Category: Cerita dan Hikmah


“Karena bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan.”

QS. Asy Syarh:5-6)

Ini cerita tentang dua ulama Islam yang luar biasa. Yang pertama adalah ahli nahwu dan yang kedua adalah ahli hadist. Sebagai manusia biasa, terkadang kita sering mengeluh ketika berhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang kita temui dalam kehidupan. Beberapa diantara manusia bahkan ada yang berputus asa. Pelajar yang kesulitan dalam belajar merasa putus asa dan sering mengeluh dalam mempelajari matematika dan fisika misalnya. Atau seorang karyawan perusahan mengeluh karena deadline  yang harus dicapainya untuk mempertahankan eksistensinya di dunia pekerjaan. Atau seorang ayah yang mengeluh karena faktor permasalahan yang tidak kunjung selesei dalam keluarganya, bahkan seorang ibu yang berputus asa dan tega membunuh anaknya karena takut akan masa depan anaknya yang dikhawatirkan tidak akan cerah. Dua ulama ini memberikan kepada kita pengajaran tentang pentingnya sikap pantang menyerah dan tidak berputus asa.

Namanya adalah Imam Al Kisai. Saat itu beliau masih menjadi seorang pelajar dan sangat susah ketika mempelajari Nahwu. Pintu pemahaman terhadap pelajaran yang mempelajari struktur bahasa Arab tersebut seolah sangat susah sekali untuk dibuka. Padahal teman-temannya seolah begitu mudah memahami pelajaran Nahwu. Entah apa yang menjadi penyebabnya mengingat beliau bukan ahli maksiat. Namun mengapa begitu sulit untuk memahami satu pelajaran tersebut? Hingga pada suatu hari peliau memperhatikan seekor semut yang ingin menaiki tembok sembari membawa bahan makanan yang ukurannya lebih besar daripada ukuran badan semut tersebut. Satu kali mencoba semut itu terjatuh. Dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, masih saja terjatuh dan belum bisa memanjat tembok di depannya. Sang Imam masih terus mengamati tingkah laku semut tersebut. Berkali-kali jatuh berkali-kali pula mencoba bangkit dan memanjat lagi hingga pada akhirnya sedikit demi sedikit sang semut berhasil menaiki tembok tersebut. Dari sanalah sang Imam menyimpulkan sebuah hikmah bahwa untuk mencapai sesuatu kita diharuskan kerja keras dan pantang menyerah. Demikian juga ketika kita ingin menguasai satu bidang ilmu. Sejak saat itu, sang Imam bertekad untuk menaklukkan Nahwu sedikit demi sedikit dan usahanya tersebut membuahkan hasil dan mengantarkannya menjadi seorang ahli Nahwu hebat.

Cerita kedua adalah tentang ahli Hadist bernama Ibnu Hajar Al Atsqolani. Siapa yang tidak mengenal pengarang buku berjudul Fathul Bari’ yang terkenal itu? Ya, Ibnu Hajar awalnya hanya seorang pemuda biasa yang merasa kesulitan mempelajari hadist. Bahkan menurut gurunya, diantara sejumlah murid di kelas, ibnu Hajar merupakan salah satu murid yang paling lemah hafalannya. Padahal untuk mempelajari ilmu hadist dituntut sebuah ingatan yang harus berkonsentrasi penuh terhadap apa yang dihafalkannya. Ibnu Hajar menyadari kelemahannya tersebut dan berusaha untuk memoerbaikinya hingga pada suatu hari hampir jatuh kepada jurang keputus asaan. Ibnu Hajar menyendiri di pinggir sebuah sungai. Merenung dan bermuhasabah mengapa dirinya begitu sulit mempelajari ilmu hadist? Ketika didengarnya suara titikan air tidak jauh darinya, hatinya tergerak untuk mendatanginya. Dilihatnya air yang menetes ke atas sebuah batu. Sedikit demi sedikit setes demi setetes hingga akhirnya batu yang berada di bawahnya terlubangi. Lubang itu semakin lama semakin membesar. Ibnu Hajar  mengambil sebuah kesimpulan batu yang begitu keras saja bisa ditaklukkan oleh tetesan air sedikit demi sedikit. Dari sanalah semangatnya untuk terus mempelajari ilmu hadist tumbuh dan berkobar hingga akhirnya beliau menjadi seorang ahli hadist. Baca lebih lanjut

