Kami adalah dua hal yang tidak pernah bertemu. Terlalu jauh untuk bisa mengenal satu dengan yang lain. Jangankan untuk bisa memahami, saling penyapapun rasanya tak mungkin terjadi. Hanya malam panjang yang membuat kami seolah tidak kehilangan harapan untuk sekedar menyampaikan pesan.

Semarang, tetap mempertahankan citranya sebagai salah satu kota panas di Indonesia. Seperti juga siang ini. Sejauh kepala mendongak ke langit untuk sekedar mencari awan tipis sebagai peneduh, hanya bentangan langit biru yang membentang. Tidak hanya cerah, tapi sangat terik. Allah memang Maha Adil dalam membagikan rezeki kepada hambaNya. Suasana inilah yang menjadi media para tukang rujak untuk bertebaran di sekitar kampus mencari karuniaNya. Apalah arti sebuah keluh dan kesah, karena dibalik sengatan matahari ini, Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada manusia. KemurahanNya tiada banding dalam mengatur rezeki berjuta-juta makhlukNya.

“Gila ni es udah cepet amat mencairnya.” Dahlia, mengaduk-aduk gelas es teh di depannya.

“Pusiiiiing.” aku yang mulai bosan dengan tumpukan buku-buku tebal di hadapannya. “Teoriku kurang melulu. Kalau kayak gini ceritanya kapan aku bisa cepet-cepet ngelarin skripsi?”

“Udah, dibawa enjoy aja.” Kata Mawar masih cekikikan menonton video-video korea kesukaannya dengan soulmate tersayangnya Melati.

“Temen-temen gimana kalau kita ikut refreshing ke Bogor bareng sama himpunan mahasiswa jurusan.”

Alhasil, disinilah aku sekarang. Bersama dengan rombongan mencari secercah hiburan untuk sekedar mengobati kepenatan. Bogor-Depok adalah destinasi tujuan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dalam mengadakan touring bertajuk together we are one. Kubah Emas objek terakhir yang kami kunjungi sebelum akhirnya harus kembali lagi ke Semarang. Dan disinilah aku untuk pertama kalinya bertemu dengannya.

Kubah Emas, sampai hari ini ane tidak tahu jawaban pasti mengapa orang-orang menjadikannya sebagai objek wisata. Apa karena bangunannya yang indah dan megah, lengkap dengan lapisan emas di setiap kubahnya? Atau karena wilayahnya yang dekat dengan Bogor, yang memang biasanya menjadi tujuan orang-orang melepas kepenatan. Atau juga karena memang tidak ada objek wisata lain di Depok ini. Entahlah. Yang jelas ane kesini untuk sholat asar sembari menikmati udara sore yang cerah. Dimanapun itu, masjid buat ane adalah salah satu bangunan yang paling menyejukkan jiwa. Bukan hanya buat ane, namun buat seluruh kaum muslimin yang selalu berusaha menautkan hatinya kepada sang Khalik melalui rumahNya yang mulia.

Sebuah nomor masuk ke dalam inbox telepon seluler. Cukup mengganggu ritual ane bercumbu dengan atmosfir di sekitar masjid yang mendamaikan. Pesan singkat dari seseorang yang lama sekali tidak besua.

***

Dan disinilah aku, di serambi sebelah kiri kubah emas, tempat orang-orang bersuka cita mengabadikan kunjungannya dengan berfoto ria. Spot ini adalah spot terbaik untuk mendapatkan angel kubah emas yang sangat keren. Badan masjid dan kubahnya yang berlapis emas, sempurna tertangkap lensa kamera. Banyak yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membawa pulang oleh-oleh berupa kenangan dalam frame. Namun tidak denganku. Aku hanya duduk sambil berusaha menikmati tingkah polah teman-temanku dalam berfoto.

“Habis ini langsung balik ke Semarang?” Suara seseorang di seberang membuatku secara refleks menoleh ke arahnya.

“Iya. Kalau kamu?

“Ane mah di sini saja. Kuliah juga deket. Eh iya, denger-denger ente sudah hampir mengakhiri masa lajang? Waktu itu ada teman yang pernah cerita.” Katanya

“Aah kata siapa? ternyata kalian gosipin aku ya.” Jawabku sembari melempar canda.

