Category: Sakinah Mawadah Warahmah


IMG01667-20141226-0757

Alhamdulillah putaran hari pertama di tahun 2015 disambut dengan rintikan gerimis. Suasana menjadi adem dan sangat nyaman untuk melanjutkan mimpi (kalau nggak inget laranan tidur habis subuh Rasulullah mah udah meluk guling lagi hihi πŸ˜€ ) sholehah kami juga masih terlelap mengingat semalam tidurnya galau (glebak sana-glebak sini) gara-gara bunyi terompet para tetangga dan orang lewat yang melarutkan diri dalam euforia sesa(a)t pergantian tahun.

Tepat pada tanggal 1 januari ini, Adzkiya memasuki usia 5 bulan. Dan seperti biasa ketika sholehah kami memasuki usia yang baru, saya sibuk searching untuk mengetahui seperti apa sih perkembangan bayi di usia 5 bulan itu. Hal ini saya maksudkan agar saya bisa mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan si kecil untuk menunjang perkembangannya. Informasi yang saya dapat mengenai perkembangan bayi usia 5 bulan sangat-sangat menakjubkan (bulan-bulan sebelumnya juga perkembangannya selalu membuat saya takjub sih hehe πŸ˜€ ) berikut rangkuman yang saya baca dari beberapa situs di internet tentang perkembangan bayi usia 5 bulan:

Baca lebih lanjut

Iklan

Mungkin sudah agak terlambat menulis postingan ini. Tapi tidak apalah saya lanjutkan saja πŸ™‚ Postingan ini saya persembahkan untuk suami saya tercinta, dimana beberapa hari yang lalu (hampir setengah bulan yang lalu sih hehe) tepatnya pada tanggal 24 Agustus kami kembali diingatkan moment sakral yang menyatukan kami dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Ya, tidak terasa sudah satu tahun kami menikah dan hidup bersama. Alhamdulillah Allah beri kemudahan-kemudahan kepada kami hingga saat ini. Saya mencoba mengingat kembali momen-momen bahagia bersama suami, semoga semakin mempererat jalinan kasih sayang diantara kita ya bi hehe (semoga saja suami baca) 😦

249372_4467169290241_2136702021_nJanji jari kelingking atau “Pinky Promise”
1. Tidak boleh saling menyakiti

2. Tidak boleh selingkuh

3. Tidak boleh meninggalkan

Well mungkin kami akan dianggap ababil atau lebay tapi buat kamu itu so sweet. Kenapa janji kelingking ini begitu berarti bagi kami? karena kami merasa janji kelingking ini menjadi salah satu pengingat kami ketika kami marah ataupun ketika kami merasa jenuh. Berawal dari janji kelingking inilah kehidupan bersama kami mulai berjalan. Suka, duka, tawa, air mata pernah kami berdua rasakan. Mungkin ada orang-orang yang mempertanyakan pernikahan kami yang mereka anggap terlalu cepat karena kami belum punya apa-apa yang dianggap “pantas” untuk seseorang menikah seperti uang yang banyak, pekerjaan yang mapan dan lain sebagainya. Bismillah, kami sandarkan niat kami kepada Allah untuk menikah demi menyelamatkan diri kami dari laranganNya. Baca lebih lanjut

images

Alhamdulillahirobbil ‘alamin segala puji untuk Rabb yang dengan kuasanya setiap makhluk hidup tercipta di dunia ini disertai manfaatnya.Β  Sejak lahir, alhamdulillah Adzkiya tidak pernah mengalami gangguan kesehatan apapun. Namun memasuki umur di bulan kedua, beberapa gangguan kesehatan mulai menimbulkan kecemasan. Didukung oleh faktor cuaca dan udara di Purwokerto yang tidak bersahabat, perubahan suhu yang sangat ekstrem dari panas sumuk tidak karuan tiba-tiba menjadi dingin berangin. Mungkin untuk tubuh mungilnya yang masih dalam tahap penyesuaian dengan dunia luar, belum bisa menerima dengan sempurna hal-hal seperti demikian. Akhirnya perut Adzkiya menjadi kembung.

Sebagai tindakan awal, saya selalu melumurinya dengan minyak telon dan mengulanginya secara berkala setiap saya rasa kehangatannya mulai berkurang. Saya juga rajin mengganti bajunya, ketika udara panas saya kenakan baju dengan lengan biasa dan ketika udara mulai mendingin langsung saya ganti bajunya dengan lengan panjang. Namun ternyata upaya tersebut masih belum cukup untuk mencegah Adzkiya terkena masuk angin. Walhasil tidak dapat dihindari perutnya kembung.

