21 April. Yap! Waktu SD dulu saya punya keharusan untuk menghafal tanggal-tanggal tertentu dalm kalender bangsa Indonesia karena terkadang tanggal-tanggal itu muncul di dalam soal-soal tes yang saya hadapi. Kalau sekarang, saya lebih suka menghafal hari-hari penting dalam kalender Indonesia itu sebagai sebuah aba-aba untuk mengatakan “yeaaay libur telah tiba.” walaupun hanya satu tanggal berwarna merah, itu sangat memberi arti :-p

Terdengar gaung kata-kata emansipasi wanita setiap mendekati tanggal 21 april. Bahkan seolah tertanam secara paksa dalam pikiran saya hari kartini = emansipasi wanita. Rasa penasaran yang mendalam terhadap surat-surat dari raden Ajeng Kartini yang dikirimkan oleh beliau kepada sahabat-sahabatnya noni-noni Belanda, membuat tangan ini bertanya kepada profesor segudang informasi “Google.” Akhirnya saya menemukan beberapa link yang menjelaskan tentang surat-surat ajaib yang menjadi cikal bakal kemerdekaan kaum perempuan Indonesia. Terlalu panjang jika saya ikut menulis apa saja surat R.A Kartini di sini. Jika sobat penasaran juga, silahkan bertanya kepada profesor dengan mengetik key word “surat-surat Kartini.” maka akan muncul ribuan referensi😉

Satu yang menjadi sebuah kesimpulan saya begitu membaca cuplikan-cuplikan surat ajaib itu. “KELUHAN.” isi surat itu merupakan keluhan R.A tentang kondisi yang dihadapinya pada masa itu. Kalau pada zaman sekarang  mungkin istilahnya galau kali ya🙂. Yap! saat itu raden ajeng Kartini lagi galau. Lalu apa yang menjadikan surat-surat itu menjadi ajaib dan dijadikan sebagai cikal bakal mansipasi wanita?

1. Optimis

r.a Kartini menceritakan kepada sahabat-sahabatnya bahwa dirinya selalu merasa optimis untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang lebih baik itu seperti apa? pada masa itu, menurut beliau kehidupan yang lebih baik adalah kehidupan yang memberinya peluang sebagai seorang wanita untuk memperoleh pendidikan yang baik.

“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya.” (Suratnya kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

Pada masa kini? bagaimana kehidupan yang lebih baik untuk kaum perempuan? Jajaran gelar berderet rapi memperpanjang penulisan nama seorang perempuan pada masa kini. Itu berarti pendidikan yang setinggi-tingginya sudah dapat dinikmati. Namun yang menjadi sebuah pertanyaan, apakah dengan pendidikan tinggi itu menjadikan seorang perempuan lebih baik kondisinya dari sebelumnya? Mari kita hitung bersama berapa jumlah perempuan dengan gelar pendidikan tertingginya yang belum bisa memberikan arti untuk kehidupannya? Mungkin gelar itu hanya semacam syarat untuk mendapat penghormatan dari orang lain. Mungkinkah?

2. Semangat Menolong Orang lain

Keadaan kaum perempuan pada masa itu masih terkekang dengan banyaknya aturan-aturan yang membelenggunya untuk memperoleh pengetahuan, pendidikan, dan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Kartini berkeinginan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya semata-mata bukan demi keuntungan pribadinya, melainkan untuk berbagi dengan perempuan lainnya.

“Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih sukar dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.” (Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1902)

Sebuah rasa kepedulian yang kian terkikis oleh zaman pada saat ini. Atau mungkin hidup ini yang terlalu susah dijalani untuk diri sendiri? sehingga orang lain seakan tak punya arti lagi. Perempuan inspiratif adalah perempuan yang dapat memberikan begitu banyak arti untuk orang lain. Untuk keluarganya, untuk lingkungan di sekitarnya, dan untuk negaranya. Tak harus seorang perempuan kaya dengan hartanya, kuasa dengan jabatannya, pandai dengan segudang title dunia yang diperolehnya. Seorang perempuan sederhanapun mampu melakukannya.

3. Sebuah Kebanggaan

Dalam sebuah peribahasa arab disebutkan bahwa “bukanlah seorang pemuda, dia yang berkata ini ayahku (membanggakan siapa ayahnya dengan jabatan yang dimilikinya). Tapi seorang pemuda adalah dia yang berkata inilah aku” Demikian pula r.a Kartini menuliskan sebuah surat yang memiliki arti serupa. Bahwa dirinya tidaklah bangga dengan keningkratan yang didapatkannya hanya karena keturunan dari kedua orang tuanya, namun tidak dapat memberikan banyak arti.

“Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini.” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Seseorang perempuan, dapat memperkuat eksistensinya dalam kehidupan ketika keberadaannya memberikan begitu banyak arti. Untuk kelurganya, untuk lingkungannya, bahkan untuk kehidupan negaranya. Dalam kehidupan keberadaanya menjadi sebuah oase yang mendamaikan. Bayangkan seorang suami dan anak-anak tanpa oase itu? mungkin akan tercerai berai mencari sendiri-sendiri oase lain yang berada di luar rumah.

Menyambung kepada peran seorang perempuan. Memang mungkin banyak perempuan yang tidak setuju jika peran utamanya ada di dalam rumah. Ngurusin rumah, ngurusin anak dan sebagainya. Rumah, rumah dan rumah. Tapi tunggu dulu, saya bilang PERAN UTAMANYA. Yang namanya peran utama berarti kewajiba pertama. Setelah itu selesei, silahkan juga ingin beraktifitas di luar rumah, tentu dengan izin orang tua dan izin suami bila yang sudah bersuami.

Kadang kala justru peran utama inilah yang terbengkelai. Lalai karena kesibukan di kantor menjadikan seorang perempuan pincang dalam memerankan peran utamanya. Akibatnya, bisa terlihat dari bagaimana generasi muda saat ini bertingkah polah. Banyak hal-hal negative baru yang menjadi trend masa kini. Salah satunya adalah tingkah polah siswi di salah satu SMA Toli-toli, bagaimana mereka mempermainkan gerakan-gerakan sholat yang sejatinya merupakan penghubung seseorang dengan penciptaNya.

Ingin menutup mata? Itu bukan salah perempuan donk. Benar! Itu memang bukan kesalahan seorang perempuan sepenuhnya. Namun, perempuan mempunyai peran besar di dalamnya. Kenapa? Karena sejatinya perempuan atau lebih tepatnya seorang ibu adalah madrasatul ula (madrasah pertama) dan madrasatul kabir (madrasah terbesar) untuk anak-anak. Masih mau mengingkari?

Seorang teman jurusan kebidanan berkata “ketika anak baru lahir, maka dia akan ditangkupkan di atas badan ibunya, dan instingnya untuk pertama kali bekerja adalah mencari sumber makanannya berupa asi.” Pada saat itu seorang anak belajar untuk pertama kalinya, dan siapa yang mengajarinya? IBU.

Semoga akan muncul generasi-generasi Kartini yang tidak hanya suka mengeluh dengan kondisinya, tapi mampu untuk bangkit dan menjadikan dirinya berarti bagi keluarganya, perempuan lainnya, dan lingkungan di sekitarnya. Mari pahami makna hari kartini dengan lebih bijak. Bukan saja hanya menuntut adanya kesetaraan dan emansipasi namun tidak mengetahui apa itu sebenarnya.😀

405748_2246051050945_318032718_n