Category: Coretanku


Saat ini saya benar-benar merasakan faedah dari sabda rasulullah SAW ketika ditanya oleh sahabat tentang siapa orang yang harus dihormati. Rasulullah SAW menyebut “Ibumu.” lalu sahabat bertanya “siapa lagi ya Rasul?” jawab rasulullah SAW “Ibumu.” dan untuk ketiga kalinya sahabat bertanya lagi serta Rasulullah memberikan jawaban yang sama, “Ibumu.” Kemudian ketika keempat kalinya sahabat bertanya, barulah Rasulullah SAW menjawab “Ayahmu.”

Begitu istimewanya seorang ibu sampai harus dihormati tiga kali lebih banyak dari pada seorang ayah. Bukan bermaksud untuk menafikkan peran ayah di dalam kehidupan seorang anak, namun menjadi seorang ibu memang sesuatu yang luar biasa. Kalau kata suami saya bilang “Emejing euy emejing.”

Seorang ibu harus siap secara fisik. Sakit itu pemberian Allah, dan seorang ibu harus bisa menjaga kondisi badannya agar selalu sehat dan fit. Karena apa? Kita tidak akan pernah tahu bagaimana keadaan si kecil. Terkadang dia begitu manis dan tidur nyenyak samai pagi, namun terkadang ada hal-hal yang menyebabkannya harus terjaga hingga pagi tiba. Kalau ibu tidak bisa menjada kondisi badannya, maka dia akan K.O dan imbasnya akan kembali kepada si anak karena ketika seorang ibu meminum zat kimia dari obat, maka akan berpengaruh ke perkembangan anak juga.

Disaat sang ayah terlelap beristirahat, terkadang seorang ibu harus rela menahan kantuknya untuk menggendong buah hati yang terbangun tengah malam, menemaninya hingga dia tertidur kembali.

Baca lebih lanjut

Transisi Posisi~

Di suatu sore yang berawan, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Berawal dari perasaan cemas, khawatir, dan sedikit takut karena harus ditinggal sendiri di rumah. 😦 Sebenarnya sudah sering juga harus ditinggal sendiri sementara suami berangkat mengajar atau ke kampus, namun kali ini suasananya beda. Biasanya saya ditinggal sendiri di kontrakan yang luasnya tidak seberapa. Jarak antar tetangga juga saling berdempetan sehingga walaupun saya ditingga sendiri namun masih merasa ramai karena terkadang obrolan dari tetangga kontrakan masih bisa terdengar walaupun sayup-sayup. Nah untuk kali ini saya harus ditinggal sendiri di rumah mertua yang luasnya berkali lipat dari luas kontrakan untuk pertama kalinya. Walaupun jarak dengan tetangga juga berdekatan, namun sayup-sayup suara obrolan tetap tidak bisa saya dengar. Jadilah saya benar-benar merasa sendiri dan akhirnya timbul perasaan-perasaan seperti tadi.

Beberapa bulan yang lalu (hitungannya masih bulan, soalnya usia pernikahan saya juga belum satu tahun) saya masih seorang anak dalam sebuah keluarga. Dimana pada saat itu saya merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian atas perlindungan yang siap diberikan keluarga. Kehangatan sebuah keluarga membuat saya merasa aman bersama mereka. Saat ini semuanya berbeda sudah. Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus menghadapi sebuah transisi dimana saya harus belajar menjadi calon orang tua. Yaa, insya Allah beberapa bulan lagi, kamilah (saya dan suami) yang harus bisa memberikan ketenangan dan kedamaian di dalam keluarga kecil kami. Bukan sebuah perkara yang mudah memang. Kami harus mengalahkan rasa takut yang selama ini kami miliki. Saya akui mental untuk menjadi orang tua memang harus sangat dipersiapkan, setidaknya menaikkan setiap level dari sikap yang sudah kita miliki (contohnya saya paling jijik ketika melihat tikus berkeliaran di sekitar saya, ketika menjadi anak, saya bisa acuh tak acuh dan berdalih “ah ada ibu atau ayah, paling juga nanti mereka yang akan mengusir tikus itu) atau sebuah rasa tanggung jawab (contoh ketika melihat piring kotor, “ah ada si mba yang nanti bantu mencucinya)