Saat itulah ibu teringat khasiat daun mengkudu dimana sewaktu saya kecil dulu, ibu mendapat resep dari nenek untuk menempelkan daun mengkudu di atas perut yang kembung. Alhamdulillah di sekitar tempat saya tinggal masih banyak kebun-kebun yang di dalamnya tumbuh pohon mengkudu secara liar sehingga tidak perlu susah-susah mencarinya.

1. Ambil satu lembar daun mengkudu muda.

2. Garang di atas api sampai layu

3. Cuci bersih daun mengkudu yang telah layu tersebut

4. Setelah dikeringkan, olesi dengan minyak kelapa

5. Tempelkan di perut bayi, dengan diberi lubang pada bagian pusar. Untuk mencegah daun mengkudu tersebut bergeser, bisa menggunakan gurita. Setelah itu biarkan sampai daun mengkudu tersebut mengering.

Hasil: Setelah ebberapa jam ditempeli dengan daun mengkudu, Adzkiya mulai bisa buang angin lagi dan mulai BAB. Alhamdulillah rasanya plooooong πŸ˜€ walaupun saat itu harus terjaga tengah malam untuk menungguinya BAB. Sambil ngantuk-ngantuk saya menemani dia. Tapi ngantuk itu langsung hilang ketika dia selesei BAB dan langsung bisa mengoceh kembali lengkap dengan senyuman manisnya. Subhanallah malaikat kecilku :-*

Setiap ibu pasti mempunyai cerita tersendiri tentang perjuangannya melahirkan buah hati. Pada postingan kali ini saya juga ingin berbagi cerita tentang perjuangan bertemu dengan sholehah kami. Selama ini saya hanya mendengarkan cerita dari orang-orang bahwa proses melahirkan merupakan salah satu proses menyakitkan sekaligus membahagiakan untuk seorang ibu. Luar biasa sekali ya? bagaimana mungkin terdapat dua hal yang bertentangan dalam satu waktu? sakit sekaligus bahagia. Saya hanya bisa membayangkan dengan imajinasi saya yang terbatas seperti apa ya kira-kira rasanya. Yang jelas seorang teman saya pernah berkata bahwa ketika melahirkan, kita berada pada titik pasrah terendah kepada Allah. Benar-benar menyerahkan segala apa yang akan terjadi kepadaNya.

Saat itu tepat sebulan yang lalu, tanggal 1 Agustus 2014 pukul 03.00 WIB pagi. Saya tiba-tiba terbangun dalam kondisi pakaian basah. Awalnya saya kira (maaf) saya ngompol. Namun setelah dirasakan itu bukan air ompolan. Akhirnya saya membangunkan suami dan ibu. Dari sanakan diketahui bahwa air ketuban saya sudah merembes. Saat itu kondisi saya masih bisa jalan-jalan, masih bisa tertawa-tawa dan air ketubannya juga tidak terus menerus mengalir hingga pada akhirnya ibu memutuskan membawa saya ke bidan terdekat selepas subuh. Baca lebih lanjut

BpkzJ3YCUAAlCI0Β  Menjadi orang tua/ calon orang tua tentuya merupakan sebuah hal yang luar biasa bagi sebagian orang yang telah menikah. Mengapa saya bilang sebagian? Karena ada sebagian lain pasangan yang kurang bisa mengemban dengan baik amanah (anak) dari Allah. Beberapa waktu belakangan ini sering muncul di media massa berbagaimacam kasus kekerasan baik kekerasan fisik maupun kekerasan dalam bentuk seksual kepada anak. Na’udzubillahi min dzalik semoga kita semua terhindar dari perbuatan menyia-nyiakan anak sesulit apapun keadaan pada diri kita. Padahal jika kita sadari, anak merupakan aset dan harta yang sangat berharga yang Allah percayakan kepada kita jika kita mampu mendidiknya menjadi anak yang sholeh.

” Jika manusia mati maka pahala amalnya terputus darinya kecuali dari tiga perkara:

1. sedekah yang terus mengalir manfaatnya

2. ilmu yang diamalkan

3. anak sholeh yang mendoakannya”Β  (HR. Muslim)

Judul yang saya lampirkan mungkin terlalu berat terkesannya :-p (mencoba bercermin sebesar apa kapasitas diri sendiri). Namun sebenarnya yang ingin saya bagikan adalah sebuah nasehat atau bisa dibilang tips dari seorang ustadz kenalan suami, namanya ustadz Khalil. Sedikit bercerita tentang beliau, selama beberapa tahun beliau berdakwah di ranah Kalimantan lebih tepatnya di daerah Sambas dan disanalah suami saya berkesempatan untuk bertemu dan belajar dari beliau.