Long week end yang baru saja berlalu kemarin memberikan sebuah pengalaman baru yang sangat luar biasa bagi saya. Ceritanya bermula saat suami saya harus mengikuti Dauroh Alquran yang diselenggarakan oleh Sanggar Qur’ani, sebuah instansi pendidikan tempat beliau mengajar. Para peserta diperbolehkan untuk mengajak keluarga mereka turut serta mulai dari istri hingga anak-anak mereka. Awalnya ragu-ragu suami mengajak saya karena alasan kesehatan saya, namun lebih tidak tega lagi jika meninggalkan saya sendiri dalam kurun waktu 3 hari 2 malam. Al hasil ikutlah saya bergabung bersama rombongan pergi ke sebuah villa di daerha Puncak Ciawi, Bogor. Perjalanan ke lokasi memakan waktu cukup lama dikarenakan kondisi lalu lintas yang “pamer” alias pada merayap. Hal yang biasa terjadi saat liburan panjang tiba. Seolah semua kendaraan dari Jakarta berlomba-lomba menuju ke Puncak untuk berebut udara dan suasana segar pegunungan.

Alhamdulillah lokasi villa belum terlalu jauh di atas bukit sehingga kami tidak perlu berlama-lama dalam antrian panjang kendaraan yang berdecit-decit menahan rem agar tidak laju mundur. Dan setelah 4 jam perjalanan akhirnya kami disambut oleh hujan ringan yang mengguyur villa. Suasa menjadi semakin sejuk. Villa itu sengajad disewakan oleh pemiliknya hanya untuk acara-acara dakwah, bukan untuk komersil. Subhanallah zaman sekarang masih ada saja orang yang gigih dan peduli terhadap perkembangan dakwah. Semoga Allah meridhoinya. Tidak jauh dari villa tersebut terdapat sebuah pesantren tahfiedz quran untuk santri ikhwan. Baca lebih lanjut

Amalan Terbaik

Alhamdulillah setelah vacum cukup lama akhirnya berkesempatan lagi untuk menulis 🙂

Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita selalu dihadapkan kepada sebuah kondisi dimana kita harus melakukan yang terbaik. Sebagai contoh ketika kita masih menjadi anak sekolahan dulu, agar menjadi anak yang pintar tentu kita diharuskan untuk belajar dengan sangat tekun. Bahkan kita melakukan usaha-usaha terbaik lainnya seperti les dan kursus untuk mendapatkan nilai yang terbaik pula. Atau ketika memberikan sesuatu kepada tetangga di samping rumah kita, tentu kita akan memberikan sesuatu yang terbaik. Tidak mungkin kita memberikan hasil panen buah pisang yang busuk kepada tetangga kitakan? Tentunya kita akan memberikan pisang yang matang lagi mulus bentuknya sebagai bentuk penghormatan kita kepada tetangga kita.

Usaha-usaha terbaik yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari tentu untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik pula. Seperti sebuah pepatah menyebutkan ketika kita menanam kebaikan, maka kita akan menuai kebaikan pula. Suatu hari, sebuah perbincangan diwaktu santai antara saya dengan suami, masih berhubungan dengan yang terbaik. Kali ini tentang amalan yang kita tujukan kepada sang Pencipta. Sudahkan kita beramal dan beribadah dengan usaha terbaik kita sebagai bentuk penghambaan tertinggi kita kepadaNya? Jika kita memberikan yang terbaik kepada orang lain sebagai sebuah perhargaan dan rasa terimakasih kita, bagaimana dengan yang kita berikan kepada Allah?