Perasaan-perasaan seperti itu saat ini sudah tidak sepatutnya ada dalam diri saya. Sebenarnya bukan saat ini saja sih, sikap peduli terhadap lingkungan memang seharusnya ada dari dulu :-p hanya saja untuk saat ini harus ditingkatkan lagi levelnya. Saat ini kalau dalam benak saya hanya ada kalau bukan saya yang mengerjakan, siapa lagi? masa iya seorang istri tega melihat rumahnya berantakan dan kotor? istri macam apa itu? Nah perasaan-perasaan semacam itulah yang saat ini saya alami dalam masa transisi posisi.

Kok ceritanya malah jadi ngalor ngidul ya. Oke balik lagi ke big tema “ditinggal sendiri di rumah” ada rasa malu juga kepada Allah, kalau memiliki rasa takut seakan tidak percaya bahwa ada Dzat Yang Maha Menjaga. Dan ingat bahwa dengan mengingatnya hati ini bisa menjadi tenang. Insya Allah jika semua diserahkan kepada Allah, apapun dan bagaimanapun keadaannya, kita akan merasa terlindungi. Dan benar saya, dengan mengingat dan bedzikir kepada Allah maka sedikit demi sedikit perasaan takut dan cemas itu hilang 🙂

Sekali lagi aku menarik nafas panjang. Berusaha mengusir kantukku agar pergi jauh dan tidak menggangguku. Pagi ini aku hanya ingin fokus dan serius untuk kesekian kalinya. Aku tidak boleh putus asa, Allah pasti mendengar pintaku. Dimulai dari sebuah pertanyaan siapa aku? Akan sangat mudah menjawabnya bahwa aku adalah seorang perempuan. Pertanyaan berikutnya perempuan seperti apakah aku? Setiap orang memunyai berlembar-lembar permasalahan di dalam hidupnya. Begitupun aku. Salah satu lembaran permasalahan yang aku punya untuk segera aku selesaikan adalah tentang hal satu itu. Ya, hal yang satu itu. Sebenarnya aku malu untuk menceritakannya. Entah keberanian apa yang kemudian menyebabkan tangan ini pada akhirnya nekat menuliskannya.

Aku seorang perempuan, sudah aku katakan di awal tadi. Usiaku sekarang berkisar antara 22-30 tahun. Adakah yang sudah bisa menebak apa yang ingin aku ceritakan dengan kata kunci usiaku? Aku seorang perempuan luar  biasa. Ya, aku tahu aku lemah, namun aku mencoba dengan segenap daya dan upayaku untuk menguatkan diri. For what? aaaah tidak usah berpura-pura mengajukan pertanyaan itu. Aku benci mendengarnya. Ya Allah… apa aku memang harus mengatakan semuanya secara tersurat? Oke aku coba. Silahkan tertawakan aku. Saat ini, aku sedang berusaha menguatkan diriku untuk menunggu seseorang datang menjemputku. Seseorang? siapa dia? Masih bertanya? yang jelas jawabannya bukan seorang polisi yang akan menjemputku ke penjara karena kesalahanku.  Oke aku perjelas dan semoga kalian paham.

Hal yang sangat diidam-idamkan oleh perempuan seumuranku tentunya adalah bertemu dengan pemilik tulang rusuk ini yang kemudian akan mengalungkan sebuah ikatan yang suci dan halal untuk kemudian melalui kehidupan bersama. Ooooh maksudnya menunggu jodoh 😀 Yups! aku benci dengan ekspresi tertawa kalian itu. whats wrong? Jujur aku tidak pernah berdoa agar Allah memberiku cerita cinta seperi Ali r.a dan Fatimah r.a putri Rasulullah SAW yang katanya so sweet and very beautifull. Sungguh aku merasa tidak akan kuat menahan gejolak rasaku hingga syaitanpun tidak akan tahu. Kan aku sudah katakan kalau aku perempuan luar biasa. Aku juga tidak berharap jalan cerita cintaku seperti nabi Yusuf a.s dan Zulaikha yang terekam abadi dalam sebuah kitab cinta Yusuf dan Zulaikha. Aku hanya ingin kisah cinta sederhana dan yang lebih aku inginkan adalah aku segera merasakannya. Maksa banget sih. Komentarmu membuatku sedih 😥

Baca lebih lanjut

Labaik Allahumma labaik..

