Alhamdulillahirobbil ‘alamin.. setelah disibukkan oleh segala sesuatu tentang PERNIKAHAN, akhirnya bisa kembali menulis lagi. Tidak dapat dipungkiri bahwa urusan pernikahan adalah urusan yang menyita banyak tenaga dan pikiran. Walaupun keinginan kami adalah melangsungkan pernikahan dengan hikmat dan sederhana, namun tetap saja segala sesuatunya membutuhkan persiapan yang maksimal. Hal ini dikarenakan pernikahan merupakan moment sakral yang diharapkan hanya berlangsung satu kali seumur hidup, aamiin😀

Tidak hanya berhenti sampai pada saat pernikahan itu dilaksanakan, kesibukan pasca pernikahan itu jauh lebih banyak. sibuk silmi kesana kemari meminta doa restu disertai dengan sedikit petuah dari saudara-saudara yang kami kunjungi menjadi pelengkap prosesi pasca pernikahan. Alhamdulillah kami sudah melewatinya🙂

Aku kembali menulis, dan ini adalah tulisan pertamaku pasca menyandang status baru (istri). Itupun atas desakan suami yang menginginkan aku untuk kembali aktif berbagi ilmu dalam tulisan. Alhamdulillah kepada Dia Dzat Yang Maha Kuasa, aku dipertemukan dengan seseorang yang berjanji untuk selalu mendukungku dalam menyebarkan ilmu agama. Suamiku seorang mahasiswa syariah di LIPIA, sebuah lembaga pendidikan yang bekerja sama dengan universitas di Madinah dalam mencetak generasi-generasi da’i handal. Saat ini beliau masih duduk di mustawa tsalis (semester 3) fakultas Syariah. Masih kurang 2,5 tahun lagi untuk menamatkan pendidikannya menjadi seorang Lc. waktu kuliah yang ditempuh berbeda dengan kampus-kampus pada umumnya. Di LIPIA butuh waktu 7 tahun untuk menjadi seorang Lc. Waktu yang tidak singkat. Dan suamiku pernah merasakan iri kepada teman-teman di kampus umum yang sudah berhasil menyelesaikan perkuliahan mereka dan sekarang sudah sibuk untuk mencari penghasilan dengan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan. Namun hiburku kepadanya

“Dokter saja yang mengobati penyakit yang tampak pada badan seseorang, membutuhkan waktu 7 tahun untuk mendapatkan izin praktek, karena apa yang dilakukannya bukan perkara yang mudah namun menyangkut nyawa seseorang. Apalagi seorang ustadz yang tugasnya mengobati penyakit hati dan akhlak yang kasat dari pandangan, waktu 7 tahunpun masih sangat kurang untuk menjadi spesialis. Karena itu waktu belajar seorang ustadz tidak terbatas oleh deretan angka dalam kalender.”

Dan alhamdulillah kata-kata itu berhasil membuatnya tenang. Menjadi istri seorang tholib harus pandai dalam memainkan perannya, itu adalah nasihat dari orang tua kami. Kita harus selalu menjadi pendukung utama suami untuk selalu murojaah hafalan, dan setiap mata kuliah yang telah dipelajari di kampus agar suami dapat menyelesaikan pendidikannya dengan cemerlang. Oleh karena itu kami bertekad untuk menjadi lebih baik setelah menikah. Dan atas dasar itulah saya mengadakan perjanjian dengan suami agar setiap malam, selepas sholat isya, suami mengajarkan kepada saya apa-apa saja yang didapatnya di kampus hari itu. Selain untuk lebih memafahamkan suami tentang ilmu yang didapatkannya, dengan cara ini, saya bisaberbagi dengan yang lainnya melalui tulisan🙂

DSC_0221