“Dahulu, para sahabat selalu berlomba-lomba untuk memberikan amalan terbaiknya. Ada suatu peristiwa dimana Umar ingin sekali mengalahkan Abu Bakar dalam hal kebaikan. Maka ketika datang kesempatan untuk bersedekah, Umar menyedekahkan separuh harta yang dimilikinya. Namun ternyata Umar mengakui bahwa dia tidak pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dalam hal kebaikan karena diwaktu yang sama, Abu bakar menyedekahkan seluruh harta yang dimilikinya untuk Islam. Subhanallah.” Begitu kata suami memulai obrolan waktu itu.

Saya pun pernah mendengar cerita tentang sahabat yang dijamin masuk surga karena kedermawanannya, ada pula karena amalan puasa yang dilakukannua, sholat malam yang didirikannya, atau infak dan sedekah yang dibayarkannya. Semua itu menjelma menjadi amalan terbaik yang pada akhirnya menjadi tunggangan untuk menuju jannahNya.

“Sekarang coba kita pikirkan apa amalan terbaik kita? Sholat kita saja masih tidak cukup untuk dimasukkan ke dalam kategori kusyu, puasa kita masih dinodai dengan berbagaimacam perasaan-perasaan yang mungkin dapat mengurangi pahalanya. Sholat malampun kita tidak konsisten untuk menjalankannya.”

Amalam terbaik bukanlah seberapa besar kamu berzakat atau bersedekah di jalan Allah, bukan pula seberapa lama kamu bersujud dengan bercucuran air mata, bukan pula seberapa banyak kamu melakukan sebuah kebaikan, namun amalan terbaik adalah seberapa konsisten kamu dalam menjalannya. Saya bermuhasabah terhadap diri sendiri, tentang amalan dan ibadah yang saya lakukan, adalah secercah  harapan untuk menemukan amalan terbaik dari diri saya? Sholat lima waktu yang terkadang tidak kusyu, sholat malam yang banyak bolong-bolongnya dalam sebulan, puasa ramadhan yang terkadang masih dikotori oleh hal-hal tidak bermanfaat, bahkan sholat rawatib yang sering diabaikan. Astaghfirullahal’adzim begitu banyak kesempatan yang Allah berikan kepada hambaNya ini untuk mempersembahkan amalan terbaik kepadaNya namun begitu banyak kesempatan itu yang saya lewatkan sia-sia.

Di akhir pembicaraan, kami mencoba untuk menetapkan salah satu amalan yang akan kami kerjakan secara konsisten untuk kami jadikan sebagai amalan terbaik. Tidak terbatas kepada satu amalan, semoga kami bisa melakukan amalan-amalan lainnya secara konsisten dan semoga kita semua dapat menjadikan amalan-amalan yang kita lakukan sehari-hari dari bangun tidur sampai akan menutup hari sebagai amalan terbaik kita dengan konsisten yang dapat kita persembahkan untuk Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.  So, segera buat amalan terbaikmu teman 😉

Keutamaan-Dari-Sedekah-Itu-Sendiri

543888_379174375542126_2807518_n“Ya Allah, dengan Al Quran, karuniakanlah kasih sayangMu kepada hamba. Jadikan AlQuran sebagai imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi hamba. Ya Allah, ingatkan hamba bila ada ayat yang hamba lupa mengingatnya. Ajarkan pada hamba, ayat yang hamba bodoh memahaminya. Karuniakan pada hamba kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Al quran bagi hamba sebagai hujjah ya Rabbal’alamin”