Ustadz Khalil mengatakan bahwa memperkenalkan tauhid kepada anak merupakan hal mutlak yang wajib dilakukan oleh calon orang tua.Β  Cara untuk memperkenalkannya sebenarnya bisa dilakukan mulai dari dalam kandungan dimana kedua orang tua sering membacakannya alquran, terlebih lagi sang ibu yang sering mendengarkan kajian-kajian dan selalu berusaha menjaga lisannya agar setiap apa yang terucap memiliki kaitan dengan Sang Maha Pencipta.

Ketika anak lahir pertahankan untuk selalu mendengarkannya perkataan-perkataan dan suara-suara yang baik seperti murotal alquran dan dzikir-dzikir. Walaupun mungkin dia belum bisa melakukan dialog dengan kita, namun cobalah selalu untuk mengajaknya berbincang dengan selalu menyertakan nama Allah dalam setiap kalimat yang kita tujukan kepadanya. Contohnya ketika kita berniat untuk menghangatkan badannya di bawah sinar matahari pagi (mainstreem banget hehe) kita katakan kepadanya “Subhanallah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan matahari ya dek. Dimana dengan sinar matahari itu, badan dedek bisa menjadi hangat. Sungguh maha Penyayang Allah.” dan lain-lain masih banyak lagi. Nah biasakanlah untuk menyertakan nama Allah dalam setiap percakapan yang kita lakukan dengan buah hati sampai kemudian di suatu waktu sang anak dengan polosnya akan bertanya “Umi, Abi, Allah itu siapa?”

Itu adalah golden moment bagi orang tua. Selamat! karena ketika sang anak bertanya seperti itu rasa ingin tahunya sangat besar terhadap Allah dan di saat itulah waktu yang tepat untuk menjelaskan (tentunya dengan bahasa yang sederhana namun mengena di dalam jangkauan pemikiran anak sesuai usianya) karena nggak mungkin donk kita memperkenalkan Allah kepada anak dengan bahasa panjang lebar kayak dosen yang kasih ceramah buat mahasiswanya hehe πŸ˜€

Memang masalah tauhid ini masuk ke dalam kategori masalah super dangerous alias sangat berbahaya. Seperti yang saat ini dapat dengan mudah kita temui di sekitar kita betapa anak-anak muda zaman sekarang sedikit demi sedikit mulai kabur pengetahuannya tentang Rabbnya. Tergantikan dengan sosok-sosok manusia yang berhasil menguasai pikiran dan mempengaruhi hari-hari anak. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk menjadi orang tua sholih dan sholihah yang mampu mengemban amanah Allah yang begitu besar ini dengan baik. Amiin πŸ™‚ Yups itulah tulisan yang bisa saya bagikan kepada sobat semua. Jika bermanfaat tentunya semua atas izin Allah ta’ala. Tidak seberat apa yang tertulis di judulkan hehe πŸ˜€

nb. Mau tahu sumber foto dalam artikel ini? klik aja langsung fotonya πŸ™‚

syafakallah-1Allah selalu luar biasa dengan segala skenario yang ditakdirkan kepada hambaNya. Salah satunya adalah ketika yang tersayang sakit. Tiga hari sudah suhu badan abi tidak menentu. Panas, setelah minum obat kemudian berkeringat dan suhunya turun. Namun setelah itu akan berangsur-angsur kembali naik. Kami sudah memprediksi beberapa perkiraan sakit yang kemungkinan diderita abi (mengingat belum bisa melakukan cek darah sebelum tiga hari). Gejala demam berdarah, typus, sampai kepada campak. Satu persatu statement keluar dari pihak keluarga. Doaku saat itu hanya satu, apapun yang abi derita, berikanlah yang terbaik untuk menghadapinya rabbiy.

Qodarullah setelah cek darah, trombosit abi turun dibawah batas normal (normalnya 150 ribu lebih) sedangkan trombosit abi hanya 113 ribu. Inilah saatnya peranku sebagai seorang istri diuji, apakah layak aku mendapatkan sebutan sebagai istri yang baik, apalagi istri sholehah πŸ™‚ . Aku coba merawatnya sekuat tenagaku, mempraktekkan pengetahuan yang aku dapat dari membaca tentang penderita sakit demam berdarah. Dokter bilang, abi belum sampai pada demam berdarah, hanya demam dengue. Penyebabnya adalah nyamuk yang sama.

Memang ini bukan pertama kalinya aku merawat orang sakit (bukannya sombong) :-p dulu ketika merantau dan tinggal di kos atau wismapun sudah sering berhadapan dengan teman yang sakit. Hanya saja bedanya, waktu itu tanggungjawab ada di seluruh penghuni kos. Namun sekarang tanggungjawab utama untuk merawat abi ada di pundakku (sebagai istrinya tentunya). Bismillahitawakaltu.

Baca lebih lanjut