Setiap wanita pasti ingin merasakan menjadi ibu.  Seperti apapun sibuknya,  sebanyak apapun kegiatannya, namun bersentuhan dengan sesosok makhluk mungil yang merupakan darah dagingnya tentulah menjadi dambaan.  Saya selalu kagum ketika melihat ummahat,  bagaimana mereka mendidik anak tanpa bantuan asisten rumah tangga, padahal bukan hanya satu orang.  Murobbiyah saya mempunyai beberapa orang momongan yang jarak kelahirannya saling berdekatan.  Pertengkaranpun tidak jarang terjadi diantara mereka, menjadikan suasana rumah semakin ramai, terkadang dengan tangisan,  namun beliau tidak pernah saya lihat marah yang berlebihan sampai membuat takut putra -putrinya. Beliau adalah sosok yang sangat sabar dalam menjalani perannya sebagai seorang ibu.

Ini adalah cerita saya ketika Allah memberikan amanah yang sangat luar biasa itu kepada kami.  Saat itu tepatnya bulan september,  satu bulan setelah pernikahan kami,  hati saya mulai merasa deg-degan tidak karuan.  Pasalnya, siklus haid saya yang biasanya teratur,  saat itu sudah terlambat satu minggu.  Di dalam hati terfikir apakah Allah memberikan kepercayaan secepat itu kepada kami? Ingin rasanya saya melakukan test pack,  namun segera keinginan itu saya tepis karena takut kecewa.  Saya memutuskan untuk bersabar lebih lama lagi.  Namun bujukan ibu dan mertua akhirnya membuat saya membeli juga alat test kehamilan tersebut. Dengan hati yang berdebar saya mencoba memakainya.  Berharap ada dua tanda strip merah nongol di permukaan test pack tersebut.  Bukan hanya saya,  suamipun ikut harap -harap cemas melihat permukaan test pack.  Satu menit berlalu, melebihi batas waktu yang dianjurkan sesuai dengan tata cara penggunaan test pack yang tertera di kemasan.  Namun yang muncul hanya ada satu tanda strip merah.  Sedikit kecewa, namun kami berusaha menghibur diri. Allah masih menginginkan kami untuk saling mengenal dengan lebih dekat dan berbulan madu menikmati hari hanya berdua lebih lam lagi🙂

“Tapi bang kok neng belum haid juga ya? Padahal sebelumnya tidak pernah terlambat. ” kataku yang langsung disambut dengan kata -kata penenang oleh suami
“Mungkin ada perubahan hormonal setelah menikah sayang.”

Kata -kata suami berhasil menenangkanku. Dua bulan selanjutnya yakni oktober dan november saya mulai merasa sedih ketika mengetahui aku kembali haid.  Sampai suamiku menjadi iba setiap kali aku berkata “Abang,  neng haid lagi😀 “. Sudah saya coba untuk tersenyum namun perilaku suami yang langsung memeluk saya membuat saya sadar kalau suami saya tidak bisa dibohongi dengan kata-kata.  Dia merasakan sedikit kesedihan yang coba untuk saya sembunyikan. Setelah itu saya mencoba memperbanyak doa dan meningkatkan kesungguhan dalam meminta kepada Allah. Biar bagaimanapun segala sesuatu berjalan sesuai kehendakNya.

“Neng kenapa sih kok kayaknya sedih banget setiap kali haid? ”
“Neng takut ditinggal abang klo neng tidak bisa memberikan keturunan “

Jujur memang itulah salah satu hal yang saya takutkan karena banyak kasus yang saya dengar suami menceraikan istrinya atau memutuskan untuk poligami karena belum mendapatkan momongan.  Saat itu suami saya hanya tersenyum geli.

“Kita menikah baru 3 bulan sedangkan diluar sana banyak pasangan -pasangan yang sudah menikah bertahun -tahun tapi tetap saling setia walaupun tanpa momongan.  Jangan berpikiran aneh -aneh ah.” Kata suami dengan serius.