Ada yang pernah mendengar kalimat tersebut? Kalimat tersebut merupakan doa katamul Quran yang biasanya ada di bagian akhir alquran setelah tamat juz 30. Kalau saya tidak asing dengan doa tersebut karena dari kecil saya sudah sering mendengarnya. Doa tersebut dijadikan sebagai lagu dan sering diucapkan ketika waktu maghrib setelah adzan sembari menunggu imam datang di masjid desa saya. Kegiatan tersebut sering dikenal dengan nama puji-pujian. Puji-pujian yang sejak kecil saya dengar melalui speaker masjid tersebut secara otomatis membekas dalam ingatan saya tanpa saya menghafalnya. Awalnya saya tidak tertarik dengan artinya, tapi entah kenapa suatu hari saya penasaran sekali dengan arti kalimat-kalimat tersebut. Alhasil saya membacanya dan subhanallah ternyata artinya begitu indah. Pantas saja hati saya jadi adem banget setelah membaca doa itu.

Suatu hari saya membaca doa itu setelah katam alquran (dengan susah payah untuk mempraktekkan one day one juz). Ada hal menarik yang terjadi ketika saya selesai membacanya. Suami saya ternyata mendengarnya dan bertanya

“Doa apa yang tadi neng baca?”

“Doa katamul quran bang.” Jawab saya dengan polos.

Baca lebih lanjut

_DSC0346 edited

Seminggu yang lalu, ada dua berita duka yang terdengar dari speaker masjid di dekat kontrakan kami. Kabar meninggalnya dua orang tetangga. Qulli nafsi daiqotul maut. Ya, setiap yang berjiwa pasti akan menghadpi kematian. Kapan dan dimana kematian itu akan menghampiri, hanya Allah yang tahu. Di sini saya sering mendengar mitos-mitos yang beredar di kalangan masyarakat bahwa selama 40 hari, nyawa seseorang yang baru meninggal sejatinya masih ada di sekitar keluarganya. Hal inilah yang sering menjadikan seseorang memimpikan sanak saudaranya yang baru meninggal. Beberapa masyarakat meyakini jika hal itu terjadi karena arwah almarhum masih berada di sekitar mereka. Benarkah demikian?

Ada sebuah hadist shahih yang mengisahkan tentang perjalanan ruh setelah berpisah dari jasadnya. Tulisan ini saya repost dari note di FB suami saya setahun yang lalu, semoga bisa menambah khasanah kita tentang keislaman dan semoga semakin meningkatkan kita untuk lebih banyak beramal sholeh. o:-)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Al Barra bin Azib,dia berkata:

“Kami mengantarkan jenazah salah seorang dari kaum anshar bersama Rasul SAW. Kami pun tiba ke suatu kubur yang belum di tutup lahatnya. Maka Rasulullah duduk dan kami pun duduk di sekitarnya. Seolah di atas kepala kami ada burung yang di kakinya ada kayu yang hendak dijatuhkan ke bumi .Beliau mengangkat kepalanya lalu bersabda:

“Mintalah perlindungan kpd Allah dari azab kubur”

Beliau mengatakannya 2 atau 3 kali kemudian beliau melanjutkan:

“Apabila seorang mukmin meninggal dunia dan menghadap akhirat maka turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang berwajah putih seperti matahari. Mereka membawa kain kafan dan membawa beberapa selimut dari surga. Mereka duduk di dekat hamba itu dengan mengarahkan pandangan. Kemudian datanglah Malaikat maut dan duduk di dekat kepala hamba itu seraya berkata: “Hai jiwa (ruh) yg baik keluarlah menuju ampunan dan ridho Allah ta’ala”.

Maka ruh pun keluar mengalir seperti mengalirnya tetesan air dari minuman. Malaikat maut pun mengambilnya. Tatkala ia mengambilnya maka para malaikat lain tidak membiarkan ruh itu berada di tangan Malaikat maut sekejap mata pun sehingga mengambilnya lalu meletakkannya di dalam kafan dan selimut tersebut. Dari ruh itu keluar semerbak wangi yang lebih harum daripada kesturi yang ada di permukaan bumi. Para malaikat membawanya naik. Tidaklah mereka melewati suatu kelompok malaikat melainkan mereka berkata:

“bau harum apakah itu?’. Para malaikat pembawa ruh berkata:”ia adalah bau ruh fulan bin fulan”.

