543888_379174375542126_2807518_n“Ya Allah, dengan Al Quran, karuniakanlah kasih sayangMu kepada hamba. Jadikan AlQuran sebagai imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi hamba. Ya Allah, ingatkan hamba bila ada ayat yang hamba lupa mengingatnya. Ajarkan pada hamba, ayat yang hamba bodoh memahaminya. Karuniakan pada hamba kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Al quran bagi hamba sebagai hujjah ya Rabbal’alamin”

Ada yang pernah mendengar kalimat tersebut? Kalimat tersebut merupakan doa katamul Quran yang biasanya ada di bagian akhir alquran setelah tamat juz 30. Kalau saya tidak asing dengan doa tersebut karena dari kecil saya sudah sering mendengarnya. Doa tersebut dijadikan sebagai lagu dan sering diucapkan ketika waktu maghrib setelah adzan sembari menunggu imam datang di masjid desa saya. Kegiatan tersebut sering dikenal dengan nama puji-pujian. Puji-pujian yang sejak kecil saya dengar melalui speaker masjid tersebut secara otomatis membekas dalam ingatan saya tanpa saya menghafalnya. Awalnya saya tidak tertarik dengan artinya, tapi entah kenapa suatu hari saya penasaran sekali dengan arti kalimat-kalimat tersebut. Alhasil saya membacanya dan subhanallah ternyata artinya begitu indah. Pantas saja hati saya jadi adem banget setelah membaca doa itu.

Suatu hari saya membaca doa itu setelah katam alquran (dengan susah payah untuk mempraktekkan one day one juz). Ada hal menarik yang terjadi ketika saya selesai membacanya. Suami saya ternyata mendengarnya dan bertanya

“Doa apa yang tadi neng baca?”

“Doa katamul quran bang.” Jawab saya dengan polos.

Saya masih belum menyadari kenapa suami saya bertanya demikian. Namun kemudian dia melanjutkan pertanyaannya

“Neng selalu membaca doa itu?”

“Iya kalau katam al quran.”

“Neng tahu nggak dalil atau hujjah yang menganjurkan hal tersebut?”

“Maksud abang?”

“Iya. Ada dalil dari al quran atau sunah nggak yang menganjurkan untuk membaca doa tersebut? karena setahu abang, abang belum pernah menemui ayat quran atau hadist yang menganjurkan kita supaya membaca doa itun ketika katam al Quran.”

“Setahu neng juga nggak ada sih bang.” Saya menjawab dengan cengiran, agar wajah saya semakin terlihat polos :-p

“Terus kenapa neng membacanya?Kan nggak ada tuntunannya?”

Alasan saya waktu itu “Inikan doa bang. Bukannya kita boleh berdoa apa saja sesuai dengan kemampuan kita ya? kalau kita tidak bisa berdoa dengan bahasa arab, kita bisa berdoa dengan bahasa Indonesia, iyakan? Masalahnya dimana? Kecuali kalau hal itu merupakan sebuah ibadah, kita tidak boleh melakukannya tanpa adanya hujjah yang jelas. Lagian artinya bagus ko bang”

Saya masih membela diri mempertahankan argumen saya dan protes ketika suami saya mempertanyakan tentang doa yang saya baca tersebut.

“Itu memang doa dan artinya memang sangat bagus. Abang nggak menyalahkan neng ketika membacanya. Yang abang pertanyakan adalah kenapa neng selalu membacanya ketika katam al Quran padahal tidak ada perintahnya.”

“Ya karena judulnya doa katamul Quran” aku mulai terlihat cukup bodoh (cukup, tapi nggak bodoh-bodoh banget sih hehe masih mencoba membela diri. Astaghfirullahal’adzim )

“Sekarang gini, membaca yasin itu dilarang nggak? Nggak kan? kita boleh membaca yasin kapanpun kita mau. Tapi yang jadi pertanyaan adalah kenapa orang-orang mengkhususkan membaca yasin di malam jumat?Kenapa nggak malam-malam sebelumnya? Justru yang ada tuntunannya adalah membaca surah al kahfi kan ketika malam jumat dan hari jumat?”

Saya mulai mengerti setelah itu. Jadi yang ditekankan oleh suami saya adalah kenapa ko saya mengkhususkan waktu untuk membaca doa itu ketika katam al Quran saja? Membacanya tidak disalahkan sepanjang itu doa dan artinya baik, namun yang dipermasalahkan adalah mengkhususkan waktu untuk membacanya, itu yang tidak diperbolehkan kalau memang tidak ada tuntunannya. Hal ini dikhawatirkan akan menjadi sebuah kebiasaan yang tidak bertuntunan atau bid’ah. Karena yang dimaksud bid’ah adalah:

“Dan yang dimaksud bid’ah, berkata ahli bahasa, dia adalah segala sesuatu tanpa contoh yang terlebih dahulu.” (kitab Shahih Muslim)

Sedangkan Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan Dan yang dimaksud dengan sabdanya “Setiap bid’ah adalah sesat” yakni apa yang diadakan dan tanpa dalil padanya dari syari’at baik dengan jalan khusus maupun umum”

Alhamdulillah satu lagi ilmu yang didapat untuk berhati-hati dalam setiap apa yang dilakukan. Atas kekhawatiran saya ini, saya membaca doa ini bukan hanya ketika katam al quran tapi setiap selesai membaca alquran agar tidak ada di dalamnya perbuatan mengkhususkan waktu membaca. Semoga kita terhindar dari kebiasaan-kebiasaan yang akan menjerumuskan kita kepada hal-hal yang bernama bid’ah.

nb. Gambar di tulisan ini adalah Quran Rainbow dengan cover-cover menarik dan cantik, jika ada yang berminat memilikinya bisa hubungi saya ya 😉 (sekalian promosi)

Iklan