Category: Uncategorized


Negeri Tanpa Ayah

🌀 NEGERI TANPA AYAH 🌀

🔸 by : Ust Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri)

⚽ 🏃 1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola

🐣 2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar ‘membuat’ anak

🌗 3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi

💰 4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja

💔 5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah

⛅ 6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

💥 7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab

👎 8| AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya

🙇 9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya

👑 10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya

🌏 11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country

🏇 12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?

💻 13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi

👫 14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya

📖 15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli

👉👨 16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH

👨 17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak

💎 18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya

💖 19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi

💜 20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.

📚 21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut

💞 22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid

🎯 23| Harus ada sosokp AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH

🏠 24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan

🌇 25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid

🌹 26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya

😎 27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya

👮 28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’

🐧 29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya

🌺 30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak

🌻 31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika

🍀 32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama

💐 33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi

💦 34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH

🍀🌻💦 35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan.

“Maka Apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada TuhanMulah hendaknya kamu berharap”

(QS. Asy Syarh : 7-8)

Saya melihat kehidupan ini seperti sebuah tapakan tangga. Tapakan tangga yang wajib dilalui karena itu merupakan track untuk sampai ke tempat yang dituju. Terkadang ada sebuah tapakan yang sangat enggan untuk saya lalui. Berbagaimacam alasannya. Dan terkadang ada sebuah tapakan yang membuat saya terlena sampai lupa untuk melanjutkan tapakan selanjutnya. Yang menjadi rival utama dalam tapakan itu hanyalah putaran detik yang terus berjalan tanpa mau berhenti walau hanya sesaat saja.

Saya mengartikan setiap tapakan adalah fase dari kehidupan yang saya lalui dimana ketika kaki saya melangkah semakin ke atas, maka tanggung jawab yang saya pikul juga semakin banyak, amanah yang dipercayakan oleh ALlah juga semakin besar. Terkadang kita tidak bisa meninggalkan satu tapakan untuk langsung menuju ke tapakan selanjutnya walaupun sebenarnya kita menginginkannya. Contohnya kita melewati skripsi untuk kemudian berkeinginan langsung bekerja. Memang mungkin bisa kita melewatiya, tapi kita tidak lupakan bahwa kita punya tanggungjawab yang harus kita selesaikan kepada orang tua? Kita punya hak yang harus kita bayarkan kepada orang tua dengan menyelesaikan perkuliahan kita? Jadi setiap tapakan mengandung tanggungjawab antara hak dan kewajiban yng tidak bisa kita lewati. Kuncinya adalah sabar. Dan dua ayat di atas yang sering mengingatkan saya untuk tidak berhenti terlalu lama dalam sebuah tapakan anak tangga.

Setelah selesai sebuah urusan, bersegeralah untuk mengerjakan urusan yang lain. Ya! Dalan sebuah kajian saya mendengar maksud dari ayat 7 surah Asy Syarh adalah ketika telah menyelesaikan sebuah ibadah, maka bersegeralah untuk mengerjakan ibadah lainnya. Contohnya setelah selesai melaksanakan sholat, maka bersegeralah untuk berdzikir dan melanjutkannya dengan sholat sunah. Demikian juga yang saya maknai dalam kehidupan. Setelah menyelesaikan tapakan saya sebagai seorang mahasiswa, saya sempat melanjutkan ke tapakan selanjutnya dengan bekerja. Saat ini saya sedang berada dalam sebuah tapakan dimana saya menikmati peran saya sebagai seorang istri. Dan jika ALlah mengizinkan, mungkin sebentar lagi di waktu yang tepat saya akan menapaki tapakan selanjutnya menjadi seorang calon ibu aamiin (semoga saja. Ngarep.com) 🙂 Berharap itu bolehkan,  tapi hanya kepada Allah ta’ala. Yang jelas saya mencoba memahami setiap hikmah yang terkandung di dalam tapakan-tapakan anak tangga yang saya lewati. Dan saya mencoba selalu berusaha agar tidak terlalu lama berdiam diri dalam salah satu tapakan anak tangga. Karena manurut saya sebagai seorang perempuan, waktu dalam setiap tapakan saya lebih singkat daripada taoakan seorang laki-laki. Dan sebenarnya semua tapakan-tapakan tangga kehidupan itu adalah keindahan yang Rabb kita ciptakan untuk dapat kita pahamii.