Panggilan paling indah yang diidam-idamkan oleh semua umat muslim di dunia ini. Berhaji. Berkunjung ke baitullah. Beribadah ke negeri Rasulullah. Merunut kepingan demi kepingan puzzle sejarah perjuangan generasi terbaik.  O:-)

Saat ini baru bisa berharap, kapan sekiranya diri ini bisa hadir disana. Bergabung dengan ribuan saudara dengan aqidah yang sama. Menghamba sejenak melupakan dunia. Pergi haji bukan hanya sekedar perkara meunggu penggilan dariNya. Namun panggilan itu adalah hasil dari sebuah usaha dan keyakinan. Banyak orang yang yang sudah membulatkan tekadnya dan selalu memohon untuk segera dipanggil olehNya ke baitullah, namun terkendala permasalahan kemampuan finansial. Banyak juga orang yang sudah terpenuhi permasalahan finansialnya namun belum tergerak hatinya untuk hadir di tengah lautan manusia berbaju ihram serba putih. Karena itu, panggilan haji bukan hanya sekedar panggilan yang ditunggu, namun sebuah panggilan dan giliran yang perlu diusahakan dan disempatkan dari jauh-jauh hari.

Pagi ini, saya dan suami berbincang tentang tanah haram. Tentang keinginan suami untuk menuntut ilmu di negeri Rasulullah. Tentang kesempatan yang tersedia baginya. Dan tentang harapannya bisa mengambil dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Hanya saja saat ini memang harus bersabar terlebih dahulu karena kesempatan untuk study disana mensyaratkan suami harus menyelesaikan study Lc- nya terlebih dahulu yang masih kurang satu setengah tahun lagi. Semangat ya bi 😀

Harapan kami melambung tinggi. Berharap sampai kepada ilahi rabbiy melewati langit-langitnya yang tinggi dan mendapat dukungan dari malaikat penjaga langit yang turut mengamini. Jika suami bisa memanfaatkan kesempatan untuk melengkapi study nya di sana, memang sepertinya kami harus berpisah terlebih dahulu selama kurnag lebih satu tahun. Namun tak apa, sudah seharusnya seorang istri mendukung apa yang terbaik untuk perkembangan suaminya 🙂 kalau kata orang-orang zaman sekarang #akurakpopo kalau harus ditinggal hihihi.

Lagipula beasiswa itu mencantumkan bisa sekalian menunaikan ibadah haji, tidak ada yang sulit untuk universitas atau ma’had di Madinah dan Mekah memberangkatkan mahasiswanya berhaji karena lokasi mereka memang dekat sekali dengan ka’bah. Tidak perlu akomodasi yang berlebihan. Beasiswa tersebut juga memberikan mukafaah yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau membeli sebuah kitab dengan total 800 real setiap bulannya. Kalau ingin tahu dalam kurs rupiahnya, silahkan dihitung sendiri ya hihi 😀

Usaha lain yang bisa kami lakukan adalah membuka tabungan haji. Bismillah, mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah yang kami punya untuk mendapatkan kursi terbang ke baitullah mungkin adalah salah satu kebahagiaan tak terkira. Kapanpun akhirnya Allah mencukupkan, saat itulah waktu terbaik bagi kami untuk memenuhi panggilannya. Yang terpenting adalah usaha. Kami tahu tidak sepantasnya kami hanya diam menunggu tanpa melakukan sebuah upaya. Dan tabungan haji serta beasiswa itulah yang mungkin bisa kami upayakan. Berangkat haji memang seharusnya disempatkan, bukan menunggu sempat.

