Bagi para perempuan yang sudah memasuki usia baligh, pasti sudah tidak asing lagi dengan tamu bulanan rutin yang datang setiap bulan. Ya! orang-orang sering menyebutnya dengan istilah haid, datang bulan, atau menstruasi. Haid, mungkin terkesan sebagai sesuatu yang sangat biasa karena rutin dialami oleh perempuan setiap bulannya. Namun ternyata ada berbagaimacam hukum yang menyertai haid tersebut termasuk bagaimana hukum ibadah-ibadah wajib dan sunah yang dilakukan oleh perempuan yang sedang mendapat haid. semoga apa yang saya kutip ulang dari apa yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Bin Shaleh Al’Utsaimin dapat menambah khasanah pengetahuan kita semua๐Ÿ˜‰

images

1. Makna Haid

Menurut bahasa, haid berarti sesuatu yang mengalir. Sedangkan menurut arti syara’ adalah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan terjadi pada waktu tertentu.

2. Usia dan Masa Haid

Usia haid biasanya antara 12 sampai 50 tahun . Para ulama berbeda pendapat tentang adanya batasan tertentu usia haid ketika seorang perempuan mendapatkan haid sebelum atau sesudah usia tersebut. Ad Damiri mengatakan bahwa yang menjadi acuan adalah keberadaan darah haid itu sendiri, bukan pada usia atau kondisi tertentu. Pendapat inilah yang benar dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Jadi kapanpun seorang perempuan mendapatkan darah haid, berarti dia haid. Tidak peduli usianya masih dibawah 12 tahun atau diatas 50 tahun dan hukum haid beralku atasnya.

Mengenai lamanya masa haid, para ulama berbeda pendapat tentangnya.ย  Ibnu al Mundzir menyatakan “ada kelompok yang berpendapat bahwa masa haid tidak mempunyai batasan minimal atau maksimal hari.” Ada 5 rujukan yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan ini:

  • Firman Allah subhaanahu wa ta’aala: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: haid itu adalah suatu kotoran, oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci…” (QS. Al baqarah : 222)
  • Diriwayatkan dalam shahih Muslim bahwa nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah yang mendapatkan haid ketika dalam keadaan ihram untuk umrah: “lakukanlah apa yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah sebelum kamu suci.” (HR. Muslim: 4/30). Dalam Shahih Al Bukhari diriwayatkan bahwa nabi shollallohu wa sallam bersabda kepada Aisyah “Tunggulah, jika kamu suci, maka keluarlah ke tan’im.”
  • Tidak terdapat rincian hari secara pasti di dalam alquran dan sunnah padahal ini merupakan sesuatu yang penting. Sebagaimana Allah dan RasulNya telah menjelaskan tentang sholat secara rinci mengenai jumlah rakaatnya, waktu-waktunya, ruku dan sujudnya. Alquran dan Sunnah merupakan sumber rujukan utama hukum-hukum islam. Seperti firman Allah Ta’ala “…..Kami turunkan kepadamu Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu (QS.An Nahl : 89). hitungan hari untuk masa haid tidak disebutkan di dalam Alquran dan Sunnah karena itu hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan masa haid.

    Syaikhul Ibnu Taimiyah dalam salah satu kaidah yang dibahasnya mengatakan: “Diantara sebutan yang dikaitkan Allah dengan berbagaimacam hukum dalam kitab dan sunnah yaitu sebutan haid. Allah tidak menentukan batasan minimal dan maksimalnya ataupun masa suci diantara dua haid. Padahal umat membutuhkannya dan banyak cobaan yang menimpa karenanya. Bahasapun tidak membedakan antara satu batasan dengan batasan lainnya. Maka barangsiapa menentukan suatu batasan dalam masalah ini, berarti dia telah menyalahi kitab dan sunnah. (Risalah fil asmaa allati ‘allaqa Asy Syaari al ahkaama bihaa, hal 35)