Hanya syukur yang semoga tidak putus terucap dari bibir ini atas segala nikmatNya. Sekarang saya mengerti betapa indah skenario Allah dalam setiap tapakan-tapakan kehidupan yang saya lewati, walaupun di dalamnya terdapat banyak kerikil-kerikil yang menguji kesabaran, banyak lumut-lumut licin yang menggelincirkan keteguhan, banyak sepoian angin yang menggembirakan.

“Jangan berhenti terlalu lama dalam sebuah tapakan anak tangga, karena sebenarnya, tapakan selanjutnya lebih membahagiakan :-)”

Kado Pernikahan Hafalan Alqur’an

Surat Lukman, entah kenapa aku sangat menyenangi surat yang satu ini. Saking senangnya dengan ini surat, aku sampai bercita-cita untuk mengajukan mahar hafalan surat ini kepada suamiku. Pembahasan tentang surat Lukman ini sudah pernah aku tulis sebelumnya di dalam blog ini, bagi yang mau mengobrak-abrik dan mencarinya, silahkan. Asal jangan diberantakin ya hehe 😀

Oke kenapa aku senang dengan surat ini, bahkan bisa dibilang terobsesi (padahal setiap surat dalam alquran itu istimewa) yes i know. Tapi terkadang ada orang-orang yang mendapat pencerahan atau hidayah ketika membaca salah satu surat. Ada beberapa alasan kenapa aku menginginkan calon suamiku untuk memberikan mahar surat Lukman ini:

1. Isinya tentang tauhid

2. Isinya tentang nasihat Lukman kepada anaknya

Cuma dua sih, kalau beberapakan banyak ya? hehe 😀

Alhamdulillah calon suamiku (sekarang udah jadi suami ) bersedia untuk memberikan mahar tersebut, tentu saja meminta mahar ayat alquran tidak terbebas dari konsekuensi. Aku pun harus mengerti apa maksud yang terkandung dalam surat Lukman tersebut jangan asal minta tapi nggak tahu apa yang diminta, iyakan? 😉

Waktu itu kami mendapat saran dari pak pengulu, kalau mau menjadikan hafalan sebagai mahar, berrarti hafalan tersebut harus dibacakan sebelum akad dan di depan saksi. Kalau dibacakannya setelah akad, berarti ketika akad maharnya tidak dibayar tunai melainkan dibayar hutang. Padahal detik-detik menjelang ijab qobul adalah detik-detik paling menegangkan untuk laki-laki, bagaimana akan konsen menghafal sementara hatinya dag-dig-dug bukan main? Karena itu akhirnya hafalan surat Lukman itu tidak jadi dipakai untuk mahar, melainkan menjadi hadiah pernikahan ter-so-sweet untukku. Jadi untuk sobat semua yang ingin mahar berupa hafalan alquran juga, coba dilihat lagi kesiapan sang calon untuk menghafal sebelum akad, takutnya saking deg-degannya malah pingsan lagi hihii 😛

Thanks my husband :-*Toko-Kado-Unik-2

Alhamdulillahirobbil ‘alamin.. setelah disibukkan oleh segala sesuatu tentang PERNIKAHAN, akhirnya bisa kembali menulis lagi. Tidak dapat dipungkiri bahwa urusan pernikahan adalah urusan yang menyita banyak tenaga dan pikiran. Walaupun keinginan kami adalah melangsungkan pernikahan dengan hikmat dan sederhana, namun tetap saja segala sesuatunya membutuhkan persiapan yang maksimal. Hal ini dikarenakan pernikahan merupakan moment sakral yang diharapkan hanya berlangsung satu kali seumur hidup, aamiin 😀

Tidak hanya berhenti sampai pada saat pernikahan itu dilaksanakan, kesibukan pasca pernikahan itu jauh lebih banyak. sibuk silmi kesana kemari meminta doa restu disertai dengan sedikit petuah dari saudara-saudara yang kami kunjungi menjadi pelengkap prosesi pasca pernikahan. Alhamdulillah kami sudah melewatinya 🙂