Semoga harapan-harapan kami akan bisa kami capai. Dengan izinMu Rabbiy Amiin 🙂

Confeito in My Life

Ada yang pernah mendengar istilah confeito? Hmmm mungkin di Indonesia istilah satu ini sangat jarang terdengar dan banyak yang tidak tahu istilah apa itu… Tapi coba lihat gambar berikut

confeito 6  Nah setelah melihatnya, pasti sudah ada gambarankan confeito itu apa? 😀 Confeito tidak lain dan tidak bukan adalah nama jenis permen. Sedikit membahas sejarah tentang confeito (sedikit saja tentang asal usulnya, tidak usah banyak-banyak 😛 )

Confeito adalah permen yang berasal dari Jepang dan berbentuk bintang warna-warni yang rasanya manis. Nama confeito sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Portugal yang artinya gula-gula (tuh kan bahannya saja dari gula berarti rasanya manis). Kalau ingin tahu lebih lanjut, search saja ya di mbah google 😀

Untuk saya yang masuk ke dalam golongan orang visual, melihat benda warna-warni seperti confeito itu senangnya luar biasa 😀 karena kecenderungan orang visual memang menyukai keindahan dan warna-warni yang sedap dipandang mata.

confeito 7Bagi saya, confeito itu mengingatkan saya tentang kehidupan. Kehidupan yang penuh warna dan indah. Walaupun kehidupan itu sendiri tidak selamanya berwarna cerah seperti layaknya confeito, terkadang harus kita temui pula warna-warna kelam di dalam kehidupan. Juga tentang rasanya. Kehidupan tidak akan selalu berasa manis seperti confeito yang memang terbuat dari gula. Selain manis, ada asam, asin, dan pahit yang kita rasakan dalam kehidupan ini (bukan bermaksud ngiklan loh) 😀

Masalah warna dan rasa kehidupan sebenarnya tergantung bagaimana kita menjalaninya. Hanya saja saya ingin selalu mencoba menjalani kehidupan ini dengan positif agar warnanya selalu cerah dan manis seperti confeito. Percaya Allah tidak akan memberikan segala sesuatu yang jelek kepada hambaNya. 🙂 Kalaupun kita mengalami kesulitan, Allah sudah memberikan jalan keluarnya.

Nah kan buat apa bersedih hati. Tentang kehidupan ini sebenarnya mudah. “Apabila kamu tidak bisa merubah keadaan sesuai dengan keinginanmu, maka kamu hanya perlu merubah hatimu untuk bisa menerima keadaan terebut.” So simple kan? 😀

Masih ngobrolin soal confeito, selain gula-gula ada juga confeito yang bisa digunakan sebagai hiasan. Confeito ini saya buat dari pita. Ceritanya dulu ketika memasuki masa-masa galau, saya diperkenalkan oleh sahabat saya, namanya Weka (sekarang dia seorang dokter cuy tapi tetep aja galaunya belum hilang hihiii). Suatu hari ketika main ke kamarnya, saya melihat dia sedang membuat sesuatu dari pita kertas. Dia menamainya dengan bintang harapan (ce ilaaaah kalau inget masa-masa itu sungguh prihatin 😛 tapi untuk menuju ke tahap dewasa kami memang harus melaluinya.) Satu persatu bintang harapan itu dikumpulkan dan sayapun ikut terhipnotis olehnya. Satu persatu bintang harapan itu saya kumpulkan walaupun pada akhirnya saya buang karena hanya menjadi sahpah yang menumpuk saja di lemari saja hihii

Seperti apapun kehidupan, kitalah yang menjadikannya indah atau kelam tentu saja atas izin Allah ya 🙂

Kami adalah dua hal yang tidak pernah bertemu. Terlalu jauh untuk bisa mengenal satu dengan yang lain. Jangankan untuk bisa memahami, saling penyapapun rasanya tak mungkin terjadi. Hanya malam panjang yang membuat kami seolah tidak kehilangan harapan untuk sekedar menyampaikan pesan.

Semarang, tetap mempertahankan citranya sebagai salah satu kota panas di Indonesia. Seperti juga siang ini. Sejauh kepala mendongak ke langit untuk sekedar mencari awan tipis sebagai peneduh, hanya bentangan langit biru yang membentang. Tidak hanya cerah, tapi sangat terik. Allah memang Maha Adil dalam membagikan rezeki kepada hambaNya. Suasana inilah yang menjadi media para tukang rujak untuk bertebaran di sekitar kampus mencari karuniaNya. Apalah arti sebuah keluh dan kesah, karena dibalik sengatan matahari ini, Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada manusia. KemurahanNya tiada banding dalam mengatur rezeki berjuta-juta makhlukNya.

