Long week end yang baru saja berlalu kemarin memberikan sebuah pengalaman baru yang sangat luar biasa bagi saya. Ceritanya bermula saat suami saya harus mengikuti Dauroh Alquran yang diselenggarakan oleh Sanggar Qur’ani, sebuah instansi pendidikan tempat beliau mengajar. Para peserta diperbolehkan untuk mengajak keluarga mereka turut serta mulai dari istri hingga anak-anak mereka. Awalnya ragu-ragu suami mengajak saya karena alasan kesehatan saya, namun lebih tidak tega lagi jika meninggalkan saya sendiri dalam kurun waktu 3 hari 2 malam. Al hasil ikutlah saya bergabung bersama rombongan pergi ke sebuah villa di daerha Puncak Ciawi, Bogor. Perjalanan ke lokasi memakan waktu cukup lama dikarenakan kondisi lalu lintas yang “pamer” alias pada merayap. Hal yang biasa terjadi saat liburan panjang tiba. Seolah semua kendaraan dari Jakarta berlomba-lomba menuju ke Puncak untuk berebut udara dan suasana segar pegunungan.

Alhamdulillah lokasi villa belum terlalu jauh di atas bukit sehingga kami tidak perlu berlama-lama dalam antrian panjang kendaraan yang berdecit-decit menahan rem agar tidak laju mundur. Dan setelah 4 jam perjalanan akhirnya kami disambut oleh hujan ringan yang mengguyur villa. Suasa menjadi semakin sejuk. Villa itu sengajad disewakan oleh pemiliknya hanya untuk acara-acara dakwah, bukan untuk komersil. Subhanallah zaman sekarang masih ada saja orang yang gigih dan peduli terhadap perkembangan dakwah. Semoga Allah meridhoinya. Tidak jauh dari villa tersebut terdapat sebuah pesantren tahfiedz quran untuk santri ikhwan.Baiklah, saya tidak akan bercerita tentang materi dauroh pada part 1 ini. Saya akan bercerita tentang ilmu yang saya dapat secara informal. Karena jumlah kamar villa yang terbatas, akhirnya saya tidur terpisah dengan suami dan bergabung dengan ummahat-ummahat yang sudah mempunyai baby. Di sinilah obrolan kami berlangsung dan saya mencoba mengambil pelajaran dari mereka. Mereka semua adalah sosok luar biasa yang mengabdikan dirinya untuk keluarga. Tanoa memiliki asisten rumah tangga. Padahal ada salah satu ummahat yang memiliki 4 orang anak yang tergolong masih kecil-kecil. Anak terbesar berusia 5 tahun, disusul anak kedua yang berusia 4 tahun dan anak ketiga si kembar berusia 1,5 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya mengurus mereka semua? Beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari mereka:

1. Anak adalah sahabat

Seorang ustadzah memanggil anak perempuannya dan mengajaknya bicara empat mata (sebenarnya bukan empat mata sih karena di dalam kamar itu ada saya dan ustadzah lainnya) lebih tepatnya berbicara face to face.

“Kakak umi mau bicara sebentar. Kakak tahu tidak disini anak perempuan yang tertua itu siapa?”

“Kakak umi.”

“Nah umi mau memberikan misi nih untuk kakak. Sebagai anak perempuan tertua di grup ini, kakak bertugas untuk mengawasi adek-adek yang lainnya disaat umi dan abinya sedang belajar ya. Karena kita datang kesini bukan untuk sekedar senang-senang tapi untuk belajar. Yang harus kakak lakukan adalah, mengawasi adik-adik jangan sampai bermain dengan dispenser. Kakak tahu kenapa?”

“Soalnya ada air panasnya umi.”

“Pinter. Kalau adik-adik kena air panas kan bisa bahaya. Yang kedua adalah, kakak awasi mereka jangan sampai bermain di tangga, soalnya kalau jatuh bisa lebam-lebam smua. Bagaimana agen? siap mengemban misi penting ini?”

“Insya Allah umi.”

Begitulah salah satu percakapan yang saya dengar. Anak adalah sahabat yang bisa kita sertakan dalam misi-misi penting sehari-hari. Dengan diberikannya misi tersebut, seorang anak akan belajar bertanggungjawab.

