Latest Entries »

Semangat Adzkiya

Jadi ceritanya, tulisan ini tentang sholehah kami yang sedang gkundang glundung belajar tengkurep.. Sejak umur 2,5 bulan Adzkiya sudah bisa membalikkan badannya untuk tengkurep.. bahkan sejak umur satu bulan lewat, dimana seharusnya bayi2 masih anteng bobo dengan posisi terlentang, Adzkiya sudah miring-miring kanan kiri.. subhanallah..

Pertama kali bisa membalikkan badannya, tangan Adzkiya belum mampu untuk menopang berat badan dan kepalanya..alhasil nyungsep deh.. tapi dia tidak mudah menyerah.. Dalam sehari terus mencoba dan mencoba.. sampai berkeringat, sampai saya melihatnya ga tega.. kayaknya capek banget hihii tapi saya biarkan saja dia sampai berhenti sendiri..

Alhamdulillah sejak usianya memasuki 3 bulan, tangannya mulai kuat menyangga berat badannya dan dia pun semakin semangat gkundang glundung.. seantero kasur dijelajahinya.. kalau sudah sampai ujung, balik lagi ke ujung lainnya.. walaupun terkadang masih dibumbui dengan adegan mewek karena belum bisa mengembalikan sendiri badannya ke posisi terlentang hihi.. tapi semangatnya subhanallah.. mengajarkan kami abi uminya untuk tidak mau kalah semangat dalam menghadapi fase demi fase kehidupan.. seperti hal nya tengkurep adalah fase yang harus dilewati Adzkiya, dan sholehah kami melaluinya dengan penuh semangat dan pantang menyerah.. barakillah fik sholehah.. kecup sayang dari abi sama umi

image

Iklan

Saat ini saya benar-benar merasakan faedah dari sabda rasulullah SAW ketika ditanya oleh sahabat tentang siapa orang yang harus dihormati. Rasulullah SAW menyebut “Ibumu.” lalu sahabat bertanya “siapa lagi ya Rasul?” jawab rasulullah SAW “Ibumu.” dan untuk ketiga kalinya sahabat bertanya lagi serta Rasulullah memberikan jawaban yang sama, “Ibumu.” Kemudian ketika keempat kalinya sahabat bertanya, barulah Rasulullah SAW menjawab “Ayahmu.”

Begitu istimewanya seorang ibu sampai harus dihormati tiga kali lebih banyak dari pada seorang ayah. Bukan bermaksud untuk menafikkan peran ayah di dalam kehidupan seorang anak, namun menjadi seorang ibu memang sesuatu yang luar biasa. Kalau kata suami saya bilang “Emejing euy emejing.”

Seorang ibu harus siap secara fisik. Sakit itu pemberian Allah, dan seorang ibu harus bisa menjaga kondisi badannya agar selalu sehat dan fit. Karena apa? Kita tidak akan pernah tahu bagaimana keadaan si kecil. Terkadang dia begitu manis dan tidur nyenyak samai pagi, namun terkadang ada hal-hal yang menyebabkannya harus terjaga hingga pagi tiba. Kalau ibu tidak bisa menjada kondisi badannya, maka dia akan K.O dan imbasnya akan kembali kepada si anak karena ketika seorang ibu meminum zat kimia dari obat, maka akan berpengaruh ke perkembangan anak juga.

Disaat sang ayah terlelap beristirahat, terkadang seorang ibu harus rela menahan kantuknya untuk menggendong buah hati yang terbangun tengah malam, menemaninya hingga dia tertidur kembali.

View full article »

Mungkin sudah agak terlambat menulis postingan ini. Tapi tidak apalah saya lanjutkan saja πŸ™‚ Postingan ini saya persembahkan untuk suami saya tercinta, dimana beberapa hari yang lalu (hampir setengah bulan yang lalu sih hehe) tepatnya pada tanggal 24 Agustus kami kembali diingatkan moment sakral yang menyatukan kami dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Ya, tidak terasa sudah satu tahun kami menikah dan hidup bersama. Alhamdulillah Allah beri kemudahan-kemudahan kepada kami hingga saat ini. Saya mencoba mengingat kembali momen-momen bahagia bersama suami, semoga semakin mempererat jalinan kasih sayang diantara kita ya bi hehe (semoga saja suami baca) 😦