Para malaikat memanggilnya dg nama terbaik yang dahulu digunakan di dunia. Akhirnya sampailah mereka di langit dunia. Mereka meminta dibukakan (pintu langit) untukk ruh itu. Lalu dibukakanlah untuknya serta disambutlah oleh setiap malaikat penghuni langit lalu diantarkanlah hingga ke langit berikutnya hingga sampai ke langit ketujuh.Maka Allah ta’ala berfirman:

“Tuliskanlah catatan hambaKu di dalam surga yang tinggi dan kembalikanlah ia ke bumi, karena dari bumilah aku menciptakan mereka dan ke bumilah AKU mengembalikan mereka serta dari bumilah AKU mengeluarkan mereka pada kali ke 2”.Nabi bersabda: “kemudian ruh itu dikembalikan ke jasadnya,ia didatangi oleh 2 malaikat lalu mendudukkannya. Kedua malaikat berkata padanya:

“siapakah Rabbmu?”

ia menjawab:”Rabbku adalah Allah”

malaikat bertanya lagi :”Apakah agamamu?”

ia menjawab:”agamaku Islam’

malaikat bertanya lagi:”siapakah org yang diutus kepadamu?”

ia menjawab:”org itu adalah Rasulullah saw”

malaikat bertanya lagi:”apa pengetahuanmu?”

ia menjawab:”aku membaca kitab Allah (alquran),maka aku mengimani dan membenarkannya”

Tiba2 ada suara penyeru dari langit: “sesungguhnya hambaKu telah berkata jujur,maka hamparkanlah utknya permadani surga dan pakaikanlah ia pakaian dari surga serta bukakanlah untuknya pintu menuju surga”.

Maka didatangkanlah utknya angin yang sepoi2 serta keharuman (surga) dan dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang.Nabi bersabda: “lalu datanglah kepadanya lelaki yg indah wajahnya,indah pakaiannya,harum baunya,seraya berkata:”bergembiralah dg apa yg membahagiakanmu,inilah hari yang dulu dijanjikan padamu.Ruh itu berkata:”siapa kamu?wajahmu merupakan wajah yang membawa kebaikan”,ia menjawab:”aku adalah amalan sholehmu”. org mukmin itu pun berkata:  “ya Rabb segerakanlah hari kiamat,”

Lalu nabi bersabda:”sedangkan apabila org kafir meninggalkan dunia dan menuju akhirat maka turunlah padanya para malaikat dari langit yang berwajah hitam.Mereka membawa tenunan kasar dan duduk di dekatnya sambil mengawasinya.Kemudian datanglah Malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata:”Hai ruh yg buruk keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah”.Nabi bersabda:”Maka ruh meninggalkan jasadnya”.Malaikat maut mencabut ruh spt menarik keluar tusuk besi dari daging basah.Setelah dia mencabutnya dia tdk membiarkan sekejap pun ditangannya sehingga ruh itu disimpin dalam tenunan kasar.Maka keluarlah darinya bau yg lebih busuk dari bangkai terbau yg ada di bumi.

Para malaikat membawanya naik,tidaklah mereka melintasi suatu kelompok malaikat melainkan mereka berkata:”bau busuk apakah ini?”,,mereka menjawab:”ini bau busuk fulan bin fulan”.Mereka memanggilnya dg nama terburuk yg dulu digunakan di bumi.Mereka tiba di langit dunia seraya meminta dibukakan pintu utknya.Namun pintu itu tdk dibukakan utknya,lalu Rasul saw mmbacakan ayat:”tidak dibukakan baginya pintu2 langit dan mereka tidak akan masuk surga hingga unta masuk dalam lubang jarum”(QS Al A’raaf:40)

maka Allah ta’ala berfirman:”Tuliskanlah baginya tempat didasar bumi yg terendah”.