“Gila ni es udah cepet amat mencairnya.” Dahlia, mengaduk-aduk gelas es teh di depannya.

“Pusiiiiing.” aku yang mulai bosan dengan tumpukan buku-buku tebal di hadapannya. “Teoriku kurang melulu. Kalau kayak gini ceritanya kapan aku bisa cepet-cepet ngelarin skripsi?”

“Udah, dibawa enjoy aja.” Kata Mawar masih cekikikan menonton video-video korea kesukaannya dengan soulmate tersayangnya Melati.

“Temen-temen gimana kalau kita ikut refreshing ke Bogor bareng sama himpunan mahasiswa jurusan.”

Alhasil, disinilah aku sekarang. Bersama dengan rombongan mencari secercah hiburan untuk sekedar mengobati kepenatan. Bogor-Depok adalah destinasi tujuan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dalam mengadakan touring bertajuk together we are one. Kubah Emas objek terakhir yang kami kunjungi sebelum akhirnya harus kembali lagi ke Semarang. Dan disinilah aku untuk pertama kalinya bertemu dengannya.

Baca lebih lanjut

Putri Dalam Cerminku

Dalam bayang sendu kau kusapa

wahai putri dalam cerminku, temani diriku terluka

Dalam bayang semu kau kupinta

hapuskan sedihku pancarkanlah senyummu,

buatlah diriku tertawa

Bawa daku bersamamu capai bintang-bintang, sinari sepiku

Wahai putri ku dalam cerminan hiburlah hatiku

Walau dalam lamunan

-sherina-

Minimal dua kali sehari aku menyapamu wahai putri. Melihatmu aku selalu mencoba tersenyum, karena kau pun akan ikut tersenyum denganku. Cantik menurutku. Bahkan sangat cantik. Mungkin orang lain tak sependapat soal ini. Tapi biarlah. Biarlah hanya aku dan kamu saja yang mengakuinya. Itu sudah cukup 🙂

Senyummu yang mengembang, menyiratkan berjuta makna yang kau pendam. Hanya ketika melihat mata hitam mu itu aku mengerti. Ada banyak cerita di sana yang mungkin coba kau sembunyikan. Yang mungkin coba kau rahasiakan.

Putri, mungkin hanya kita dan Tuhan yang tahu isi paling tersembunyi dari kalbumu. Maksud paling ikhlas dari dalamnya perasaanmu. Terkadang kesemuanya itu terbungkus dalam sikap yang penuh dengan ketidaksempurnaan. Cela dan cacat. Namun itulah yang menandakan kau bukan malaikat. Baca lebih lanjut

Kami hanyalah beberapa orang dengan karakteristik yang berbeda-beda, yang dipertemukan Allah dalam sebuah kesempatan. Awalnya aku tidak menyadari arti dari pertemuan itu, karena bagiku, pertemuan itu tidaklah beda dengan pertemuan-pertemuan lainnya, antar sesama teman sekelas. Namun yang membuatku mengerti bahwa pertemuan itu adalah sebuah anugrah yang tak terhingga ketika hubungan kami terus terjaga. Sampai sekarang. Dimana jarak sudah memisahkan raga-raga dan tubuh kami. Namun hati tidak pernah memutuskan perasaan memiliki satu dengan yang lainnya. Itulah kami, 12 orang kawan, yang selalu mencoba menyempatkan waktu untuk sekedar bersua walau hanya setatap muka.

friends

1. Ade Saputro

2. Andika Elok Amalia

3. Andika Kholifah Gilar Pratiwi

4. Bagus Panuntun Tejo Baskoro

5. Dian Sukoco

6. Erva Maulita

7. Fernando Anggra Kusuma Negara

8. Muhammad Akbar Setiawan

9. Muhammad Hanif

10. Pramudya Anggun

11. RahdianMitasari

12. Weka Bhramitasari

Baca lebih lanjut

“Janji Kelingking”

