Si mungil baru saja belajar tentang tawadhu’ dan sombong. Sebagai sebuah bagian dari peristiwa yang dialaminya. Awalnya dia bertekad dan yakin bisa menyelesaikan skripsinya dalam kurun waktu yang telah dia tentukan sendiri. Setiap ada yang bertanya lulus kapan? dia menjawabnya dengan optimis. Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Kepenatannya mengerjakan syarat terakhir sebelum gelar sarjana diberikan kepadanya memaksa dia untuk menyerah. Dia berhenti sejenak. Dan ketika dia disentak oleh teman-temannya yang sudah mulai banyak menggunakan toga dia baru tersadar bahwa dia beristirahat terlalu lama. Dunia kampus sudah asing baginya. Materi kuliah apa lagi. Tapi dia tidak menyerah. Satu hal yang dia pelajari dari kondisi itu

Butuh keberanian besar untuk kembali kepada sesuatu yang telah lama kau tinggalkan. Bukan sesuatu itu yang membuatmu merasa berbeda, tapi kamulah yang tertinggal.

Dan si Mungil sangat merasakan sakitnya tertinggal. Biasanya dia tidak pernah menyalahi aturan. Patuh terhadap apa yang ada di lingkungannya. Tapi untuk urusan lulus ini, dia berani mengambil keputusan untuk berhenti selama 5 bulan dari skripsinya. Satu hal yang sangat tidak biasa dia lakukan dan dia merasakan sakitnya ketertinggalan. Dengan sekuat tenaga dia mengejar. Masih optimis akan sampai pada target yang telah ditentukan. Tapi Allah mempunyai jalur lain untuknya.

Dipertemukan dia dengan pembimbing yang sibuk dan banyak sekali kegiatan. Dia pun kewalahan dalam menjalin komunikasi dengan pembimbingnya. Hingga dia tiba pada satu palung introspeksi. KENAPA?? jika dilihat nilai akademiknya tidak jelek, dan usahanya sudah dia maksimalkan. Tapi kenapa bab dalam skripsinya tidak juga mengalami kemajuan? Satu jawaban menghantarkannya pada sedikit kelegaan dalam hatinya. Besyukur Allah memberikan petunjuk terhadap permasalahan yang ada pada dirinya.

sombong

ya… itulah yang membuatnya terpuruk. Dia sombong karena sudah memplanning hidupnya dengan rapi. Dia sombong karena merasa punya percaya diri dan semangat yang sangat keras. Dia yakin bisa berkomunikasi dengan mudah kepada pembimbingnya, tapi dia lupa bahwa ada Dzat yang Maha Besar di atas sana. Dia lupa mengingat rabb nya ketika dia berucap sesuatu sebagai bentuk keoptimisannya. Dia lupa meminta kepada yang empunya segala. Sebuah keyakinan dan keoptimisan yang sangat tipis beririsan dengan kesombongan.

Padahal Allah sangat membenci hambaNya yang sombong. Dia mendapat sebuah hikmah besar yang harus ditukar dengan lambatnya waktu berlalu. Dia mulai merubahnya. NIat awal mengerjakan skripsi adalah agar bisa memenuhi hak kedua orang tuanya dan menggugurkan kewajibannya. Namun di balik itu semua ada 1 hal yang sangat penting dan menjadi akar dari segala macam bentuk ibadah kepada sang khalik. Akhirnya dia mengubah niatnya. Bukan lagi untuk memenuhi hak kedua orang tuanya melainkan untuk mendapat ridho dari Allah, Rabb yang Maha Perkasa. Ridho itu di dapat dengan media kedua orang tua. Jika orang tua ridho karena kebahagiaannya melihat anak yang dibanggakannya menjadi sarjana, maka pada saat yang bersamaan pula Allah ridho terhadapnya.

Hak Allah bahwa tidaklah sesuatu di dunia itu sombong elainkan Allah merendahkannya (HR Bukhari)

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong (QS. Al Isra : 37)

 

Iklan