Aku kembali menulis, dan ini adalah tulisan pertamaku pasca menyandang status baru (istri). Itupun atas desakan suami yang menginginkan aku untuk kembali aktif berbagi ilmu dalam tulisan. Alhamdulillah kepada Dia Dzat Yang Maha Kuasa, aku dipertemukan dengan seseorang yang berjanji untuk selalu mendukungku dalam menyebarkan ilmu agama. Suamiku seorang mahasiswa syariah di LIPIA, sebuah lembaga pendidikan yang bekerja sama dengan universitas di Madinah dalam mencetak generasi-generasi da’i handal. Saat ini beliau masih duduk di mustawa tsalis (semester 3) fakultas Syariah. Masih kurang 2,5 tahun lagi untuk menamatkan pendidikannya menjadi seorang Lc. waktu kuliah yang ditempuh berbeda dengan kampus-kampus pada umumnya. Di LIPIA butuh waktu 7 tahun untuk menjadi seorang Lc. Waktu yang tidak singkat. Dan suamiku pernah merasakan iri kepada teman-teman di kampus umum yang sudah berhasil menyelesaikan perkuliahan mereka dan sekarang sudah sibuk untuk mencari penghasilan dengan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan. Namun hiburku kepadanya Baca lebih lanjut

Ini Tentang Ketulusan

Ini adalah tentang ketulusan

Seperti matahari yang selalu berbagi kehangatan

Tak penah mendapat balasan

Bahkan sekedar terimakasih untuknya di dalam ucapan

Seperti Profesor Snape yang bertahan tanpa kepercayaan

Tak pernah menuntut pengakuan

Hanya menunjukkan kesetiaan

Seperti hujan yang disalahkan

Ketika luapan air penuhi jalan

Padahal darinya terdapat banyak pelajaran

Seperti ibu yang tak pernah kelelahan

Tak pernah menyerah walau keringat bercucuran

Demi keluarga dalam haribaan

Seperti udara yang terlupakan

Tak pernah habis menyokong nafas kehidupan

Walau tak jua rasa syukur karnanya dipanjatkan

Seperti kasih sayang Tuhan

Yang tak pernah putus dalam segala keadaan

Sekalipun berbalas dengan ingkaran

Dan ini tentang ketulusan

Tak terlihat dan tak ingin dilihat

Tak terhitung dan tak pernah menghitung

Tak terbendung dan tak mau membendung

~Jika dia berhati tulus, dalam keadaan marah sekalipun tak akan pernah dia mengungkit kebaikan hati yang pernah dilakukannya, sekalipun orang lain tidak mengetahuinya, namun baginya, cukup Allah yang menyaksikan segalanya~

1078,xcitefun-friendship-notes-25

Confused o_O

Apa yang aku rasakan sekarang? apa itu? itu apa? aku sendiri tak mengerti. Aku sendiri tak tahu bagaimana memilih kata-kata yang pas untuk menggambarkannya. Aku hanya merasa sangat lelah. Lelah dengan semua kebohongan yang aku lakukan. Kebohongan dengan mengatakan I am fine. I am oke lalu tersenyum ceria. Seperti diriku yang biasa. Siapakah juga yang bisa memahami berbagai perasaan yang tidak bisa terdefinisi dalam kata-kata selain sang Maha pemilik hati dan perasaan? Allah SWT.

Sangat tidak pantas ketika aku mengatakan aku kewalahan. Karena Allah tahu ini belum seberapa. Allah yakinkan tubuh ini mampu untuk memikulnya. Karena itu sebuah kesombongan besar ketika aku akhirnya berkata aku kewalahan.

Atau ketika sebuah perasaan hampir putus asa muncul. Allah berkali-kali menyebutkan dalam firmanNya agar tidak pernah berputus asa dari rahmatNya. Dan hanya orang-orang kafir yang berputus asa terhadap pemberianNya. Aku sendiri takut untuk masuk ke dalam golongan orang-orang kafir itu. Namun aku kurang berani untuk menghalau keputus asaan itu. Apakah aku harus membiarkannya mendekatiku? sedikit saja. Sampai datang bukti kekuasaanNya, bahwa Dia maha Perkasa. Tidak. Hanya orang-orang tidak tahu diri yang mempertanyakan bentuk keperkasaanNya.