249372_4467169290241_2136702021_nJanji jari kelingking atau “Pinky Promise”
1. Tidak boleh saling menyakiti

2. Tidak boleh selingkuh

3. Tidak boleh meninggalkan

Well mungkin kami akan dianggap ababil atau lebay tapi buat kamu itu so sweet. Kenapa janji kelingking ini begitu berarti bagi kami? karena kami merasa janji kelingking ini menjadi salah satu pengingat kami ketika kami marah ataupun ketika kami merasa jenuh. Berawal dari janji kelingking inilah kehidupan bersama kami mulai berjalan. Suka, duka, tawa, air mata pernah kami berdua rasakan. Mungkin ada orang-orang yang mempertanyakan pernikahan kami yang mereka anggap terlalu cepat karena kami belum punya apa-apa yang dianggap “pantas” untuk seseorang menikah seperti uang yang banyak, pekerjaan yang mapan dan lain sebagainya. Bismillah, kami sandarkan niat kami kepada Allah untuk menikah demi menyelamatkan diri kami dari laranganNya. View full article »

Oke pada postingan berikutnya masih tidak jauh-jauh dari bayi. Ceritanya, dalam satu RW di desa saya sepanjang bulan agustus ini ada 5 orang ibu melahirkan. Saya jadi banyak teman untuk sharing berbagai macam hal. Mengikuti perkembangan zaman, kami ibu-ibu saling sharing via sms, sudah tidak lagi kongkow di tukang sayur hihii πŸ˜€

Ketika kontrol Adzkiya, saya mendapatkan tips dari dokter M. Basalamah. Dokter keturunan Arab yang kata ibu ganteng. Ini kata ibu saya loh ya bukan kata saya hehee. ALhamdulillah tips ini bisa saya share dan bagikan kepada ibu-ibu yang lainnya karena ternyata beberapa diantara bayi-bayi baru lahir tersebut menderita hidung mampet dan pilek. Apa itu pilek dan influenza tidak akan saya bahas di sini karena bukan bidang saya untuk membahasnya. Saya hanya akan share tips dari dokter Basalamah seperti yang saya bilang tadi. Ini dia tipsnya: View full article »

images

Alhamdulillahirobbil ‘alamin segala puji untuk Rabb yang dengan kuasanya setiap makhluk hidup tercipta di dunia ini disertai manfaatnya.Β  Sejak lahir, alhamdulillah Adzkiya tidak pernah mengalami gangguan kesehatan apapun. Namun memasuki umur di bulan kedua, beberapa gangguan kesehatan mulai menimbulkan kecemasan. Didukung oleh faktor cuaca dan udara di Purwokerto yang tidak bersahabat, perubahan suhu yang sangat ekstrem dari panas sumuk tidak karuan tiba-tiba menjadi dingin berangin. Mungkin untuk tubuh mungilnya yang masih dalam tahap penyesuaian dengan dunia luar, belum bisa menerima dengan sempurna hal-hal seperti demikian. Akhirnya perut Adzkiya menjadi kembung.

Sebagai tindakan awal, saya selalu melumurinya dengan minyak telon dan mengulanginya secara berkala setiap saya rasa kehangatannya mulai berkurang. Saya juga rajin mengganti bajunya, ketika udara panas saya kenakan baju dengan lengan biasa dan ketika udara mulai mendingin langsung saya ganti bajunya dengan lengan panjang. Namun ternyata upaya tersebut masih belum cukup untuk mencegah Adzkiya terkena masuk angin. Walhasil tidak dapat dihindari perutnya kembung.

Saat itulah ibu teringat khasiat daun mengkudu dimana sewaktu saya kecil dulu, ibu mendapat resep dari nenek untuk menempelkan daun mengkudu di atas perut yang kembung. Alhamdulillah di sekitar tempat saya tinggal masih banyak kebun-kebun yang di dalamnya tumbuh pohon mengkudu secara liar sehingga tidak perlu susah-susah mencarinya.

1. Ambil satu lembar daun mengkudu muda.

2. Garang di atas api sampai layu

3. Cuci bersih daun mengkudu yang telah layu tersebut

4. Setelah dikeringkan, olesi dengan minyak kelapa

5. Tempelkan di perut bayi, dengan diberi lubang pada bagian pusar. Untuk mencegah daun mengkudu tersebut bergeser, bisa menggunakan gurita. Setelah itu biarkan sampai daun mengkudu tersebut mengering.

