Saya teringat obrolan dengan beberapa orang sahabat ketika kami duduk di bangku semester akhir dan sedang bersemangat menyelesaikan tugas akhir serta merancang rencana pasca kampus. Saat itu ada salah satu sahabat saya mengatakan

“Habis lulus aku pengin nglamar ke bank ……”

Sahabat saya yang lain menimpali

“Memangnya nggak ada option lain apa?kenapa harus ke bank?” saat itu dia sudah mengerti tentang riba.

“Aku kepengin di sana.” kata temam saya kekeuh.

“Kalau gitu semoga kamu tidak diterima.” sahabat saya menjawab frontal dan membuat marah.

“Kamu kenapa sih? Aku kan nggak pernah mendoakan kamu yang jelek-jelek. Jangan doakan aku jelek juga donk.”

Sekarang doa sahabat saya yang ingin kerja di bank ternyata lebih kuat daripada doa sahabat saya yang lain. Sampai saat ini beliau masih menikmati pekerjaannya di bank.

 

Saya tidak mengkritisi pekerjaan karyawan bank, saya lebih menyoroti ungkapan frontal sahabat saya yang sejatinya tidak ingin sahabatnya yang sangat dia sayangi itu terjurus lebih jauh ke dalam riba. Namun mungkin memang penyampaiannya yang salah. Karakter dia memang frontal seperti itu.

 

Betapa terkadang seseorang yang kita anggap menyakiti kita dengan tingkah lakunya justru sebenarnya Β dia adalah orang yang sangat sayang dengan kita. Hanya saja orang- orang tersebut baru kita sadari keberadaannya mungkin ketika kita sudah berjauhan dengannya. Ada dua pelajaran yang saya dapatkan disini

 

1. Jangan langsung marah ketika seseorang menyampaikan sesuatu kepada kita. Tabayun terlebih dahulu biar clear.

2. Belajar menyampaikan maksud baik kita dengan cara yang baik juga agar tidak terjadi salah paham

 

Alhamdulillah karena kami sudah bersahabat lama jadi tidak ada keretakan dalam persahabatan kami sampai saat ini. Semua sudah dijelaskan sedetail mungkin dan kitalah yang memilihnya.

 

-cerita pagi πŸ˜„ anak masih bobok, cucian dan makanan sudah beres-

 

Iklan