Bismillah

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkahlaku) seperti orang-orang jahiliyah dahulu, dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasulnya. Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (QS. Al Ahzab:33)

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat sebuah info dari teman-teman di grup tentang pembukaan CPNS salah satu kementrian Indonesia. Hal yang cukup menarik dari info itu adalah tentang salary yang ditawarkan yaitu 15 juta rupiah per bulan. Sebuah nilai yang cukup fantastis menurut saya ☺

Sorenya saya berbincang dengan suami tentang dimana “seharusnya” posisi seorang wanita terlebih ketika dia sudah menjadi seorang istri dan ibu. Tentu saja opini suami saya tidak bisa dijadikan sample dari opini laki-laki keseluruan dan perbincangan kami tidak bermaksud membandingkan ibu rumah tangga dengan wanita karier loh ya karena hal itu tidak akan pernah ada habisnya. Baik ibu rumah tangga maupun wanita yang bekerja di luar pasti punya alasan-alasan yang dianggapnya paling benar.

Suami memberikan video tausiyah singkat ustadz Budi Ashari (itu loh pakar sejarah islam yang sering nongol di salah satu tv nasional). Beliau menerangkan tentang makna surat Al Ahzab ayat 33. Dari awal ayat itu pun sudah dapat diketahui dimana seharusnya posisi seorang wanita. Itu bukan saya loh ya yang bilang, tapi Allah yang berfirman. Untuk yang ingin membela diri silahkan tapi dalam hati saja yaa karena saya tidak mau berdebat.

Lanjut tentang tausiyah ust. Budi, beliau menghimbau kepada para ibu untuk lebih memperhatikan kodratnya “di dalam rumah”.

Mungkin adanya degradasi moral yang menimpa generasi muda saat ini ada kaitannya dengan keberadaan ibu di rumah. Sex bebas merajalela di kalangan anak dibawah umur, perkelahian bahkan sampai kepada pembunuhan. Ibu yang seharusnya membimbing dan mengawasi anak-anaknya justru sibuk dengan dunianya sendiri. Lalu darimana anak-anak kita akan belajar?😱

Ada sebuah komentar “kalau semua perempuan ada di dalam rumah, terus bagaimana dengan perawat atau dokter kandungan?masa semua diserahkan kepada laki-laki? Anda mau melahirkan dibantu laki-laki?” Β saya termasuk yang mendukung komentar ini. Tapi suami saya menjelaskan pada zaman Rasul dulu, apakah tidak ada thobib perempuan? Apa tidak ada pula guru perempuan? Ada. Tapi dimana mereka? Apakah juga bekerja sampai melupakan kodrat mereka? Sampai melupakan anak-anak mereka?πŸ˜€

Sebagai penutup saya cukup terharu dengan tausiyah ust Budi bagian terakhir. Kata beliau “Ibu pulanglah. Generasi penerus bangsa sedang duduk manis menunggu polesanmu pada kepribadian mereka.” Saya bayangkan Adzkiya duduk manis dengan sorot matanya yang berkilau penuh rasa ingin tahu. Ingin belajar dari ibunya. Dan saya bayangkan seperti apa kecewanya dia ketika ibunya tidak segera datang. 😒

Sekali lagi tulisan ini bukan sebuah kritikan garis keras untuk wanita-wanita karier. Saya hanya mencoba menyampaikan firman Allah yang mungkin terlewat dari tadabur kita. Siapapun kita,semoga kita tidak lupa kodrat kota sebagai seorang wanita, istri, dan juga ibu. Yang di rumah saja, bersyukurlah. Sumimu sangat sayang kepadamu, bukan dia tidak percaya kau akan neko-neko di luaran sana, tapi dia tidak percaya kepada laki-laki lain diluar sana yang seperti serigala, siap menerkammu. Untuk yang wanita karier dengan restu suami juga bersyukurlah itu berarti suami sangat percaya kepadamu dan balaslah kepercayaan itu dengan menjaga izzahmu. ☺