Zacky, untuk kesekian kalinya melirik ujung gang di depan rumahnya. Masih belum nampak seseorang mendekat. Untuk pertama kalinya dia merasa sebuah kebencian dalam kegiatannya pagi ini. Menunggu. Sudah sekitar 1 jam dia berjalan mondar-mandri di halaman rumahnya. Motor ayah sudah kinclong dibersihkannya, berbeda dengan dirinya yang masih dekil, belum mandi. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan sebuah rasa ketidaksabaran. Ada sebuah hal yang ingin dia pastikan dari seseorang yang sedang ditunggunya. Seketika Zacky menyesali keputusannya untuk tidak menerima ajakan umi menemaninya pergi ke pasar. Mungkin dengan pergi ke pasar dia bisa mendapatkan kepastian lebih cepat daripada hanya menunggu di halaman rumahnya. Untuk kesekian kalinya Zacky menyiram kebun mawar umi sampai tanah di bawahnya menjadi becek tidak karuan. Setidaknya hanya itu yang bisa dilakukannya untuk membunuh waktu yang berjalan seakan sangat lambat.

“Bang Zacky… tolong angkatin ember penuh jemuran ke jemuran atas. Kalau sampai umi pulang jemuran belum beres kita bisa nggak dapat sarapan.” Teriak Zubaidah, adik semata wayangnya.

“Angkat sendiri dulu dek, abang lagi sibuk.” jawabnya cuek.

“Sibuk apaan? daritadi nyiram bunga nggak selesei-selesei? becek jadinya, kebanyakan disiram nanti mati bang bunganya. Udah buruan angkat embernya, Zee nggak kuat.”

“Manja banget sih lu. Angkat sendiri aja.”

“Yeee kalau kuat juga udah Zee angkat  sendiri dari tadi. Ngapain juga ngandelin kakak tak berperasaan. Udah buruan, nanti umi marah lho.”

Zacky menggeram. Pengganggu. Tidak tahu apa kalau dirinya sedang menunggu seseorang. Tidak tahu apa urusannya kali ini sangat penting? Dengan setengah hati dia beranjak. Diangkatnya ember berisi cucian seabrek itu dengan sangat cepat. Secepat kilat agar dia bisa kembali ke halaman rumahnya. Menunggu seseorang. Terlambat. Langkahnya ketika sampai di halaman berbarengan dengan suara pintu rumah ditutup. Pintu sebelah. Pintu yang kini terlihat sangat sulit untuk dimasukinya. Tidak seperti dulu ketika dia kecil, tanpa permisi tanpa kenal waktu, dia bisa memasuki pintu itu. Baca lebih lanjut

Iklan