Hasil: Setelah ebberapa jam ditempeli dengan daun mengkudu, Adzkiya mulai bisa buang angin lagi dan mulai BAB. Alhamdulillah rasanya plooooong πŸ˜€ walaupun saat itu harus terjaga tengah malam untuk menungguinya BAB. Sambil ngantuk-ngantuk saya menemani dia. Tapi ngantuk itu langsung hilang ketika dia selesei BAB dan langsung bisa mengoceh kembali lengkap dengan senyuman manisnya. Subhanallah malaikat kecilku :-*

Setiap ibu pasti mempunyai cerita tersendiri tentang perjuangannya melahirkan buah hati. Pada postingan kali ini saya juga ingin berbagi cerita tentang perjuangan bertemu dengan sholehah kami. Selama ini saya hanya mendengarkan cerita dari orang-orang bahwa proses melahirkan merupakan salah satu proses menyakitkan sekaligus membahagiakan untuk seorang ibu. Luar biasa sekali ya? bagaimana mungkin terdapat dua hal yang bertentangan dalam satu waktu? sakit sekaligus bahagia. Saya hanya bisa membayangkan dengan imajinasi saya yang terbatas seperti apa ya kira-kira rasanya. Yang jelas seorang teman saya pernah berkata bahwa ketika melahirkan, kita berada pada titik pasrah terendah kepada Allah. Benar-benar menyerahkan segala apa yang akan terjadi kepadaNya.

Saat itu tepat sebulan yang lalu, tanggal 1 Agustus 2014 pukul 03.00 WIB pagi. Saya tiba-tiba terbangun dalam kondisi pakaian basah. Awalnya saya kira (maaf) saya ngompol. Namun setelah dirasakan itu bukan air ompolan. Akhirnya saya membangunkan suami dan ibu. Dari sanakan diketahui bahwa air ketuban saya sudah merembes. Saat itu kondisi saya masih bisa jalan-jalan, masih bisa tertawa-tawa dan air ketubannya juga tidak terus menerus mengalir hingga pada akhirnya ibu memutuskan membawa saya ke bidan terdekat selepas subuh. View full article »

BpkzJ3YCUAAlCI0Β  Menjadi orang tua/ calon orang tua tentuya merupakan sebuah hal yang luar biasa bagi sebagian orang yang telah menikah. Mengapa saya bilang sebagian? Karena ada sebagian lain pasangan yang kurang bisa mengemban dengan baik amanah (anak) dari Allah. Beberapa waktu belakangan ini sering muncul di media massa berbagaimacam kasus kekerasan baik kekerasan fisik maupun kekerasan dalam bentuk seksual kepada anak. Na’udzubillahi min dzalik semoga kita semua terhindar dari perbuatan menyia-nyiakan anak sesulit apapun keadaan pada diri kita. Padahal jika kita sadari, anak merupakan aset dan harta yang sangat berharga yang Allah percayakan kepada kita jika kita mampu mendidiknya menjadi anak yang sholeh.

” Jika manusia mati maka pahala amalnya terputus darinya kecuali dari tiga perkara:

1. sedekah yang terus mengalir manfaatnya

2. ilmu yang diamalkan

3. anak sholeh yang mendoakannya”Β  (HR. Muslim)

Judul yang saya lampirkan mungkin terlalu berat terkesannya :-p (mencoba bercermin sebesar apa kapasitas diri sendiri). Namun sebenarnya yang ingin saya bagikan adalah sebuah nasehat atau bisa dibilang tips dari seorang ustadz kenalan suami, namanya ustadz Khalil. Sedikit bercerita tentang beliau, selama beberapa tahun beliau berdakwah di ranah Kalimantan lebih tepatnya di daerah Sambas dan disanalah suami saya berkesempatan untuk bertemu dan belajar dari beliau.

Ustadz Khalil mengatakan bahwa memperkenalkan tauhid kepada anak merupakan hal mutlak yang wajib dilakukan oleh calon orang tua.Β  Cara untuk memperkenalkannya sebenarnya bisa dilakukan mulai dari dalam kandungan dimana kedua orang tua sering membacakannya alquran, terlebih lagi sang ibu yang sering mendengarkan kajian-kajian dan selalu berusaha menjaga lisannya agar setiap apa yang terucap memiliki kaitan dengan Sang Maha Pencipta.

