnya, antar sesama teman sekelas. Namun yang membuatku mengerti bahwa pertemuan itu adalah sebuah anugrah yang tak terhingga ketika hubungan kami terus terjaga. Sampai sekarang. Dimana jarak sudah memisahkan raga-raga dan tubuh kami. Namun hati tidak pernah memutuskan perasaan memiliki satu dengan yang lainnya. Itulah kami, 12 orang kawan, yang selalu mencoba menyempatkan waktu untuk sekedar bersua walau hanya setatap muka.

friends

1. Ade Saputro

2. Andika Elok Amalia

3. Andika Kholifah Gilar Pratiwi

4. Bagus Panuntun Tejo Baskoro

5. Dian Sukoco

6. Erva Maulita

7. Fernando Anggra Kusuma Negara

8. Muhammad Akbar Setiawan

9. Muhammad Hanif

10. Pramudya Anggun

11. RahdianMitasari

12. Weka Bhramitasari

Pertemuan awal dengan mereka ketika masuk ke dalam sebuah kelas. Kelas 2B SMP Negeri 8 Purwokerto. Setelah wali kelas masuk dan saling berkenalan satu dengan yang lain, ternyata kelas ini ajaib. Ada orang paling pinter dan sekaligus orang-orang nakal berada di dalam kelas ini. Minus Andika Elok yang tertiup angin entah sampai kemana :-p (tapi di kelas itu Andika berhasil mendapatkan pacar pertamanya) haha *yang ini bikin ngakak kalau diingat :-p

Tidak pernah terbayangkan dalam benakku berada bahkan mungkin bersahabat dengan mereka. Walaupun kata orang, yang namanya Anggra, Tejo, dan Ade itu banyak digandrungi sama anak-anak cewek gara-gara sikap mereka yang sok cool 😎 tapi bagiku, tidak ada tuh istimewanya sama sekali. Eh tapi dari SMP saja sahabat-sahabatku ini sudah terkenal pesonanya haha *ngakak lagi. Mau bukti? Ada kok, buktinya ada yang pacaran sama kakak kelas yang katanya waktu itu cantiiiiik banget, jadi mayoret lagi #nomention 😀 Terus ada juga yang dikejar-kejar sama sama kakak kelas cewek dan disuruh ngasih bunga pas pramukaan (sumpah yang ini norak banget) #nomention 😀 terus ada juga yang nembak ceweknya di WC (culun seculun-culunnya) #nomention lagi 😀

Ada juga kisah-kisah ala adegan sinetron-sinetron dimana ada seorang cowok yang katanya tampan (katanya) mirip bintang sinema drama asal Taiwan (waktu itu Korea belum in di Indonesia) yang memerankan tokoh penyuka basket dalanm drama MVP Lover bernama Cheng Fong (kalau nggak salah). Pokoknya setiap kali dia lewat itu, bikin mata salah satu dari kami bersinar-sinar kayak kelereng #nomention lagi 😀

Sering punya masalah dengan guru BK buat yang cowok-cowok, bukan berarti kami tidak punya prestasi. Buktinya, dibawah kepemimpinan kami, kelas 2B berhasil mendapat juara kelas terbagus pada lomba menghias kelas dalam rangka ulang tahun sekolah. Hadiah yang tidak sebanding dengan resiko yang kami peroleh. Hadiahnya cuma jam dinding, resikonya harus ngecat ulang tembok sekolah gara-gara catnya pada mengelupas karena desaign gua-guaan paling keren yang kami bikin. Capek deeeh. 😉

Yah itu cerita aku dan mereka ketika masih ababil dan awal perjumpaan aku dengan mereka. Intinya dari sana hubungan itu mulai terjalin. Dan nggak nyangka hampir sekitar 8 tahun lamanya mereka berada di sekitarku. Mereka selalu unik dengan cerita-ceritanya sendiri. Ada pula cerita cinta diantara kami (buat yang dulu pernah jadian di UKS jangan merah mukanya ya) :p mungkin masih ada cinta yang terpendam sampai sekarang. Bukan karena tidak mampu untuk mengungkapkannya, tapi karena lebih memilih tidak mau menodai persahabatan itu sendiri (alasan yang tidak masuk akal. Alasan yang sebenarnya adalah, mungkin karena sudah tahu seseorang yang kita sukai itu sudah punya yang lain) atau mungkin juga karena masih bingung, itu rasa suka apa hanya sekedar kekaguman semata ya? Apapun itu, perasaan cinta selalu membumbui setiap perjalanan umat manusia. Termasuk kami.

Sekarang sahabat-sahabatku sudah mulai meniti kesuksesan di jalannya sendiri-sendiri. Sibuk dengan pekerjaan-pekerjaannya masing-masing. Pengabdian kepada masyarakat dan pembuktian balas jasa kepada orang tua yang sudah membiayai kami hingga sebesar ini. Tapi semoga, masih banyak kesempatan kita untuk bertemu kembali. Walaupun ketika itu hanya saling mengejek dan membulli satu dengan yang lain (Hanif adalah sasaran empuknya) :p tapi itupun sudah cukup. Karena kami tidak membutuhkan banyak waktu untuk saling bercerita. Dan karena kami tidak membutuhkan banyak kata untuk mengerti kondisi satu dan yang lainnya. 😀

Iklan