Kata -kata suami menjadikan saya sedikit lega. Sekarang saya baru menyadari betapa childisnya saya waktu itu😛

Namun kekhawatiran itu saya anggap sebagai sebuah ekspresi yang wajar. Ditambah lagi saya mendengar kabar bahwa dua orang teman saya sudah mendapatkan amanah tersebut hanya berselang satu bulan setelah menikah. Sungguh saya khawatir dengan keadaan saya. Saya takut ada yang tidak beres dengan diri saya atau dengan diri suami. Akhirnya walaupun di awal pernikahan kami memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Terlambat sebenarnya karena seharusnya kami melakukan check up kesehatan sebelum kami menikah namun daripada tidak sama sekali. Kami memutuskan untuk ke dokter dua bulan kemudian ketika kampus suami libur.

Perkataan suami selanjutnya membuat saya mengingat janji kelingking yang pernah kami ikrarkan. Ada 2 hal yang kami ikrarkan yang kami sebut sebagai janji kelingking karena ketika mengikrarkannya kami saling menautkan kelingking kami. Pertama saling setia apapun yang terjadi. Kedua tidak pernah selingkuh dan meninggalkan yang lainnya untuk alasan yang menyakitkan. Intinya sebenarnya kami berdua sama-sama takut kehilangan satu dengan yang lainnya, karena itu kami membuat janji kelingking tersebut😀

Singkat kata singkat cerita pada bulan desember saya kembali mendapat darah haid namun yang membuat saya curiga adalah darah itu hanya keluar satu hari saja. Setelah itu kembali bersih. Akhirnya saya menanyakan kepada salah seorang sahabat yang sebentar lagi akan menjadi dokter dan dia menyarankan untuk melakukan test seminggu atau dua minggu kemudian karena dikhawatirkan sudah terjadi pembuahan namun ada luka di dalamnya.  Kenapa seminggu atau dua minggu kemudian? karena kehamilan baru bisa erdeteksi oleh alat penguji kehamilan setelah usianya seminggu atau dua minggu, karena itu, apabila dalam kurun waktu seminggu atau dua minggu tersebut darah haid tidak keluar lagi, maka saya disarankan untuk segera melakukan check.

Seminggu berselang setelah itu dan darah haid tidak keluar lagi. Akhirnya saya nemutuskan untuk membeli alat tes kehamilan di apotek. Saya mengeceknya ketika suami sudah berangkat ke kampus karena takut membuatnya kembali kecewa ketika alat itu menunjukkan negatif hehe maaf ya bi😛

Subhanallah wal hamdulillah walaa illaha illallahu allahu akbar.  Rasa senang yang luar biasa bercampur tidak percaya membuat badan saya lemas saat permukaan test pack menunjukkan dua strip merah yang selama ini saya tunggu -tunggu. Ingin rasanya saya memberikan test pack itu kepada suami ketika pulang dari kampus nanti, membungkusnya dengan bungkusan istimewa yang disertai dengan pita seperti layaknya sebuah kado,  namun sudah tidak sabar untuk berbagi kebahagiaan :-P  Akhirnya saya hanyaa mengirimkan pesan singkat yang langsung dibalas olehnya dengan ungkapan suka cita pula. Walaupun saya merasa ada sedikit yang kurang karena tidak bisa melihat secara langsung ekspresi suami ketika saya memberitahu perihal kehamilan saya ini,  namun kebahagiaan yang saya rasakan sudah tidak bisa terbendung lagi untuk dibagikan.  Alhamdulillah ya Rabb… tak ingin rasanya mulut ini berhenti bersyukur atas kepercayaan dan karuniaMu😀

Nb. Untuk lebih meyakinkan sebelum periksa ke dokter saya membeli alat uji kehamilan dengan merk lain yang lebih mahal dan alhamdulillah hasilnya sama.  TErimakasih Rabbiy.  Rabbiy habliy minas sholihiin..

Alhamdulillah saat ini usia kandungan saya sudah menginjak 22 minggu🙂

image

Rencananya gambar test pack ini akan saya cetak menjadi sebuah foto untuk kemudian saya sandingkan dengan gambar-gambar lainnya seperti hasil USG dan lain sebagainya untuk membuat sebuah album kecil yang akan saya hadiahkan kepada anak saya suatu hari nanti. Agar dia tahu seperti apa perkembangannya dan perjalanannya di dunia ini. Sehat selalu my dear :-*