Jika metode membelah diri amoeba bisa aku praktekkan saat ini. Hanya saat ini. Hanya untuk membiarkan diriku di sini, di Semarang dan membiarkan diriku lainnya berada di sana. Di rumah.

 

~dalam relung hari terdalam aku tahu, Allah adalah sebaik-baik penjaga. Dan malam ini aku biarkan senyumku teronggok di sebuah tempat. Aku sendiri tak tahu apa namanya~

IMG00377-20130107-1217

 

Besok, tanggal 27 adalah hari dimana tepat satu bulan kepergian ayah. Sampai saat ini kabar tentang kepergian beliau masih serasa angin sore yang akan berlalu dengan cepat ketika malam datang untuk menggantikannya. Bukan bermaksud untuk tidak ikhlas menerima takdirNya, hanya saja sosok luar biasa itu terlalu tangguh untuk terusik dari kehidupan ini. Sampai sekarang masih penuh keyakinan bahwa suatu hari beliau akan kembali ke rumah. Seperti biasa. Tidak akan ada apa-apa. Namun keyakinan itu aku sadari 100 persen sangat mustahil. Sudahlah, menangis sekeras apapun juga tak akan mendatangkannya kembali di sampingku. Jika ingin merasa dekat, berdoalah saja untuk kebaikan beliau di alam sana.

Aku tidak akan mengingat hari berkabung itu. Tepat sebulan yang lalu. Aku hanya ingin bercerita tentang hari ini.  Baca lebih lanjut

Tulisan ini aku bikin berlatar belakang atas keherananku. Sungguh keheranan yang amat sangat besar. Terhadap makhluk yang bernama laki-laki. Sempat pagi ini aku mengomentari obrolan dua orang laki-laki yang merupakan temanku ketika di pesantren dulu. Obrolannya tidak jauh dari seputar pernikahan. Bukan masalah sebentar lagi mereka akan menikah. Sungguh bukan itu. Tapi masalah keberanian mereka untuk menikah yang masih terkendala dengan permasalahan bernama maisyah atau nafkah.

Mungkin buat sebagian besar laki-laki, mereka punya pemikiran yang lebih rumit soal menikah daripada seorang perempuan. Bukan kali pertama ini aku menjumpai laki-laki yang berkata “kebanyakan perempuan mensyaratkan kemapanan untuk mereka yang akan meminangnya.” Sudah banyak kata-kata seperti itu aku dengar. Menurutku kata-kata tersebut sungguh tidak adil bagi perempuan (gender banget) kenapa? karena masih banyak perempuan-perempuan di muka bumi ini yang tidak berpendapat demikian. Baca lebih lanjut

Diam

Kadang kala ketika aku diam, bukan berarti aku baik-baik saja

Karena kadang waktu, itu lebih baik

Daripada ketika aku berkata, aku bercerita

Diam memang tak bisa mengisi kekosongan di dalam sini

Namun bercerita hanya akan menambah kekosongan itu semakin melebar

Maha Dasyat Allah yang telah menciptakan manusia dengan sempurna

Dan diantara berjuta manusia hanya kamu yang paling mengerti

Ya.. hanya kamu

Termasuk saat aku memutuskan untuk diam

Kamu pun akan ikut terdiam

Aku tahu kamu begitu setia

Karena Allah yang memerintahkan kamu untuk setia

 Tapi ketika kita terperangkap dalam diam

Tak berarti kau hanya ada di dalam diam itu

Sebenarnya kau lebih tahu apa yang aku rasakan

Daripada ketika aku ditanya

Kenapa?

Bukan aku yang menjawabnya

Karena aku tidak mampu menggerakkan lidahku

Untuk sekedar memecah kesunyian

Atau aku tak mampu mengajak otakku

Untuk membuka mulut yang terbungkam dalam diam

Tapi kamulah yang menjawabnya

Sayang…kamu tidak bisa berkata-kata

Karena kamu juga terperangkap dalam diamku

Tapi ketika mereka sudi

Sebenarnya kamu telah memberikan pertanda

Hanya isyarat kecil

Tapi mereka tak juga mengerti

Tak apa

Mereka masih bertanya

Kenapa?