Kemudian malaikat melemparkan ruh itu dg keji,lalu Rasul saw membacakan ayat:

“adapun org yg menyekutukan Allah,maka dia seolah2 jatuh dari langit,lalu disambar burung atau dia dihempaskan angin ke tempat yg jauh”(Al Hajj:31)

Kemudian ruh itu kembali ke jasadnya.Lalu datanglah 2 malaikat seraya mendudukkannya dan berkata:

“siapakah Rabbmu?”

ia (mayat org kafir) itu menjawab:”a..a..aku tdak tahu”.

malaikat bertanya lagi:”apa agamamu?”

ia menjawab:”a..a..aku tdak tahu”.

malaikat bertanya lagi:”siapa org yg diutus kepadamu?”.

ia menjawab:”a..a..aku tdak tahu”.

Tiba2 ada suara penyeru dari langit:”hambaKu berbohong,maka hamparkanlah utknya sebagian dari hamparan neraka dan bukakanlah baginya sebuah pintu dari pintu neraka”.Lalu didatangkanlah padanya panas dan racun api neraka.

Allah menyempitkan kuburan itu baginya hingga tulang rusuknya berceceran.Kemudian datanglah kepadanya seorang lelaki berwajah buruk,berpakaian buruk,dan berbau busuk lalu berkata:”bergembiralah dg apa yang menyedihkanmu,inilah hari yg dulu dijanjikan padamu”.

ia (mayat org kafir) itu berkata:”siapakah kamu?,wajahmu merupakan wajah yg datang membawa keburukan”.

org itu menjawab:”aku adalah amalan burukmu”.Mayat org kafir itu berkata:”Ya Rabbku janganlah engkau menyegerakan hari kiamat”.(HR.Ahmad 4/287,Abu Daud dlm Kitaabus Sunnah,bab “permasalahan azab kubur”.Al Haitsami dalam kitab “Majma’uz Zawaaid” 3/49-50,Abu Nu’aim dalam kitab “Al Hilyah” 8/10.Ibnu Abi Syaibah dalam kitab “Al Mushannaf” 3/374,dan Al Anjuri dalam kitab “Asy-Syari’ah” hal:327.Al Haitsami berkata:”Diriwayatkan oleh Ahmad dan rijalnya adalah rijal shahih.Muslim,An Nasa’i,Ibnu Majah,Abu ‘awanah Al Isfira’ainy di dalam shahihnya)

Dari hadist tersebut jelaslah bahwa ruh, setelah berpisah dari jasadnya langsung mengalami sebuah perjalanan untuk bertemu Allah ta’ala untuk kemudian berlaku terhadapnya alam kubur yang berupa nikmat dan luasnya liang kubur untuk orang-orang dengan amal baiknya dan azab kubur untuk orang-orang yang selalu beramal buruk. Jadi menurut saya kemungkinan seseorang yang merasa didatangi oleh saudaranya yang baru meninggal bukan lantaran ruh almarhum masih berada di sekitarnya, melainkan mungkin karena rasa kurang ikhlas yang dirasakannya untuk melepas kepergian orang yang disayangnya tersebut 🙂 wallahu a’lam

Surat-surat Kartini

21 April. Yap! Waktu SD dulu saya punya keharusan untuk menghafal tanggal-tanggal tertentu dalm kalender bangsa Indonesia karena terkadang tanggal-tanggal itu muncul di dalam soal-soal tes yang saya hadapi. Kalau sekarang, saya lebih suka menghafal hari-hari penting dalam kalender Indonesia itu sebagai sebuah aba-aba untuk mengatakan “yeaaay libur telah tiba.” walaupun hanya satu tanggal berwarna merah, itu sangat memberi arti :-p

