Awalnya aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia fotografi. Bahkan ketika masuk ke dalam jurusan ilmu komunikasi, melihat teman-teman berbondong-bondong ngrumpiin kamera yang namanya DSLR pun aku tidak bergeming. Waktu itu heboh sekali itu kamera DSLR digosipin. Tentang keistimewaannya, tentang kekurangannya, pokoknya semua tentangnya. (alhamdulillah daripada ngegosipin artis atau tetangga, mending ngegosipin kamera. Dapat ilmu, nggak dosa pula 😉 )

Hingga pada suatu hari aku kehilangan seseorang yang sangat aku sayang. Kakekku. Pada saat beliau dimakamkan aku tidak bisa pulang ke rumah karena harus mengikuti sebuah acara wajib di kampus. Saat itulah aku benar-benar merasa kehilangan. Semua kenangan eyang kakung hanya aku rekam di ingatan. Dan ingatan itu suatu hari akan kabur tergantikan hal lain.  Tidak ada bukti otentik tentang sosok beliau. Dari sanalah aku mulai tertarik dengan fotografi. Saat itu keinginanku hanya satu. Aku ingin mengabadikan setiap momen yang ada sebagai sebuah kenangan, dalam sebuah foto. Bukankah kita bisa belajar sejarah karena adanya sebuah bukti otentik seperti foto, catatan, fosil, dan sebagainya. Jangan pernah menganggap tidak penting hal-hal remeh saat ini karena bisa jadi di masa depan dia akan menjadi sesuatu yang sangat penting.

Baca lebih lanjut