  • Qiyas bahwa Allah menerangkan alasan haid sebagai kotoran. maka manakala haid itu ada, berarti kotoranpun ada. Tidak ada perbedaan antara hari pertama haid,dengan hari keenambelas atau hari ketiga dengan hari kedelapan, selama haid tersebut masih ada berarti seorang perempuan belum bisa dikatakan suci.
  • Jika ternyata pendapat yang menyatakan tidak ada batasan minimal atau maksimal haid adalah pendapat yang kuat dan rajih, maka perlu diketahui bahwa setiap perempuan yang mendapatkan darah alami, bukan disebabkan luka atau lainnya, berarti darah tersebut adalah darah haid tanpa mempertimbangkan usia atau masa.

3. Darah Berwarna Kuning atau Keruh

Jika seorang perempuan menjumoai darah berwarna kuning atau keruh yang bersambung dengan masa haid, maka darah tersebut adalah darah haid dan berlaku atasnya hukum-hukum haid. Namun jika terjadi pada masa suci, maka itu bukan darah haid. Seperti yang disampaikan oleh ummu Athiyah Radhiyallahu ‘anha:

“Kami tidak menganggap sesuatu apapun (haid) darah yang berwarna kuning atau keruh sesudah masa suci.”

4. Darah Haid Keluar Secara Terputus-putus

Kita sering menjumpai seorang perempuan yang mengalami keluar darah secara terputus-putus, dalam hal ini sehari keluar dan sehari tidak. Ada dua kondisi yang membahas tentang hal ini:

  • jika kondisi ini selalu terjadi pada seorang wanita setiap waktu, maka darah tersebut adalah darah istihadhah.
  • jika kondisi ini tidak selalu terjadi tetapi kadang-kadang saja dan seorang perempuan mempunyai masa suci yang tepat, maka para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kondisi pada saat tidak keluar darah, apakah waktu itu adalah masa suci atau masa haid

madzab Imam Asy Syafi’i menjelaskan bahwa keadaan itu termasuk ke dalam masa haid sebab dalam kondisi tersebut tidak terdapat lendir putih. Demikian pula yang disampaikan dalam madzab Imam Abu Hanifah. adapun pengikut madzab Imam Ahmad bin Hambal, jika keluarnya darah haid dan jika berhenti berarti suci. Dikatakan dalam kitab Al Mughni jika berhentinya darah kurang dari sehari maka seyogyanya tidak dianggap sebagai keadaan suci.

5. Hukum-hukum Haid

  • Shalat

Diharamkan bagi wanita yang sedang haid mengerjakan shalat, baik fardu maupun sunnat, dan jika ternyata mengerjakan shalat, maka shalatnya tidak sah.

  • Me-qada Shalat

Seorang perempuan haid setelah matahari terbenam teatpi sempat mendapatkan waktu sebanyak satu rakaat sholat maghrib, maka wajib baginya mengqadha shalat maghrib tersebut setelah suci. Namun apabila seorang perempuan mendapatkan haid sebelum satu rakaat shalat, maka dia tidak wajib mengqadha sholat tersebut.

“Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat itu.” (Hadist Muttafaq ‘alaih)

“barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat ashar.” (Hadist muttafaq ‘alaih)

  • Membaca Al Quran

membaca dzikir, takbir, tasbih, tahmid, dan basmallah ketika hendak makan dan pekerjaan lainnya, membaca hadist, fiqh, doa dan aminnya, serta mendengarkan al quran maka TIDAK DIHARAMKAN bagi wanita haid. Hal iniberdasarkan hadist dalam shahih Al Bukhari dan Muslim dan kitab lainnya bahwa nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersandar di kamar Aisyah r.a yang ketika itu sedang haid, lalu beliau membaca alqur’an.