Terdengar gaung kata-kata emansipasi wanita setiap mendekati tanggal 21 april. Bahkan seolah tertanam secara paksa dalam pikiran saya hari kartini = emansipasi wanita. Rasa penasaran yang mendalam terhadap surat-surat dari raden Ajeng Kartini yang dikirimkan oleh beliau kepada sahabat-sahabatnya noni-noni Belanda, membuat tangan ini bertanya kepada profesor segudang informasi “Google.” Akhirnya saya menemukan beberapa link yang menjelaskan tentang surat-surat ajaib yang menjadi cikal bakal kemerdekaan kaum perempuan Indonesia. Terlalu panjang jika saya ikut menulis apa saja surat R.A Kartini di sini. Jika sobat penasaran juga, silahkan bertanya kepada profesor dengan mengetik key word “surat-surat Kartini.” maka akan muncul ribuan referensi 😉

Baca lebih lanjut

Derap langkah kaki terdengar tertatih menaiki tangga. Lantai 3 itu terlihat penuh dengan gantungan-gatungan baju yang berjajar rapi, menanti hangatnya cahaya mentari membuatnya kembali kering. Pertama kali ku lihat wajah seorang asing di kos. Usianya tak lagi muda. Berbeda dari kami yang masih mahasiswa. Namun aku tak mau buru-buru berprasangka. Awalny aku pikir dia seorang mahasiswa S2 yang sedang menimba ilmu di universitas yang sama denganku. Dia tersenyum. Menyapaku. Ramah.

“Waduh.. jemurannya penuh ya?” ucapnya sembari mengatur nafas. Dialog pertama aku dengannya pagi itu.

“Iya bu, banyak baju kering yang belum diangkat pemiliknya.” jawabku membalas keramahannya.

Nafasnya masih tersenggal mungkin habis di tengah anakan tangga untuk bisa sampai ke lantai 3.

“Siapa namanya?” ujarnya

“Rieva.”

“Ya ampun. Ini mba Rieva? yang kemarin pagi nganterin Elly ke rumah sakit ya?” katanya antusias.

Aku tertegun. Mencerna kata-katanya yang sangat mendadak. Otakku sedikit melambat karena kaget. Elly? sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. Dan akhirnya aku menemukan benang merah. Dia adalah ibu adek satu kosku yang kemarin pagi meminta tolong untuk diantar ke rumah sakit. Baca lebih lanjut

Rieva merengkuh sahabat di depannya ke dalam pelukannya. Saat ini hanya itulah yang bisa dia lakukan untuk si cantik yang sudah hampir setengah jam meneteskan air mata di depannya. Rieva tahu tidak sepatah katapun darinya yang akan didengar oleh si cantik jika dia nekat menghiburnya dengan untaian nasihat panjang. Ya tidak akan di dengar setidaknya untuk saat ini, karena yang si cantik butuhkan sekarang hanyalah tempat untuk mencurahkan perasaan yang sedang bercokol hebat dalam hatinya, mengabil hampir 3/4 kisi hati yang tengah terluka. Hanya sebuah sentuhan lembut di kepala si cantik yang bisa Rieva berikan, berharap bisa sedikit mengobati lukanya yang menganga.
Baca lebih lanjut

Si mungil baru saja belajar tentang tawadhu’ dan sombong. Sebagai sebuah bagian dari peristiwa yang dialaminya. Awalnya dia bertekad dan yakin bisa menyelesaikan skripsinya dalam kurun waktu yang telah dia tentukan sendiri. Setiap ada yang bertanya lulus kapan? dia menjawabnya dengan optimis. Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Kepenatannya mengerjakan syarat terakhir sebelum gelar sarjana diberikan kepadanya memaksa dia untuk menyerah. Dia berhenti sejenak. Dan ketika dia disentak oleh teman-temannya yang sudah mulai banyak menggunakan toga dia baru tersadar bahwa dia beristirahat terlalu lama. Dunia kampus sudah asing baginya. Materi kuliah apa lagi. Tapi dia tidak menyerah. Satu hal yang dia pelajari dari kondisi itu

Butuh keberanian besar untuk kembali kepada sesuatu yang telah lama kau tinggalkan. Bukan sesuatu itu yang membuatmu merasa berbeda, tapi kamulah yang tertinggal.