Zacky, untuk kesekian kalinya melirik ujung gang di depan rumahnya. Masih belum nampak seseorang mendekat. Untuk pertama kalinya dia merasa sebuah kebencian dalam kegiatannya pagi ini. Menunggu. Sudah sekitar 1 jam dia berjalan mondar-mandri di halaman rumahnya. Motor ayah sudah kinclong dibersihkannya, berbeda dengan dirinya yang masih dekil, belum mandi. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan sebuah rasa ketidaksabaran. Ada sebuah hal yang ingin dia pastikan dari seseorang yang sedang ditunggunya. Seketika Zacky menyesali keputusannya untuk tidak menerima ajakan umi menemaninya pergi ke pasar. Mungkin dengan pergi ke pasar dia bisa mendapatkan kepastian lebih cepat daripada hanya menunggu di halaman rumahnya. Untuk kesekian kalinya Zacky menyiram kebun mawar umi sampai tanah di bawahnya menjadi becek tidak karuan. Setidaknya hanya itu yang bisa dilakukannya untuk membunuh waktu yang berjalan seakan sangat lambat.

“Bang Zacky… tolong angkatin ember penuh jemuran ke jemuran atas. Kalau sampai umi pulang jemuran belum beres kita bisa nggak dapat sarapan.” Teriak Zubaidah, adik semata wayangnya.

“Angkat sendiri dulu dek, abang lagi sibuk.” jawabnya cuek.

“Sibuk apaan? daritadi nyiram bunga nggak selesei-selesei? becek jadinya, kebanyakan disiram nanti mati bang bunganya. Udah buruan angkat embernya, Zee nggak kuat.”

“Manja banget sih lu. Angkat sendiri aja.”

“Yeee kalau kuat juga udah Zee angkat  sendiri dari tadi. Ngapain juga ngandelin kakak tak berperasaan. Udah buruan, nanti umi marah lho.”

Zacky menggeram. Pengganggu. Tidak tahu apa kalau dirinya sedang menunggu seseorang. Tidak tahu apa urusannya kali ini sangat penting? Dengan setengah hati dia beranjak. Diangkatnya ember berisi cucian seabrek itu dengan sangat cepat. Secepat kilat agar dia bisa kembali ke halaman rumahnya. Menunggu seseorang. Terlambat. Langkahnya ketika sampai di halaman berbarengan dengan suara pintu rumah ditutup. Pintu sebelah. Pintu yang kini terlihat sangat sulit untuk dimasukinya. Tidak seperti dulu ketika dia kecil, tanpa permisi tanpa kenal waktu, dia bisa memasuki pintu itu. Baca lebih lanjut

Derap langkah kaki terdengar tertatih menaiki tangga. Lantai 3 itu terlihat penuh dengan gantungan-gatungan baju yang berjajar rapi, menanti hangatnya cahaya mentari membuatnya kembali kering. Pertama kali ku lihat wajah seorang asing di kos. Usianya tak lagi muda. Berbeda dari kami yang masih mahasiswa. Namun aku tak mau buru-buru berprasangka. Awalny aku pikir dia seorang mahasiswa S2 yang sedang menimba ilmu di universitas yang sama denganku. Dia tersenyum. Menyapaku. Ramah.

“Waduh.. jemurannya penuh ya?” ucapnya sembari mengatur nafas. Dialog pertama aku dengannya pagi itu.

“Iya bu, banyak baju kering yang belum diangkat pemiliknya.” jawabku membalas keramahannya.

Nafasnya masih tersenggal mungkin habis di tengah anakan tangga untuk bisa sampai ke lantai 3.

“Siapa namanya?” ujarnya

“Rieva.”

“Ya ampun. Ini mba Rieva? yang kemarin pagi nganterin Elly ke rumah sakit ya?” katanya antusias.

Aku tertegun. Mencerna kata-katanya yang sangat mendadak. Otakku sedikit melambat karena kaget. Elly? sepertinya aku tidak asing dengan nama itu. Dan akhirnya aku menemukan benang merah. Dia adalah ibu adek satu kosku yang kemarin pagi meminta tolong untuk diantar ke rumah sakit. Baca lebih lanjut