Di suatu sore yang berawan, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Berawal dari perasaan cemas, khawatir, dan sedikit takut karena harus ditinggal sendiri di rumah.😦 Sebenarnya sudah sering juga harus ditinggal sendiri sementara suami berangkat mengajar atau ke kampus, namun kali ini suasananya beda. Biasanya saya ditinggal sendiri di kontrakan yang luasnya tidak seberapa. Jarak antar tetangga juga saling berdempetan sehingga walaupun saya ditingga sendiri namun masih merasa ramai karena terkadang obrolan dari tetangga kontrakan masih bisa terdengar walaupun sayup-sayup. Nah untuk kali ini saya harus ditinggal sendiri di rumah mertua yang luasnya berkali lipat dari luas kontrakan untuk pertama kalinya. Walaupun jarak dengan tetangga juga berdekatan, namun sayup-sayup suara obrolan tetap tidak bisa saya dengar. Jadilah saya benar-benar merasa sendiri dan akhirnya timbul perasaan-perasaan seperti tadi.

Beberapa bulan yang lalu (hitungannya masih bulan, soalnya usia pernikahan saya juga belum satu tahun) saya masih seorang anak dalam sebuah keluarga. Dimana pada saat itu saya merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian atas perlindungan yang siap diberikan keluarga. Kehangatan sebuah keluarga membuat saya merasa aman bersama mereka. Saat ini semuanya berbeda sudah. Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus menghadapi sebuah transisi dimana saya harus belajar menjadi calon orang tua. Yaa, insya Allah beberapa bulan lagi, kamilah (saya dan suami) yang harus bisa memberikan ketenangan dan kedamaian di dalam keluarga kecil kami. Bukan sebuah perkara yang mudah memang. Kami harus mengalahkan rasa takut yang selama ini kami miliki. Saya akui mental untuk menjadi orang tua memang harus sangat dipersiapkan, setidaknya menaikkan setiap level dari sikap yang sudah kita miliki (contohnya saya paling jijik ketika melihat tikus berkeliaran di sekitar saya, ketika menjadi anak, saya bisa acuh tak acuh dan berdalih “ah ada ibu atau ayah, paling juga nanti mereka yang akan mengusir tikus itu) atau sebuah rasa tanggung jawab (contoh ketika melihat piring kotor, “ah ada si mba yang nanti bantu mencucinya)

Perasaan-perasaan seperti itu saat ini sudah tidak sepatutnya ada dalam diri saya. Sebenarnya bukan saat ini saja sih, sikap peduli terhadap lingkungan memang seharusnya ada dari dulu :-p hanya saja untuk saat ini harus ditingkatkan lagi levelnya. Saat ini kalau dalam benak saya hanya ada kalau bukan saya yang mengerjakan, siapa lagi? masa iya seorang istri tega melihat rumahnya berantakan dan kotor? istri macam apa itu? Nah perasaan-perasaan semacam itulah yang saat ini saya alami dalam masa transisi posisi.

Kok ceritanya malah jadi ngalor ngidul ya. Oke balik lagi ke big tema “ditinggal sendiri di rumah” ada rasa malu juga kepada Allah, kalau memiliki rasa takut seakan tidak percaya bahwa ada Dzat Yang Maha Menjaga. Dan ingat bahwa dengan mengingatnya hati ini bisa menjadi tenang. Insya Allah jika semua diserahkan kepada Allah, apapun dan bagaimanapun keadaannya, kita akan merasa terlindungi. Dan benar saya, dengan mengingat dan bedzikir kepada Allah maka sedikit demi sedikit perasaan takut dan cemas itu hilangπŸ™‚