Image

Banyak sekali buku-buku yang mengajarkan dan memberitahu tentang the power of sedekah. Banyak pula sedekah dijadikan sebagai tema pengajian oleh ustadz-ustadz baik di mushola-mushola maupun yang biasa nongol di televisi nasional Indonesia. Inti dari itu semua sebenarnya cuma satu. Mengingatkan dan mengajarkan tentang pentingnya dan apa manfaat dari sedekah itu sendiri. Jika hanya membaca atau mendengarkan tentu saya tidak akan merasakan sendiri impactnya. Pernah suatu ketika saya bertanya-tanya seolah menjadi tidak percaya sendiri apa iya sedemikian dasyatnya sedekah itu?

Jawaban dari pertanyaan saya waktu itu menjadi sangat dekat beberapa bulan belakangan ini. Setelah saya menikah, maka segala macam teori dan hitung-hitungan sedekah menjadi tampak begitu nyata. Janji Allah itu pasti ditepati. Seperti apa yang telah dijanjikan di surat albaqarah ayat 261

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas KaruniaNya dan Maha Mengetahui.”

Ceritanya seorang laki-laki yang selalu berusaha untuk memasukkan selembar atau beberapa koin ke ketika beliau pergi sholat berjamaah di masjid, atau ketika menemukan adanya kotak infak di swalayan-swalayan yang dikunjunginya. Laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah suamiku sendiri. Pernah suatu ketika beliau berangkat pergi berjamaah di masjid, setelah aku tutup pintu kontrakan, beliau kembali mengetuknya hanya untuk mengambil uang dari dalam dompetnya. Sembari tersenyum beliau berkata “Hehe lupa belum infak.”

Aku belajar darinya, berapapun yang dapat kita infakkan dalam sehari, sempatkanlah untuk menyisipkan lembaran atau bulatan koin ke dalam kotak infak atau kepada orang yang membutuhkan yang kamu temui. Dampaknya luar biasa. Suami mendapatkan tempat mengajar yang lebih baik, bukan diukur secara materi, namun secara lokasi dan kenyamanan pekerjaan, suami merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Jauh lebih bersemangat dengan lingkungan barunya. Kepadaku Allah menunjukkan keperkasaannya. Iklan jual beli online yang sudah hampir 3 bulan saya pasang di situs internet, yang saya sendiri sudah lupa pernah memasang iklan itu karena terlalu lamanya iklan itu dipasang, tiba-tiba ada seseorang yang menghubungi dan ingin membeli barang yang saya iklankan. Subhanallah. Saat itu saya dan suami hany saling berpandangan. Dalam hati masing-masing kami merasa sangat takjub dengan kuasa Allah Arrazaq.

Kami menyadari, balasan Allah bukan hanya dengan pemberian rezeki berupa materi yang mengalir layaknya anak sungai dari pegunungan. Deras tanpa menemui hambatan. Namun juga berbagaimacam kenikmatan lainnya yang tidak akan pernah bisa dihitung jumlahnya. Salah satunya adalah nikmat kesehatan yang saya rasakan selama kehamilan. Begitu banyak teman yang bercerita bahwa ketika hamil susah melakukan apa-apa. Bahkan ada salah satu yang terpaksa harus menginap di rumah sakit karena mual muntah berlebihan. Namun Allah memberikan kesehatan dan kekuatan yang luar biasa sehingga saya bisa melakukan aktifitas sehari-hari dengan baik. Hal yang sangat saya syukuri mengingat saya tidak ingin membebani suami dengan urusan-urusan rumah sakit yang menyedihkan.

Tulisan ini saya buat bukan bermaksud untuk riya namun saya hanya ingin berbagi pengalaman saya tentang hikmah dari sedekah yang saya alami sendiri dalam kehidupan sehari-hari saya. Sedekah tidak akan mengurangi apa yang kita punya, justru akan menambah apa yang kita miliki. Dan sedekah terbaik adalah ketika kita berada di waktu sempit. Ketika kita merasa tidak punya apa-apa justri disaat itulah Allah menguji keimanan kita. Karena diwaktu sempait kita akan dihadapkan kepada sebuah kondisi dimana kita dituntut dengan kerelaan dan keikhlasan untuk memberikan sedikit apa yang kita miliki, padahal di sisi lain mungkin kita juga membutuhkannya.