Ketika anak lahir pertahankan untuk selalu mendengarkannya perkataan-perkataan dan suara-suara yang baik seperti murotal alquran dan dzikir-dzikir. Walaupun mungkin dia belum bisa melakukan dialog dengan kita, namun cobalah selalu untuk mengajaknya berbincang dengan selalu menyertakan nama Allah dalam setiap kalimat yang kita tujukan kepadanya. Contohnya ketika kita berniat untuk menghangatkan badannya di bawah sinar matahari pagi (mainstreem banget hehe) kita katakan kepadanya “Subhanallah, Maha Besar Allah yang telah menciptakan matahari ya dek. Dimana dengan sinar matahari itu, badan dedek bisa menjadi hangat. Sungguh maha Penyayang Allah.” dan lain-lain masih banyak lagi. Nah biasakanlah untuk menyertakan nama Allah dalam setiap percakapan yang kita lakukan dengan buah hati sampai kemudian di suatu waktu sang anak dengan polosnya akan bertanya “Umi, Abi, Allah itu siapa?”

Itu adalah golden moment bagi orang tua. Selamat! karena ketika sang anak bertanya seperti itu rasa ingin tahunya sangat besar terhadap Allah dan di saat itulah waktu yang tepat untuk menjelaskan (tentunya dengan bahasa yang sederhana namun mengena di dalam jangkauan pemikiran anak sesuai usianya) karena nggak mungkin donk kita memperkenalkan Allah kepada anak dengan bahasa panjang lebar kayak dosen yang kasih ceramah buat mahasiswanya hehe πŸ˜€

Memang masalah tauhid ini masuk ke dalam kategori masalah super dangerous alias sangat berbahaya. Seperti yang saat ini dapat dengan mudah kita temui di sekitar kita betapa anak-anak muda zaman sekarang sedikit demi sedikit mulai kabur pengetahuannya tentang Rabbnya. Tergantikan dengan sosok-sosok manusia yang berhasil menguasai pikiran dan mempengaruhi hari-hari anak. Semoga kita semua diberi kemampuan untuk menjadi orang tua sholih dan sholihah yang mampu mengemban amanah Allah yang begitu besar ini dengan baik. Amiin πŸ™‚ Yups itulah tulisan yang bisa saya bagikan kepada sobat semua. Jika bermanfaat tentunya semua atas izin Allah ta’ala. Tidak seberat apa yang tertulis di judulkan hehe πŸ˜€

nb. Mau tahu sumber foto dalam artikel ini? klik aja langsung fotonya πŸ™‚

Transisi Posisi~

Di suatu sore yang berawan, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Berawal dari perasaan cemas, khawatir, dan sedikit takut karena harus ditinggal sendiri di rumah. 😦 Sebenarnya sudah sering juga harus ditinggal sendiri sementara suami berangkat mengajar atau ke kampus, namun kali ini suasananya beda. Biasanya saya ditinggal sendiri di kontrakan yang luasnya tidak seberapa. Jarak antar tetangga juga saling berdempetan sehingga walaupun saya ditingga sendiri namun masih merasa ramai karena terkadang obrolan dari tetangga kontrakan masih bisa terdengar walaupun sayup-sayup. Nah untuk kali ini saya harus ditinggal sendiri di rumah mertua yang luasnya berkali lipat dari luas kontrakan untuk pertama kalinya. Walaupun jarak dengan tetangga juga berdekatan, namun sayup-sayup suara obrolan tetap tidak bisa saya dengar. Jadilah saya benar-benar merasa sendiri dan akhirnya timbul perasaan-perasaan seperti tadi.

Beberapa bulan yang lalu (hitungannya masih bulan, soalnya usia pernikahan saya juga belum satu tahun) saya masih seorang anak dalam sebuah keluarga. Dimana pada saat itu saya merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian atas perlindungan yang siap diberikan keluarga. Kehangatan sebuah keluarga membuat saya merasa aman bersama mereka. Saat ini semuanya berbeda sudah. Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus menghadapi sebuah transisi dimana saya harus belajar menjadi calon orang tua. Yaa, insya Allah beberapa bulan lagi, kamilah (saya dan suami) yang harus bisa memberikan ketenangan dan kedamaian di dalam keluarga kecil kami. Bukan sebuah perkara yang mudah memang. Kami harus mengalahkan rasa takut yang selama ini kami miliki. Saya akui mental untuk menjadi orang tua memang harus sangat dipersiapkan, setidaknya menaikkan setiap level dari sikap yang sudah kita miliki (contohnya saya paling jijik ketika melihat tikus berkeliaran di sekitar saya, ketika menjadi anak, saya bisa acuh tak acuh dan berdalih “ah ada ibu atau ayah, paling juga nanti mereka yang akan mengusir tikus itu) atau sebuah rasa tanggung jawab (contoh ketika melihat piring kotor, “ah ada si mba yang nanti bantu mencucinya)

