Sesuatu yang tersisa dari pertandingan sepak bola yang sayangnya merupakan satu-satunya hal yang bisa membuat masyarakat Indonesia sedikit lupa dengan kemiskinan, sedikit masa bodo dengan kasus-kasus korupsi, sedikit melupakan percekcokan antar kampung dan perkelahian antar suku. Ketika pelui berbunyi priiiiiiit sebagai awal dimulainya pertandingan sepak bola, yang ada hanya wajah-wajah serius yang langsung terarah ke televisi. Tua muda kaya dan miskin seolah terhanyut dengan permainan 22 orang yang memperebutkan 1 bola di layar kaca. Tidak masalah menonton hanya di rumah saja, justru terlihat lebih tajam daripada berdesak-desakan di stadion, bisa sambil ngopi atau ngeteh dan menyantap beberapa biji gorengan, gratis pula nggak harus membeli secarik tiket.

Ya! sepak bola seakan menghipnotis semua kalangan, terlebih lagi jika yang bermain sudah mengatasnamakan negara atau tim nasional. Seakan tumbuh secara refleks dalam dada dan tanpa disadari keinginan untuk ikut bergabung mendukung timnas walaupun hanya dengan teriak-teriak sendiri di kamar kos, atau teriak bersama-sama dengan tetangga sebelah di rumah masing-masing. Orang yang tak suka sepak bolapun dipaksa untuk ikut menjadi pendukung pasif dengan menonton pertandingan tersebut karena televisi di rumah- rumah biasanya akan disabotase oleh para laki-laki penggila bola.

Di awal saya mengatakan tentang sesuatu yang tersisa dari pertandingan sepak bola, kenapa malah melantur kemana-mana ya?๐Ÿ˜€ oke kembali ke fokus. Yang tersisa dari pertandingan sepak bola adalah euforia kemenangan bagi tim yang berhasil memenangkan pertandingan dan air mata kesedihan bercampur dengan kekecewaan bahkan terkadang dibumbui dengan kegeraman bagi supporter yang timnya kalah dalam pertandingan. Apalagi jika kekalahan tersebut merupakan kekalahan telak yang tidak bisa ditoleransi pasti akan berujung dengan banyaknya kritikan yang terkadang lebih menjurus kepada cacian.Ya jadi atlet itu menyenangkan, tapi susah dijalanin, begitu ungkapan yang terkenal yang diambil dari sebuah iklan provider. Menyenangkan ketika menang, mendapat sanjungan dan bonus dari negara (katanya, semoga tidak dikorupsi). Namun harus siap mental ketika badan sudah lelah dan hinaan yang datang menghampiri. Resiko hehe๐Ÿ™‚

Bukan masalah itu sebenarnya yang mau saya bahas. Namun tentang sesuatu yang berhubungan dengan nasionalisme. Semangat nasionalisme yang menyala berkobar terkadang gampang sekali dijadikan tunggangan oleh orang tak bertanggungjawab untuk mengadu domba beberapa negara. Tidak usah jauh-jauh Indonesia dan Malaysia saja. Kalau sudah disentil masalah nasionalisme, seakan membuat kuping masing-masing negara memerah untuk sedetik kemudian langsung berlomba-lomba untuk membela bangsa dan negaranya. Terlepas dari peristiwa-peristiwa yang beberapa tahun ini mencuat diantara dua negara ini dan membuat hubungan yang tidak sedap diantara keduanya, saya tidak akan membahasnya karena dari segi politik lebih banyak para pakar dan ahli yang pantas untuk membicarakannya daripada saya.

Yang dikhawatirkan dari itu semua sebetulnya adalah tentang pemecahbelahan umat Islam. Mengingat mayoritas penduduk di kedua negara adalah Muslim. Bukannya sudah jelas bahwa Al quran menyebutkan, orang yahudi dan nasrani tidak akan menyerah sebelum kita mengikuti mereka. Dan menyerang umat Islam secara langsung dengan peperangan hanya akan berujung dengan kematian yang sia-sia karena apabila umat Islam sudah bersatu, akan terjadi sebuah kekuatan yang sangat dasyat. Oleh karena itu, cara lain yang bisa digunakan oleh musuh-musuh Islam adalah dengan memecahbelah umat Islam, salah satu yang saya tahu adalah dengan paham nasionalisme yang kelewatan tersebut.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Albaqoroh : 120)

Dengan paham nasionalisme tersebut, umat Islam dikenalkan dengan kewajiban untuk membela negaranya sampai titik darah penghabisan. Oleh karena itu hal ini seakan-akan lebih penting daripada membela agamanya. Umat Islam dibuat terlena dengan nasionalisme dan menjadi terkotak-kotak. Mereka tidak akan segan-segan untuk memusuhi siapa saja yang berani mengejek, mencela, dan mencaci maki negaranya sekalipun dia adalah seorang muslim juga. Kesadaran bahwa sesama umat musim adalah bersaudara menjadi lenyap dengan adanya paham ini. Dan yang menjadi titik pusat dari kesemuanya adalah umat Islamnya sendiri juga sangat gampang untuk diprofokasi.

cukup dengan membuat account jejaring sosial dan membuat status yang isinya menjelek-jelekkan negara lain. Sangat mudah dan hal itu seperti sebuah bom waktu yang akan meledakan emosi tak seperapa lamanya. Setelah meledak semua emosi dan saling serang, sekarang kita lihat siapa yang tertawa terbahak di belakang sana? Dengan hanya sekali sentil tanpa tenaga, tanpa nyawa yang dipertaruhkan, dan tanpa harta yang dikeluarkan, proses adu domba terjadilah sudah. Mudah sangat mudah. Dengan begitu bagaimana mungkin umat Islam akan bersatu untuk melawan musuh-musuh Islam sementara dari internalnya saja sudah keropos terpecah belah? Bukannya dalam surat Ash shaf Allah sangat menyukai umat Islam yang bergandengan tangan dan terlihat sangat gagah seperti sebuahbangunan kokoh yang tidak mempan dihancurkan dengan meriam apapun.

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokohย ๏ดพ Ash Shaff:4 ๏ดฟ

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujuraat : 9-10)

Semoga kita bisa memaknai arti nasionalisme dengan jauh lebih bijak. Tidak hanya terbatas dengan membela negara dengan cara apa saja dan bagaimana saja namun dengar tatik-taktik cerdas tang dapat membuat negara Indoensia ini maju dan dapat diperhitungkan dengan berbagaimacam prestasinya di kancah internasional. amiin semoga bermanfaat.๐Ÿ™‚

_DSC0108