Dan si Mungil sangat merasakan sakitnya tertinggal. Biasanya dia tidak pernah menyalahi aturan. Patuh terhadap apa yang ada di lingkungannya. Tapi untuk urusan lulus ini, dia berani mengambil keputusan untuk berhenti selama 5 bulan dari skripsinya. Satu hal yang sangat tidak biasa dia lakukan dan dia merasakan sakitnya ketertinggalan. Dengan sekuat tenaga dia mengejar. Masih optimis akan sampai pada target yang telah ditentukan. Tapi Allah mempunyai jalur lain untuknya.

Dipertemukan dia dengan pembimbing yang sibuk dan banyak sekali kegiatan. Dia pun kewalahan dalam menjalin komunikasi dengan pembimbingnya. Hingga dia tiba pada satu palung introspeksi. KENAPA?? jika dilihat nilai akademiknya tidak jelek, dan usahanya sudah dia maksimalkan. Tapi kenapa bab dalam skripsinya tidak juga mengalami kemajuan? Satu jawaban menghantarkannya pada sedikit kelegaan dalam hatinya. Besyukur Allah memberikan petunjuk terhadap permasalahan yang ada pada dirinya.

sombong

ya… itulah yang membuatnya terpuruk. Dia sombong karena sudah memplanning hidupnya dengan rapi. Dia sombong karena merasa punya percaya diri dan semangat yang sangat keras. Dia yakin bisa berkomunikasi dengan mudah kepada pembimbingnya, tapi dia lupa bahwa ada Dzat yang Maha Besar di atas sana. Dia lupa mengingat rabb nya ketika dia berucap sesuatu sebagai bentuk keoptimisannya. Dia lupa meminta kepada yang empunya segala. Sebuah keyakinan dan keoptimisan yang sangat tipis beririsan dengan kesombongan.

Padahal Allah sangat membenci hambaNya yang sombong. Dia mendapat sebuah hikmah besar yang harus ditukar dengan lambatnya waktu berlalu. Dia mulai merubahnya. NIat awal mengerjakan skripsi adalah agar bisa memenuhi hak kedua orang tuanya dan menggugurkan kewajibannya. Namun di balik itu semua ada 1 hal yang sangat penting dan menjadi akar dari segala macam bentuk ibadah kepada sang khalik. Akhirnya dia mengubah niatnya. Bukan lagi untuk memenuhi hak kedua orang tuanya melainkan untuk mendapat ridho dari Allah, Rabb yang Maha Perkasa. Ridho itu di dapat dengan media kedua orang tua. Jika orang tua ridho karena kebahagiaannya melihat anak yang dibanggakannya menjadi sarjana, maka pada saat yang bersamaan pula Allah ridho terhadapnya.

Hak Allah bahwa tidaklah sesuatu di dunia itu sombong elainkan Allah merendahkannya (HR Bukhari)

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong (QS. Al Isra : 37)

 

Maukah aku ceritakan sesuatu kepadamu nak? Mungkin memang tidak begitu berarti untukmu, tapi itu akan memberikan sebuah kesenangan tersendiri di dalam hati orang tua ini. Hanya dengan kau mendengarkan ceritaku, akan lebih senang lagi kalau kau antusias dan bersedia memberikanku beberapa pertanyaan. Aku pasti akan menjawabnya nak. Usia yang semakin udzur membuatku kehilangan banyak teman bicara.

Sepeda antik ini, kau tahu? dahulu dia adalah sahabatku yang paling setia. Dia selalu membuatku terlihat gagah dengan seragam yang aku pakai. Dia selalu membuatku bangga dengan pekerjaan yang aku kerjakan. Baca lebih lanjut