“Ya.. kalau memang benar, ane pesen kambing guling ya buat hidangannya.”

“Haha mana ada? Kalau hidangan bisa dipesan. kado juga bisa dipesan donk.”

“Ya.. boleh, asal sesuai dengan budget mahasiswa saja haha. EH udah hampir maghrib. Ane langsung balik habis maghriban nanti. Semoga selamat sampai tujuan.” Ujarnya.

“Iya. Makasih ya.”

***

Alhamdulillah masih bisa disabungkan kembali tali silaturahim kami. Suatu kebetulan bisa bertemu dengan sesama alumni pesantren. Kami memang seharusnya sudah dewasa pada usia yang sekarang. Dan seketika terbersit rasa iri kepada mereka semua. Mereka sebagian besar sudah hampir menyelesaikan tanggungjawabnya kepada orang tua, sementara ane masih harus menunggu beberapa tahun lagi. Dimana ketika ane lulus nanti, seharusnya mereka sudah berada dalam taraf yang lebih makmur. Pekerjaan, bahkan mungkin pasangan pasti sudah mereka punyai. Ya.. semua ini adalah bentangan skenario langit yang harus kami semua lalui. Baik ane maupun mereka, Allah pasti punya rencana yang luar biasa indah.

***

Bencana! Sepulang touring bukannya pikiran ini menjadi lebih refresh namun justru bertambah satu lagi hal yang membuatnya semakin ekstra untuk berfikir. Ooooh came on! Skripsi seharusnya sudah cukup untuk mengalihkan segala macam bentuk pikiran. Namun untuk hal yang satu ini bagaikan asap yang secara halus merasuki setiap sel otakku. MENGGANGGU.

Bukankah cukup diri ini menyakiti hati sendiri? setelah kepergian lelaki itu beberapa waktu yang lalu. Bukannya sudah cukup alasan untuk membuatku jera dan tidak akan pernah lagi bermain-main dengan yang namanya perasaan?

***

“Hai, kemarin katanya habis ketemu sama Senja. Gimana kabarnya?” Kata Rizal teman sekamar yang juga merupakan alumni pesantren yang sama denganku.

“Alhamdulillah baik. Lagi fokus skripsi katanya. Ketemu juga tidak sengaja. Pas ane lagi main ke Kubah Emas, up date status eh ternyata dia ada di tempat yang sama juga.”

“Kayaknya pertemuan kemarin begitu berkesan buat Senja, lihat tuh status fb nya jadi sering galau.”

“Haha ngawur aja ente. Atas bukti apa ente mendakwa seperti itu? Ya wajarlah buat orang seusia kita-kita yang seharusnya sudah hampir lulus kuliah untuk mulai fokus mencari pendamping.”

Cool and calm, itu memang gaya khas dari ane dalam menghadapi setiap orang. Jangankan orang yang tidak dekat dengan ane, orang yang sudah ane kenal baikpun tetap saja ane cool-in.

Ngomong-ngomong soal gurauan si Rizal, ane tidak mau ambil pusing dengannya. Ya jawaban yang ane lontarkan itu memang jawaban paling masuk akal. Wajarkan cewek seusia dia galau. Lagi pula ane nggak mau ke-GR-an. Ada satu cerita menyebalkan ketika ane masih unyu-unyu dan duduk di bangku MTs dulu. Ya gini-gini ane pernah ngalami istilah cimon juga alias cinta monyet. Waktu itu ane sudah memberanikan diri untuk menulis surat kepada dia sang pujaan hati waktu itu. Yang ada surat ane dibuang ke tong sampah. Walaupun setelah itu sempat diambil lagi untuk sekedar dibaca olehnya. Namun itu adalah satu-satunya pengalaman yang membuat ane jera untuk mengalami hal yang sama. Prinsip ane, biarkan mereka yang menunjukkan dulu perasaannya, setelah ane mendapat cukup bukti dan menilik kembali kedalam perasaan ane sendiri, baru ane akan bertindak. Cukup.