Perasaan-perasaan seperti itu saat ini sudah tidak sepatutnya ada dalam diri saya. Sebenarnya bukan saat ini saja sih, sikap peduli terhadap lingkungan memang seharusnya ada dari dulu :-p hanya saja untuk saat ini harus ditingkatkan lagi levelnya. Saat ini kalau dalam benak saya hanya ada kalau bukan saya yang mengerjakan, siapa lagi? masa iya seorang istri tega melihat rumahnya berantakan dan kotor? istri macam apa itu? Nah perasaan-perasaan semacam itulah yang saat ini saya alami dalam masa transisi posisi.

Kok ceritanya malah jadi ngalor ngidul ya. Oke balik lagi ke big tema “ditinggal sendiri di rumah” ada rasa malu juga kepada Allah, kalau memiliki rasa takut seakan tidak percaya bahwa ada Dzat Yang Maha Menjaga. Dan ingat bahwa dengan mengingatnya hati ini bisa menjadi tenang. Insya Allah jika semua diserahkan kepada Allah, apapun dan bagaimanapun keadaannya, kita akan merasa terlindungi. Dan benar saya, dengan mengingat dan bedzikir kepada Allah maka sedikit demi sedikit perasaan takut dan cemas itu hilang πŸ™‚

Sekali lagi aku menarik nafas panjang. Berusaha mengusir kantukku agar pergi jauh dan tidak menggangguku. Pagi ini aku hanya ingin fokus dan serius untuk kesekian kalinya. Aku tidak boleh putus asa, Allah pasti mendengar pintaku. Dimulai dari sebuah pertanyaan siapa aku? Akan sangat mudah menjawabnya bahwa aku adalah seorang perempuan. Pertanyaan berikutnya perempuan seperti apakah aku? Setiap orang memunyai berlembar-lembar permasalahan di dalam hidupnya. Begitupun aku. Salah satu lembaran permasalahan yang aku punya untuk segera aku selesaikan adalah tentang hal satu itu. Ya, hal yang satu itu. Sebenarnya aku malu untuk menceritakannya. Entah keberanian apa yang kemudian menyebabkan tangan ini pada akhirnya nekat menuliskannya.

Aku seorang perempuan, sudah aku katakan di awal tadi. Usiaku sekarang berkisar antara 22-30 tahun. Adakah yang sudah bisa menebak apa yang ingin aku ceritakan dengan kata kunci usiaku? Aku seorang perempuan luarΒ  biasa. Ya, aku tahu aku lemah, namun aku mencoba dengan segenap daya dan upayaku untuk menguatkan diri. For what? aaaah tidak usah berpura-pura mengajukan pertanyaan itu. Aku benci mendengarnya. Ya Allah… apa aku memang harus mengatakan semuanya secara tersurat? Oke aku coba. Silahkan tertawakan aku. Saat ini, aku sedang berusaha menguatkan diriku untuk menunggu seseorang datang menjemputku. Seseorang? siapa dia? Masih bertanya? yang jelas jawabannya bukan seorang polisi yang akan menjemputku ke penjara karena kesalahanku.Β  Oke aku perjelas dan semoga kalian paham.

Hal yang sangat diidam-idamkan oleh perempuan seumuranku tentunya adalah bertemu dengan pemilik tulang rusuk ini yang kemudian akan mengalungkan sebuah ikatan yang suci dan halal untuk kemudian melalui kehidupan bersama. Ooooh maksudnya menunggu jodoh πŸ˜€ Yups! aku benci dengan ekspresi tertawa kalian itu. whats wrong? Jujur aku tidak pernah berdoa agar Allah memberiku cerita cinta seperi Ali r.a dan Fatimah r.a putri Rasulullah SAW yang katanya so sweet and very beautifull. Sungguh aku merasa tidak akan kuat menahan gejolak rasaku hingga syaitanpun tidak akan tahu. Kan aku sudah katakan kalau aku perempuan luar biasa. Aku juga tidak berharap jalan cerita cintaku seperti nabi Yusuf a.s dan Zulaikha yang terekam abadi dalam sebuah kitab cinta Yusuf dan Zulaikha. Aku hanya ingin kisah cinta sederhana dan yang lebih aku inginkan adalah aku segera merasakannya. Maksa banget sih. Komentarmu membuatku sedih πŸ˜₯

View full article »

Labaik Allahumma labaik..