2. Anak adalah pualam yang mudah pecah

Suatu malam seorang anak merajuk kepada uminya. Entah apa yang dia minta, permasalahannya saya tidak begitu jelas. Sikap sang anak dirasa kurang pantas mungkin mudahnya kita menyebut dengan istilah nakal. Banyak orang tua yang langsung meninggi emosinya ketika mendapati anaknya dalam kondisi demikian. Namun sang umi mengajaknya berbicara dengan tenang. Dikoreknya satu demi satu apa yang membuat si anak bersikap demikian. Tanpa emosi, tanpa kekerasan. Hingga akhirnya anak tersebut mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Anak ibarat pualam yang mudah pecah terlebih lagi hatinya. Banyak contoh kasus orang tua yang memarahi sang anak ketika sang anak bermain-main dengan ponselnya dan memecahkannya. Tanpa dia sadar berapa perbandingan harga ponsel dengan harga hati sang anak tersebut. Hati anak yang pecah akan lebih mahal jika dibanding dengan merk ponsel apapun di dunia ini.

3. Pengalaman saat melahirkan

Sebenarnya pengalaman ini mungkin bisa dibilang pengalaman mengerikan. Kisah-kisah sulit saat melahirkan. Namun alhamdulillah tidak mempengaruhi mental saya hehe. Ada seorang umi bercerita saat melahirkan anak pertamanya sudah terlambat dari HPL yang diperkirakan sehingga ketubannya harus dipecahkan dan anaknya harus diinduksi. Bukan hanya sekali tapi sampai tiga kali hingga kepala sang anak berdarah. Umi yang lain bercerita bahwa dia melahirkan hanya ditemani oleh suami karena orang tua dan mertua tinggal di luar jawa dan baru bisa menengok mereka setelah satu bulan kelahiran anak pertamanya. Saya tidak membayangkan bagaimana caranya merawat anak yang baru lahir bersama dengan suami yang sama-sama belum memiliki pengalaman merawat anak? bagaimana memandikannya, menggendongnya, dan lain sebagainya. Saya jadi malu punya rencana dari jauh-jauh hari untuk melahirkan di rumah ibu. Subhanallah, inti dari peristiwa melahirkan seorang sholeh dan sholehah di dunia ini adalah pasrah dan penuh perjuangan. Hanya Allah yang bisa menentukan ending dari peristiwa tersebut apakah bisa normal atau caesar. Mungkin itulah mengapa seorang ibu yang melahirkan seperti sedang berjihad dalam keadaan antara hidup dan mati. Umi menyarankan agar saya mulai emmbenahi doa dari sekarang agar memohon kemudahan dalam persalinan sehingga tidak perlu merasakan kesulitan-kesulitan tersebut.

3. Jangan takut miskin

Ini cerita tentang rezeki pengantin baru. Saya sendiri sudah merasakan bagaimana sebuah pernikahan sejatinya merupakan kunci dari pintu rezeki yang bisa terbuka setelah kita memilikinya. Demikian juga dua orang umi bercerita hal yang sama. Tentang awal-awal kehidupan pernikahan mereka dimana dompet tipis bahkan kosong pernah menghampiri mereka bukan hanya dalam hitungan hari namun sampai hitungan bulan. Namun Allah adalah maha pemberi rezeki yang luar biasa dimana dalam keadaan sulit ada saja tangan-tangan yang bersiap membantu dan ada saja rezeki yang datang dari arah yang  tidak disangka-sangka. Bahkan salah satu umi menasehati kepada akhwat-akhwat yang masih single untuk tidak takut menerima pinangan ikhwan sholeh yang belum mempunyai pekerjaan tetap. Yang terpenting bukan pekerjaan tetap melainkan tetap bekerja. Insya Allah ikhwan sholeh tahu bagaimana memperlakukan keluarga dan tidak mendzolimi mereka.

Itu beberapa pelajaran yang saya peroleh dari obrolan saya dengan umi-umi sholehah. ALhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk berkumpul dengan mereka semua dimana canda kami bukan sekedar canda yang sia-sia melainkan bisa mendatangkan manfaat, obrolan kami bukan obrolan yang mengandung dosa melainkan berpahala dan kegiatan kami bukan kegiatan yang sia-sia melainkan kegiatan yang penuh ibadah. Amiin.

Iklan