Membaca alquran dengan mata dan dengan hati tanpa dilisannya maka tidak apa-apa hukumnya seperti yang tercantum dalam kitab Syarh Al Muhadzdzab juz 2 hal 362 Imam An nawawi. hal ini dibolehkan tanpa adanya perbedaan pendapat. Adapun jika perempuan haid membawa al quran dengan dilisankan, banyak ulama yang memperbolehkannya atau mengharamkannya. Tetapi Al Bukhari, Ibnu Jarir At Thabari dan Ibnul Mundzir membolehkannya. Ibnu Taimiyah dalam Al Fatawa kumpulan Ibnu Qasim mengatakan ” “pada dasarnya tidak ada hadist yang melarang wanita haid membaca alquran. sedangkan pernyataan yang menyatakan bahwa perempuan yang sedang haid dan orang junub tidak boleh membaca alquran adalah hadist dhaif menurut kesepakatan para ahli hadist.

Setelah membaca pendapat para ulama, maka sebaiknya bagi perempuan yang sedang haid tidak membaca al quran secara lisan kecuali jika diperlukan misalnya seorang guru yang sedang mengajari membaca al quran muridnya.

  • Puasa

Diharamkan bagi perempuan yang sedang haid untuk berpuasa baik puasa wajib maupun puasa sunah dan tidak sah puasanya apabila dia melakukannya. Akan tetapi dia berkewajiban mengganti puasa yang wajib di hari lain

Hadist yang diriwayatkan oleh Asiyah r.a “Ketika kami mengalami haid, diperintahkan kepada kami mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat (hadist muttafaq ‘alaihi)

  • Thawaf

DIharamkan bagi perempuan yang sedang haid untuk meakukan thawaf di ka’bah, baik yang wajib maupun yang sunah dan tidak sah thawafnya.

Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah r.a ” Lakukanlah apa saja yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah sebelum kamu suci.”

Jika seorang perempuan telah mengerjakan segala manasik haji dan umroh lalu datang haid sebelum keluar untuk kembali ke negaranya, dan haid ini terus berlangsung sampai hari kepulangan, maka dia boleh berangkat tanpa thawaf wada’

Hadist Ibnu Abbas r.a “Diperintahkan kepada jamaah haji saat-saat terakhir bagi mereka berada di baitullah (melakukan thawaf wada’) hanya saja hal ini tidak dibebankan kepada perempuan yang sedang haid.” (hadist muttafaq ‘alaih)

  • Berdiam Diri di Masjid

Diharamkan bagi perempuan yang sedang haid berdiam diri di dalam masjid

  • Jima’ (bersenggama)

Diharamkan bagi sang suami melakukan jima’ dengan istrinya yang sedang haid, dan diharamkan bagi sang istri memberi kesempatan kepada suaminya melakukan hal tersebut.

  • Menghadiri shalat Ied

Perempuan yang sedang haid diperbolehkan untuk ikut hadir di tempat sholat ied seperti di lapangan atau di halaman masjid untuk mendengarkan dioa dan ceramah tetapi tidak diperbolehkan untuknya mendekati tempat sholat ied tersebut dilaksanakan. Jadi perempuan yang sedang haid tersebut dapat ikut mendengarkan ceramah dan doa saat sholat ied di pinggir lapangan atau di luar area sholat ied dilaksanakan.

Diriwayatkan dalam shahih Al Bukhari dan Muslim, dari Ummu Athiyah radiyallahu ‘anha bahwa ia mendengar nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agar keluar para gadis, perawan, dan perempuan-perempuan haid, yakni ke shalat idhul fitri dan idhul adha serta supaya mereka ikut menyaksikan kebaikan dan doa orang-orang yang beriman. Tetapi perempuan haid menjauhi tempat shalat.” (muttafaq ‘alaih)

Demikianlah sedikit ilmu yang bisa saya bagi kepada para muslimah sekalian mengenai kebiasaan haid yang kita dapatkan dan apa saja hukum yang menyertainya. terkadang saya sendiripun merasa bingung dengan beberapa hal yang diperbolehkan atau tidak ketika sedang haid. Semoga dengan adanya pembahasan ini bisa menjadi pencerahan untuk kita semua. Subhaanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan perempuan dengan segala kelebihan dan keindahan yang melekat dalam dirinya. wallahu a’lam bi showab๐Ÿ˜€