BpkzJ3YCUAAlCI0  Menjadi orang tua/ calon orang tua tentuya merupakan sebuah hal yang luar biasa bagi sebagian orang yang telah menikah. Mengapa saya bilang sebagian? Karena ada sebagian lain pasangan yang kurang bisa mengemban dengan baik amanah (anak) dari Allah. Beberapa waktu belakangan ini sering muncul di media massa berbagaimacam kasus kekerasan baik kekerasan fisik maupun kekerasan dalam bentuk seksual kepada anak. Na’udzubillahi min dzalik semoga kita semua terhindar dari perbuatan menyia-nyiakan anak sesulit apapun keadaan pada diri kita. Padahal jika kita sadari, anak merupakan aset dan harta yang sangat berharga yang Allah percayakan kepada kita jika kita mampu mendidiknya menjadi anak yang sholeh.

” Jika manusia mati maka pahala amalnya terputus darinya kecuali dari tiga perkara:

1. sedekah yang terus mengalir manfaatnya

2. ilmu yang diamalkan

3. anak sholeh yang mendoakannya”  (HR. Muslim)

Judul yang saya lampirkan mungkin terlalu berat terkesannya :-p (mencoba bercermin sebesar apa kapasitas diri sendiri). Namun sebenarnya yang ingin saya bagikan adalah sebuah nasehat atau bisa dibilang tips dari seorang ustadz kenalan suami, namanya ustadz Khalil. Sedikit bercerita tentang beliau, selama beberapa tahun beliau berdakwah di ranah Kalimantan lebih tepatnya di daerah Sambas dan disanalah suami saya berkesempatan untuk bertemu dan belajar dari beliau.

Ustadz Khalil mengatakan bahwa memperkenalkan tauhid kepada anak merupakan hal mutlak yang wajib dilakukan oleh calon orang tua.  Cara untuk memperkenalkannya sebenarnya bisa dilakukan mulai dari dalam kandungan dimana kedua orang tua sering membacakannya alquran, terlebih lagi sang ibu yang sering mendengarkan kajian-kajian dan selalu berusaha menjaga lisannya agar setiap apa yang terucap memiliki kaitan dengan Sang Maha Pencipta.

Ketika anak lahir pertahankan untuk selalu mendengarkannya perkataan-perkataan dan suara-suara yang baik seperti murotal alquran dan dzikir-dzikir. Walaupun mungkin dia belum bisa melakukan dialog dengan kita, namun cobalah selalu untuk mengajaknya berbincang dengan selalu menyertakan nama Allah dalam setiap kalimat yang kita tujukan kepadanya. Contohnya ketika kita berniat untuk menghangatkan badannya di bawah sinar matahari pagi (mainstreem banget hehe) kita katakan kepadanya “Subhanallah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan matahari ya dek. Dimana dengan sinar matahari itu, badan dedek bisa menjadi hangat. Sungguh maha Penyayang Allah.” dan lain-lain masih banyak lagi. Nah biasakanlah untuk menyertakan nama Allah dalam setiap percakapan yang kita lakukan dengan buah hati sampai kemudian di suatu waktu sang anak dengan polosnya akan bertanya “Umi, Abi, Allah itu siapa?”

Itu adalah golden moment bagi orang tua. Selamat! karena ketika sang anak bertanya seperti itu rasa ingin tahunya sangat besar terhadap Allah dan di saat itulah waktu yang tepat untuk menjelaskan (tentunya dengan bahasa yang sederhana namun mengena di dalam jangkauan pemikiran anak sesuai usianya) karena nggak mungkin donk kita memperkenalkan Allah kepada anak dengan bahasa panjang lebar kayak dosen yang kasih ceramah buat mahasiswanya hehe😀

Memang masalah tauhid ini masuk ke dalam kategori masalah super dangerous alias sangat berbahaya. Seperti yang saat ini dapat dengan mudah kita temui di sekitar kita betapa anak-anak muda zaman sekarang sedikit demi sedikit mulai kabur pengetahuannya tentang Rabbnya. Tergantikan dengan sosok-sosok manusia yang berhasil menguasai pikiran dan mempengaruhi hari-hari anak. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk menjadi orang tua sholih dan sholihah yang mampu mengemban amanah Allah yang begitu besar ini dengan baik. Amiin🙂 Yups itulah tulisan yang bisa saya bagikan kepada sobat semua. Jika bermanfaat tentunya semua atas izin Allah ta’ala. Tidak seberat apa yang tertulis di judulkan hehe😀

nb. Mau tahu sumber foto dalam artikel ini? klik aja langsung fotonya🙂