“Karena bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan.”

QS. Asy Syarh:5-6)

Ini cerita tentang dua ulama Islam yang luar biasa. Yang pertama adalah ahli nahwu dan yang kedua adalah ahli hadist. Sebagai manusia biasa, terkadang kita sering mengeluh ketika berhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang kita temui dalam kehidupan. Beberapa diantara manusia bahkan ada yang berputus asa. Pelajar yang kesulitan dalam belajar merasa putus asa dan sering mengeluh dalam mempelajari matematika dan fisika misalnya. Atau seorang karyawan perusahan mengeluh karena deadline  yang harus dicapainya untuk mempertahankan eksistensinya di dunia pekerjaan. Atau seorang ayah yang mengeluh karena faktor permasalahan yang tidak kunjung selesei dalam keluarganya, bahkan seorang ibu yang berputus asa dan tega membunuh anaknya karena takut akan masa depan anaknya yang dikhawatirkan tidak akan cerah. Dua ulama ini memberikan kepada kita pengajaran tentang pentingnya sikap pantang menyerah dan tidak berputus asa.

Namanya adalah Imam Al Kisai. Saat itu beliau masih menjadi seorang pelajar dan sangat susah ketika mempelajari Nahwu. Pintu pemahaman terhadap pelajaran yang mempelajari struktur bahasa Arab tersebut seolah sangat susah sekali untuk dibuka. Padahal teman-temannya seolah begitu mudah memahami pelajaran Nahwu. Entah apa yang menjadi penyebabnya mengingat beliau bukan ahli maksiat. Namun mengapa begitu sulit untuk memahami satu pelajaran tersebut? Hingga pada suatu hari peliau memperhatikan seekor semut yang ingin menaiki tembok sembari membawa bahan makanan yang ukurannya lebih besar daripada ukuran badan semut tersebut. Satu kali mencoba semut itu terjatuh. Dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, masih saja terjatuh dan belum bisa memanjat tembok di depannya. Sang Imam masih terus mengamati tingkah laku semut tersebut. Berkali-kali jatuh berkali-kali pula mencoba bangkit dan memanjat lagi hingga pada akhirnya sedikit demi sedikit sang semut berhasil menaiki tembok tersebut. Dari sanalah sang Imam menyimpulkan sebuah hikmah bahwa untuk mencapai sesuatu kita diharuskan kerja keras dan pantang menyerah. Demikian juga ketika kita ingin menguasai satu bidang ilmu. Sejak saat itu, sang Imam bertekad untuk menaklukkan Nahwu sedikit demi sedikit dan usahanya tersebut membuahkan hasil dan mengantarkannya menjadi seorang ahli Nahwu hebat.

Cerita kedua adalah tentang ahli Hadist bernama Ibnu Hajar Al Atsqolani. Siapa yang tidak mengenal pengarang buku berjudul Fathul Bari’ yang terkenal itu? Ya, Ibnu Hajar awalnya hanya seorang pemuda biasa yang merasa kesulitan mempelajari hadist. Bahkan menurut gurunya, diantara sejumlah murid di kelas, ibnu Hajar merupakan salah satu murid yang paling lemah hafalannya. Padahal untuk mempelajari ilmu hadist dituntut sebuah ingatan yang harus berkonsentrasi penuh terhadap apa yang dihafalkannya. Ibnu Hajar menyadari kelemahannya tersebut dan berusaha untuk memoerbaikinya hingga pada suatu hari hampir jatuh kepada jurang keputus asaan. Ibnu Hajar menyendiri di pinggir sebuah sungai. Merenung dan bermuhasabah mengapa dirinya begitu sulit mempelajari ilmu hadist? Ketika didengarnya suara titikan air tidak jauh darinya, hatinya tergerak untuk mendatanginya. Dilihatnya air yang menetes ke atas sebuah batu. Sedikit demi sedikit setes demi setetes hingga akhirnya batu yang berada di bawahnya terlubangi. Lubang itu semakin lama semakin membesar. Ibnu Hajar  mengambil sebuah kesimpulan batu yang begitu keras saja bisa ditaklukkan oleh tetesan air sedikit demi sedikit. Dari sanalah semangatnya untuk terus mempelajari ilmu hadist tumbuh dan berkobar hingga akhirnya beliau menjadi seorang ahli hadist. Baca lebih lanjut

Iklan