***

Cletuk. Bunyi message yang masuk ke dalam inbox fb. Saat itu salah satu chatroom berkedap-kedip. Rupanya teman dari Arab Saudi yang mengirimnya. Sepatah dua patah kata, basa-basi menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing akhirnya terbersit keinginan untuk menceritakan apa yang terjadi. Setelah mempertimbangkan kepada siapa aku harus menemukan titik terang yang tidak menyesatkan. AKhirnya kepada dia lah aku memutuskan untuk bercerita dengan pertimbangan, dia adalah orang yang paham tentang agama, dan karenanya menurutku dia tahu bagaimana caranya harus bersikap.

“Perasaan yang menggu itu tidak ada yang salah dengannya. Namun kita harus bijak menyikapinya. Khatidjah jatuh cinta dengan kanjeng nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wassalaam. Namun sebagai perempuan dia menyampaikannya melalui perantara tidak menyampaikannya secara langsung kepada siapa dia jatuh hati.”

“Iya syeh aku tahu itu. Aku hanya ingin meminta nasihat bagaimana untuk menekan perasaan ini? untuk meyakinkan diri agar tetap berada pada koridor agama. Beneran deh syeh rasanya mengganggu sekali. Sementara aku tahu orang tersebut tidak mempunyai rencana untuk berhubungan serius dalam waktu dekat ini. Setidaknya bagaimana agar aku tidak memutus hubungan silaturahim dengannya?”

“Bersabarlah. Jika Allah berkehendak, maka akan dipermudah.”

Ya! Setidaknya aku mendapat pencerahan walau tidak dapat mengatasi badai yang hampir merobohkan iman di hatiku. Bukannya aku sudah pernah berdoa “Allah izinkan aku jatuh cinta lagi ketika aku dan dia yang membuatku jatuh cinta siap untuk menjemput rihoMu.” jika kondisinya seperti sekarang ini, maka aku harus lebih dekat kepadaNya. Karena Dia adalah sekokoh-kokohnya Penjaga. Al Aziz.

***

Berita itu sontak membuat ane terkejut bukan main. Berita dari tanah Arab yang bermill-mill jauhnya sampai kepada ane hanya dalam hitungan menit. Betapa canggih teknologi saat ini. Bahkan ane yang masih berada dalah satu negara saja tidak bisa mengetahuinya. Namun dia di tanah dengan beratus-ratus hektar padang pasir mampu untuk memberikan informasi tersebut. Namun kecanggihan teknologi tidak dapat mengalahkan kekagetan ane. Namun sudah ane peringatkan dari awal, ane itu cool and calm.

“Ah ente nih syeh bergurau aja sukanya.”

“Yang ini serius akhi. Kalau memang belum siap, tidak usah direspon, dijadikan saja sebagai koleksi. Setidaknya ada yang bisa diceritakan untuk anak cucu.” Ujar sahabatku ini bercanda.

“Iya syukron infonya ya syeh.”

See? I am a cool and calm man. Padahal di dalam hati, ane merasakan juga gemuruh itu. Ar Rahman… bagaimana sebaiknya ane harus bersikap.

***

Oke. Alhamdulillah, untung selepas pesantren aku bertemu dengan wanita-wanita sholehah yang selalu merantaiku dengan agenda-agenda tarbawi dan keagamaan. Sedikit demi sedikit badai itu mulai sirna. Aku harus tetap fokus dengan tujuanku, seperti juga dia tetap fokus dengan cita-citanya.

Dia yang begitu serius mendalami kalamNya tidak mau aku kacaukan dengan gelitikan makhluk Allah yang terkutuk. Karena aku ingin, saat ini aku bisa berdamai dengan perasaanku sendiri. Tidak merasa tersakiti oleh diri sendiri. Tetap menanti misteri Allah yang akan aku hadapi.

***

Kami adalah dua hal yang tidak mungkin bisa saling menyapa. Seperti dua buah polar di utara dan di selatan, kami berjarak ratusan mill di Barat dan di Tengah pulau Jawa. Lembayung Fajar tidak akan pernah berjumpa dan menangkap siluet Senja. Apalagi memeluknya dan menjaganya. Kami terlalu jauh diantarakan oleh malam yang beku dan siang yang meleleh. Tapi berkat kuasaNya, Fajar yang selama ini hanya bisa mendengar cerita tentang Senja dari sang malam, pada akhirnya bisa bertemu dengan Senjanya, Terimakasih siang.

2012-02-04 18.08.18