Panggilan paling indah yang diidam-idamkan oleh semua umat muslim di dunia ini. Berhaji. Berkunjung ke baitullah. Beribadah ke negeri Rasulullah. Merunut kepingan demi kepingan puzzle sejarah perjuangan generasi terbaik.Β  O:-)

Saat ini baru bisa berharap, kapan sekiranya diri ini bisa hadir disana. Bergabung dengan ribuan saudara dengan aqidah yang sama. Menghamba sejenak melupakan dunia. Pergi haji bukan hanya sekedar perkara meunggu penggilan dariNya. Namun panggilan itu adalah hasil dari sebuah usaha dan keyakinan. Banyak orang yang yang sudah membulatkan tekadnya dan selalu memohon untuk segera dipanggil olehNya ke baitullah, namun terkendala permasalahan kemampuan finansial. Banyak juga orang yang sudah terpenuhi permasalahan finansialnya namun belum tergerak hatinya untuk hadir di tengah lautan manusia berbaju ihram serba putih. Karena itu, panggilan haji bukan hanya sekedar panggilan yang ditunggu, namun sebuah panggilan dan giliran yang perlu diusahakan dan disempatkan dari jauh-jauh hari.

Pagi ini, saya dan suami berbincang tentang tanah haram. Tentang keinginan suami untuk menuntut ilmu di negeri Rasulullah. Tentang kesempatan yang tersedia baginya. Dan tentang harapannya bisa mengambil dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Hanya saja saat ini memang harus bersabar terlebih dahulu karena kesempatan untuk study disana mensyaratkan suami harus menyelesaikan study Lc- nya terlebih dahulu yang masih kurang satu setengah tahun lagi. Semangat ya bi πŸ˜€

Harapan kami melambung tinggi. Berharap sampai kepada ilahi rabbiy melewati langit-langitnya yang tinggi dan mendapat dukungan dari malaikat penjaga langit yang turut mengamini. Jika suami bisa memanfaatkan kesempatan untuk melengkapi study nya di sana, memang sepertinya kami harus berpisah terlebih dahulu selama kurnag lebih satu tahun. Namun tak apa, sudah seharusnya seorang istri mendukung apa yang terbaik untuk perkembangan suaminya πŸ™‚ kalau kata orang-orang zaman sekarang #akurakpopo kalau harus ditinggal hihihi.

Lagipula beasiswa itu mencantumkan bisa sekalian menunaikan ibadah haji, tidak ada yang sulit untuk universitas atau ma’had di Madinah dan Mekah memberangkatkan mahasiswanya berhaji karena lokasi mereka memang dekat sekali dengan ka’bah. Tidak perlu akomodasi yang berlebihan. Beasiswa tersebut juga memberikan mukafaah yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau membeli sebuah kitab dengan total 800 real setiap bulannya. Kalau ingin tahu dalam kurs rupiahnya, silahkan dihitung sendiri ya hihi πŸ˜€

Usaha lain yang bisa kami lakukan adalah membuka tabungan haji. Bismillah, mengumpulkan sedikit demi sedikit rupiah yang kami punya untuk mendapatkan kursi terbang ke baitullah mungkin adalah salah satu kebahagiaan tak terkira. Kapanpun akhirnya Allah mencukupkan, saat itulah waktu terbaik bagi kami untuk memenuhi panggilannya. Yang terpenting adalah usaha. Kami tahu tidak sepantasnya kami hanya diam menunggu tanpa melakukan sebuah upaya. Dan tabungan haji serta beasiswa itulah yang mungkin bisa kami upayakan. Berangkat haji memang seharusnya disempatkan, bukan menunggu sempat.

Semoga harapan-harapan kami akan bisa kami capai. Dengan izinMu Rabbiy Amiin πŸ™‚