Saya pernah membaca sebuah kisah nyata. Waktu itu ada seorang bocah kecil sedang asyik bermain-main tanah sementara ibunya sedang menyiapkan makanan untuk jamuan tamu. Tanpa sepengetahuan sang ibu, si anak yang tangannya berlumuran tanah tersebut masuk ke dalam rumah dan memegang makanan yang dihidangkan ibunya hingga makanan lainnya terkena tanah. Pada saat itu tamu-tamu belum juga mencicipi makanan yang dihidangkan oleh sang ibu. Melihat tingkah anaknya, sang ibu marah kemudia berkata “pergi kamu, jadilah imam di masjidil haram.” apa yang terjadi dikemudian hari ketika anak itu dewasa? Beliau menjadi imam di masjidil haram saat ini. Beliau adalah syeikh Abdurrahman As Sudais. Subhanallah..

Cerita itu menjadi inspirasi bagi saya. Saya yang belum bisa mempraktekkan kesabaran secara kaffah (karena sabar ga ada batasnya, jadi kalau sudah kaffah sabarnya berarti ga boleh marah hehe :)) karena masih kurang sabar kadang-kadang 😁 selalu mengingat-ingat cerita tentang syeikh Sudais tersebut. Terlebih lagi ketika selesai memandikanm Adzkiya. Kepinginnya sih cepet-cepet memakaikan baju buat dia biar dia ga kedinginan, tapi apa mau dikata. Sholehah kami sudah pandai guling-guling kesana kemari. Sebisa mungkin saya berusaha menahan gemas ketika sedang memakaikannya baju, berusaha tersenyum selebar mungkin juga๐Ÿ™‚ tapi kadang-kadang kalah juga kesabaran saya oleh rasa gemas saya.

Saya bilang gemas loh ya bukan marah karena gemas dan marah versi saya itu dua hal yang berbeda. Kalau marah cenderung beraura negatif bahkan terkadang diselipi rasa benci๐Ÿ‘ฟ tapi kalau gemes tidak ada kebencian di sana. Gimana ya mendeskripsikannya? Ya begitulaaaah susah juga 😅 di satu sisi saya takut dia masuk angin kalau terlalu lama memakaikan baju. Di sisi lain saya tidak mau membatasi kreatifitasnya karena menurut saya gulang gulingnya Adzkiya itu adalah salah satu bentuk kreatifitasnya. Jadilah saya gemas sendiri 😆

Kalau sudah begitu ingatlah saya cerita di atas. Akhirnya saya sering berkata “jadilah dokter shalihah kamu nak.” sambil mrenahan rasa gemas saya 😁 semoga saja endingnya berujung sama dengan syeikh Sudais, amiiin โ˜บโ˜บ

Semoga ibu-ibu yang lain juga bisa meneladani kisah tersebut bahwa apa saja yang diucapkan ibu adalah mujarab,oleh karena itu berusahalah wahai para ibu agar kata-kata yang keluar dari mukut adalah kata-kata penuh kebaikam sekalipun dalam kondisi marah. Happy week end๐Ÿ˜‰;)