Alhamdulillah setelah vacum cukup lama akhirnya berkesempatan lagi untuk menulis 🙂

Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita selalu dihadapkan kepada sebuah kondisi dimana kita harus melakukan yang terbaik. Sebagai contoh ketika kita masih menjadi anak sekolahan dulu, agar menjadi anak yang pintar tentu kita diharuskan untuk belajar dengan sangat tekun. Bahkan kita melakukan usaha-usaha terbaik lainnya seperti les dan kursus untuk mendapatkan nilai yang terbaik pula. Atau ketika memberikan sesuatu kepada tetangga di samping rumah kita, tentu kita akan memberikan sesuatu yang terbaik. Tidak mungkin kita memberikan hasil panen buah pisang yang busuk kepada tetangga kitakan? Tentunya kita akan memberikan pisang yang matang lagi mulus bentuknya sebagai bentuk penghormatan kita kepada tetangga kita.

Usaha-usaha terbaik yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tentu untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik pula. Seperti sebuah pepatah menyebutkan ketika kita menanam kebaikan, maka kita akan menuai kebaikan pula. Suatu hari, sebuah perbincangan diwaktu santai antara saya dengan suami, masih berhubungan dengan yang terbaik. Kali ini tentang amalan yang kita tujukan kepada sang Pencipta. Sudahkan kita beramal dan beribadah dengan usaha terbaik kita sebagai bentuk penghambaan tertinggi kita kepadaNya? Jika kita memberikan yang terbaik kepada orang lain sebagai sebuah perhargaan dan rasa terimakasih kita, bagaimana dengan yang kita berikan kepada Allah?

“Dahulu, para sahabat selalu berlomba-lomba untuk memberikan amalan terbaiknya. Ada suatu peristiwa dimana Umar ingin sekali mengalahkan Abu Bakar dalam hal kebaikan. Maka ketika datang kesempatan untuk bersedekah, Umar menyedekahkan separuh harta yang dimilikinya. Namun ternyata Umar mengakui bahwa dia tidak pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dalam hal kebaikan karena diwaktu yang sama, Abu bakar menyedekahkan seluruh harta yang dimilikinya untuk Islam. Subhanallah.” Begitu kata suami memulai obrolan waktu itu.

Saya pun pernah mendengar cerita tentang sahabat yang dijamin masuk surga karena kedermawanannya, ada pula karena amalan puasa yang dilakukannua, sholat malam yang didirikannya, atau infak dan sedekah yang dibayarkannya. Semua itu menjelma menjadi amalan terbaik yang pada akhirnya menjadi tunggangan untuk menuju jannahNya.

“Sekarang coba kita pikirkan apa amalan terbaik kita? Sholat kita saja masih tidak cukup untuk dimasukkan ke dalam kategori kusyu, puasa kita masih dinodai dengan berbagaimacam perasaan-perasaan yang mungkin dapat mengurangi pahalanya. Sholat malampun kita tidak konsisten untuk menjalankannya.”

Amalam terbaik bukanlah seberapa besar kamu berzakat atau bersedekah di jalan Allah, bukan pula seberapa lama kamu bersujud dengan bercucuran air mata, bukan pula seberapa banyak kamu melakukan sebuah kebaikan, namun amalan terbaik adalah seberapa konsisten kamu dalam menjalannya. Saya bermuhasabah terhadap diri sendiri, tentang amalan dan ibadah yang saya lakukan, adalah secercah  harapan untuk menemukan amalan terbaik dari diri saya? Sholat lima waktu yang terkadang tidak kusyu, sholat malam yang banyak bolong-bolongnya dalam sebulan, puasa ramadhan yang terkadang masih dikotori oleh hal-hal tidak bermanfaat, bahkan sholat rawatib yang sering diabaikan. Astaghfirullahal’adzim begitu banyak kesempatan yang Allah berikan kepada hambaNya ini untuk mempersembahkan amalan terbaik kepadaNya namun begitu banyak kesempatan itu yang saya lewatkan sia-sia.

Di akhir pembicaraan, kami mencoba untuk menetapkan salah satu amalan yang akan kami kerjakan secara konsisten untuk kami jadikan sebagai amalan terbaik. Tidak terbatas kepada satu amalan, semoga kami bisa melakukan amalan-amalan lainnya secara konsisten dan semoga kita semua dapat menjadikan amalan-amalan yang kita lakukan sehari-hari dari bangun tidur sampai akan menutup hari sebagai amalan terbaik kita dengan konsisten yang dapat kita persembahkan untuk Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.  So, segera buat amalan terbaikmu teman 😉

Keutamaan-Dari-Sedekah-Itu-Sendiri

Iklan