Baca lebih lanjut

I Love The Rain ^_^

Hujan… entah sejak kapan aku sangat menyukai fenomena alam yang satu ini. Yang aku ingat, ketika aku kecil, aku sering duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan kaca ruang tamu bersama ibuku yang waktu itu menyandingkan segelas teh hangat dan mendoan panas untukku. Bersama menatap rintiknya yang menyejukkan. 

Ibu selalu berkata “Hujan adalah berkah dari Allah. Coba lihat bunga-bunga itu.” Telunjuk ibu mengarah pada bunga bougenvile warna orange yang sedang bermekaran di pekarangan depan rumah (waktu itu halaman rumah kami masih bebatuan dan sedikit taman kecil) 

“Bunganya sangat segar terkena air hujan. Dan kau tahu? bunga itu sekarang sedang berdendang sembari bersyukur kepada Allah.”

Aku lebih tertarik dengan pemandangan di depanku ketimbang cerita ibu. Aku amati setiap orang yang berlalu lalang di tengah rintik hujan. Menghiasi jalanan di depan rumahku dengan warna warni payung aneka warna yang indah. Entah kepentingan apa yang sangat mendesak pagi mereka sehingga mereka rela menerjang hujan. Sementara ibuku sibuk dengan adek yang mulai menangis, aku melanjutkan kenimatanku. Memandang jalanan.

Suara riuh rendah bocah-bocah bersahutan dengan derai ribuan jarum air yang meluncur dari langit membuatku semakin tertarik. Selalu saja sama setiap akhirnya aku meminta izin untuk ikut bermain dengan mereka, ibu tidak memperbolehkanku. Namun selalu aku tahu apa kelemahan ibu. Ketika wajahku memelas penuh belas kasih dan meminta sedikit pengertian sembari batinku berteriak hebat.

“Ibu… aku ingin bermain hujan bersama mereka.” Kata-kataku tidak terucap. Namun mataku memancarkan keinginan yang sangat. Ibu… seperti biasa hanya tersenyum hangat, dan akhirnya mengangguk ikhlas.

Dan dalam hitungan detik aku telah bergabung dengan teman-teman sebayaku di tengah guyuran hujan. Bermain membendung selokan yang kering di musim kemarau namun mendadak penuh air membludak saat hujan turun. Eits selokan di depan rumahku bersih. Tak ada sampah yang menimbulkan bau tak sedap. Kami bocah-bocah duduk di dalam selokan yang tak begitu dalam itu. Membendung air dan setelah penuh berdiri bersama menyaksikan gelombang-gelombang ombak buatan yang kami ciptakan. Bersorak, tertawa, untuk kemudian kembali bercengkerama.

Ketika aku beranjak dewasa, bermain di bawah rintik hujan sudah kurang menarik lagi bagiku. Terkalahkan dengan aroma tanah yang tersiram rintikan hujan. Wangi… segar… lebih segar dari aroma kopi yang biasa diseduh kakek di pagi hari. Kunikmati sepoian angin semilir yang berhempus pelan menabrak pipiku. Dingin…

Dan sekarang aku makin menyukainya. Karena hujan pernah menyembunyikan tangisku. Disaat apa yang aku harapkan jauh dari kenyataan. Disaat apa yang aku banggakan hanya menyisakan kekecewaan. Yah.. hujanlah teman ku saat itu. Ribuan jarum air yang turun dari langit menerpa wajahku. Menyembunyikan air mata yang sempat menetes.

Hujan… bagiku facial alami. Kata orang kalau difacial wajahnya seperti ditusuk jarum. Senut…senut… senut… sensasi itu aku dapatkan dari hujan. Sakit, membuat hati ingin menjerit Namun harus ku tahan karena aku tak mau dianggap aneh oleh orang-orang hehe. 

Karena setiap rintik hujan punya cerita. Apa ceritamu? ;-)
*foto-foto aku dapatkan dari google